BUDAYA POLITIK : Pengertian, Menurut Para Ahli, Ciri-Ciri [LENGKAP]

BUDAYA POLITIK : Pengertian, Menurut Para Ahli, Ciri-Ciri [LENGKAP]

Budaya politik –  adalah pola perilaku suatu masyarakat dalam kehidupan yang bernegara, penyelenggaraan administrasi negara, politik pemerintahan, hukum, norma kebiasaan yang dihayati oleh seluruh anggota masyarakat setiap harinya.

Pengertian Budaya Politik

Budaya Politik
Budaya Politik

Pengertian budaya politik adalah pola perilaku suatu masyarakat dan orientasinya terhadap kehidupan berpolitik, baik itu penyelenggaraan administrasi negara, politik pemerintahan, hukum, adat istiadat, dan norma kebiasaan yang dijiwai setiap individu di dalam masyarakat sehari-hari.

Ada juga yang menyebutkan bahwa budaya politik adalah pemahaman masyarakat di suatu negara yang diwujudkan dalam pola sikap terhadap peristiwa politik yang terjadi. Jadi, pengertian budaya politikadalah nilai-nilai yang berkembang dan diaplikasikan oleh masyarakat tertentu dalam berpolitik.

Budaya politik yang berkembang dalam suatu negara dilatarbelakangi oleh beberapa soal, seperti situasi, kondisi, dan pendidikan masyarakat. Latar belakang tersebut tentunya terjadi di sekeliling pelaku politik. Mereka diduga mempunyai kewenangan dan kekuasaan dalam membuat kebijakan. Dengan begitu, budaya politik yang berkembang dalam masyarakat suatu Negara akan mengalami perubahan dari waktu ke waktu.

Untuk memahami mengenai budaya politik, terlebih dahulu harus dimengerti tentang pengertian budaya dan politik. Budaya berasal dari bahasa Sanskerta yakni budhayah, bentuk jamak dari budhi yang memiliki arti akal. Dengan begitu, budaya diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan akal atau budi. Budaya adalah segala yang dihasilkan oleh manusia berdasarkan kesanggupan akalnya. Budaya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1) Bisa dipelajari,

2) Bisa diwariskan dan diteruskan,

3) Hidup dalam masyarakat,

4) Dikembangkan dan berubah,

5) Terintegrasi.

Politik sudah menyentuh semua tatanan masyarakat sehingga mempengaruhi sikap dan tingkah laku masyarakat tersebut. Menurut Amind dan Powel, ada beberapa hal yang termasuk di dalam ruang lingkup politik, yakni:

  • Cara pandang masyarakat terhadap politik yang diperoleh dari pengetahuan yang luas dan sempit.
  • Tujuan masyarakat terhadap politik yang dipengaruhi oleh keterikatan, keterlibatan, dan penolakan.
  • Tujuan yang sifatnya menilai objek dalam peristiwa politik.

Budaya Politik Menurut Para Ahli

Budaya Politik
Budaya Politik

Agar lebih mengerti apa arti budaya politik (political culture), maka kita bisa merujuk pada pendapat para ahli dan tokoh berikut ini:

  1. Alan R. Ball

Alan R. Ball menyatakan bahwa, pengertian political culture adalah suatu susunan yang terdiri dari sikap, kepercayaan, emosi, dan nilai-nilai masyarakat yang berkaitan dengan sistem politik dan isu-isu politik.

  1. Austin Ranney

Austin Ranney menyatakan bahwa, Political culture adalah seperangkat pandangan-pandangan tentang politik dan pemerintahan yang dipegang secara bersama-sama; sebuah pola oreintasi-orientasi terhadap objek-objek politik.

  1. Robert Dahl

Albert Widjaja menyatakan bahwa, Political culture adalah aspek politik dari sistem nilai-nilai yang terdiri dari ide, pengetahuan, adat istiadat, tahayul dan mitos yang dikenal dan diakui sebagain besar masyarakat. Budaya ini lalu, memberi rasional untuk menolak atau menerima nilai-nilai dan norma lain.

  1. Moctar Massoed

Moctar Massoed menyatakan bahwa, pengertian budaya politik adalah sikap dan orientasi masyarakat di suatu negara terhadap kehidupan pemerintahan negara dan politiknya.

  1. Miriam Budiardjo

Budiardji menyatakan bahwa, budaya politik adalah keseluruhan dari pandangan-pandangan politik, seperti norma-norma, pola-pola orientasi terhadap politik dan pandangan hidup pada umumnya.

Hakikat Budaya Politik

Budaya Politik
Budaya Politik

Budaya politik merupakan bagian dari kehidupan politik. Budaya politik hanyalah dilihat sebagai kondisi-kondisi yang mewarnai corak kehidupan masyarakat tanpa mempunyai hubungan dengan sistem politik dan struktur politik. Dalam pandangan tersebut, budaya politik mengakibatkan dalam proses-proses politik.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa mengetahui berbagai macam peristiwa politik. Terlebih, beberapa di antaranya menjadi bahan perbicangan hangat dan menarik. Salah satunya adalah penyelesaian masalah Bank Century. Hampir setiap hari, kita bisa menyaksikan melalui layar televisi rapat Pansus Century di Gedung DPR. Penyelesian kasus Bank Century melewati jalur politik menjadi topik yang hangat dan menarik untuk diikuti. Kita bisa mengetahui kinerja para wakil rakyat dalam menyelesaikan kasus yang cukup menghebohkan tersebut.

Dari peristiwa politik yang tersaji melalui media massa, masyarakat dapat memberikan pendapat, mendapatkan tambahan pemahaman dan pengetahuan cara kerja anggota dewan, dapat menilai kesungguhan para wakil rakyatnya, dan menunjukkan sikap dan perasaan tertentu. Pendapat, pemahaman, pengetahuan, sikap dan perasaan tersebut merupakan gambaran budaya politik masyarakat.

Konsep Budaya Politik

Budaya Politik
Budaya Politik

Konsep budaya politik berpusat pada pikiran dan perasaan yang membentuk aspirasi, harapan, preferensi, dan prioritas tertentu dalam menghadapi tantangan yang ditampakkan oleh perubahan sosial politik. Masyarakat Indonesia secara sosiokultural memiliki pola budaya politik dengan elemen yang pada prinsipnya bersifat dualistis, yang berhubungan dengan tiga hal, yaitu:

1) Dualisme kebudayaan yang mengutamakan keharmonisan dengan kebudayaan yang mementingkan kedinamisan (konfl iktual). Dualisme ini dapat dilihat dalam interaksi kebudayaan yang dipengaruhi oleh nilai-nilai Jawa dengan kebudayaan yang dipengaruhi oleh kebudayaan luar Jawa, terutama Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Sulawesi.

2) Dualisme antara budaya dan tradisi yang mementingkan keleluasaan dengan yang mengutamakan keterbatasan. Hal ini merupakan pengaruh kemanunggalan militer-sipil dalam proses sosial politik mulai Proklamasi sampai dengan Orde Baru.

3) Dualisme terkait masuknya nilai-nilai Barat ke dalam masyarakat Indonesia.

Ciri-Ciri Budaya Politik

Budaya Politik
Budaya Politik

Political culture di suatu negara bisa dikenali dengan memperhatikan karakteristiknya. Secara umum, ciri-ciri budaya politik adalah sebagai berikut:

  • Terdapat unsur pengaturan kekuasaan di pemerintahan, baik itu di pusat maupun di daerah-daerah.
  • Terdapat proses pembuatan kebijakan oleh pemerintah.
  • Pola perilaku para pejabat dan aparat pemerintah suatu negara.
  • Terdapat beberapa partai politik dan segala kegiatannya di masyarakat.
  • Tidak jarang ada gejolak di masyarakat dalam menanggapi kekuasaan pemerintah.
  • Terdapat political culture terlibat masalah legitimasi.

(BACA JUGA : Pengertian Budaya)

Tipe-Tipe Budaya Politik

Budaya Politik
Budaya Politik

Masyarakat Indonesia telah mengalami banyak hal dalam bidang politik. Menurut Rusadi Kantaprawira, ada 3 macam Budaya Politik yang ada di Indonesia, yaitu:

  1. Budaya Politik Parokial

Budaya politik parokial biasanya terdapat pada sistem politik tradisional dan sederhana dengan memiliki ciri khas spesialisasi masih sangat kecil. Dengan demikian, pelaku-pelaku politik belum mempunyai pengkhususan tugas. Masyarakat dengan budaya parokial tidak mengharapkan apa pun dari sistem politik termasuk melaksanakan perubahan-perubahan.

Selain itu, di Indonesia, unsur-unsur budaya lokal masih sangat merekat pada masyarakat tradisional atau masyarakat pedalaman. Tradisi, tata nilai, dan unsur-unsur adat lebih banyak dipegang teguh daripada persoalan pembagian peran politik. Pemimpin adat atau kepala suku yang notabene adalah pemimpin politik, bisa berfungsi pula sebagai pemimpin agama atau pemimpin sosial masyarakat demi kepentingan-kepentingan ekonomi.

Ciri-ciri budaya politik parokial adalah sebagai berikut.

  • Budaya politik ini berjalan dalam masyarakat yang masih tradisional dan sederhana.
  • Belum terlihat peran-peran politik yang khusus; peran politik dilaksanakan serempak bersamaan dengan peran ekonomi, keagamaan, dan lain-lain.
  • Kesadaran anggota masyarakat akan terdapat pusat kewenangan atau kekuasaan dalam masyarakatnya cenderung rendah.
  • Warga cenderung tidak melekatkan minatnya terhadap objek-objek politik yang luas, kecuali yang ada di sekitarnya.
  • Warga tidak banyak berharap atau tidak mempunyai harapan-harapan tertentu dari sistem politik tempat ia berada.

Contoh budaya politik parokial pada kehidupan sehari-hari :

Setelah memahami pengertiannya secara singkat sekarang kita akan mengetahui apa saja contohnya budaya politik parokial di dalam kehidupan sehari-hari yang harus kita ketahui. Berikut ini adalah contohnya :

  • Tidak mengikuti pemilu / golput

`Tidak ikut serta dalam pemilu atau melakukan golput di setiap pemilihan. Ini sama saja masuk kategori budaya politik parokial karena tidak ikut serta dalam politik meskipun hanya secara pasif.

  • Tidak peduli pada politik

Seperti yang telah kita bahas diatas tadi, budaya politik parokial adalah budaya politik yang dimana masyarakatnya masih segan memahami politik. Salah satunya adalah tidak pernah peduli pada keadaan politik di negerinya sendiri, entah apa yang terjadi pada politik di negerinya mereka tidak akan ikut campur dan tidak akan ber pada siapapun.

  • Tidak peduli dengan kepentingan bangsa dan negara

Yang selanjutnya adalah mereka tidak peduli dengan adanya kepentingan bangsa dan negara, akan tetapi hanya mementingkan kepentingan daerahnya sendiri saja.

  • Masyarakat pedalaman yang tidak mengetahui pemimpin

Karena minimnya fasilitas yang ada, masyarakat pedalaman mungkin saja tak tahu siapa pemimpin mereka seperti Presiden, dan lain-lainnya yang berhubungan dengan politik. Ini merupakan salah satu pengertian dari budaya politik parokial dimana masyarakatnya masih sederhana dan tradisional.

  1. Budaya Politik Kaula

Menurut Mochtar Masoed dan Colin Mac Andrews (2000), budaya politik kaula/subjek menunjuk pada orang-orang yang secara pasif patuh pada pejabat-pejabat pemerintahan dan undang-undang, namun tidak melibatkan diri dalam politik atau pun memberikan suara dalam pemilihan.

Budaya politik kaula/subjek mempunyai frekuensi yang tinggi terhadap sistem politiknya. Akan tetapi, perhatian dan intensitas orientasi mereka terhadap aspek masukan dan partisipasinya dalam aspek keluaran sangat rendah. Hal ini menunjukkan bahwa telah adanya otoritas dari pemerintah. Posisi kaula/subjek tidak ikut serta menentukan apa-apa pada perubahan politik. Masyarakat menganggapi bahwa dirinya adalah subjek yang tidak berdaya untuk memengaruhi atau mengubah sistem.

Dengan demikian, secara umum mereka menerima segala keputusan dan kebijaksanaan yang diputuskan oleh pejabat yang berwenang dalam masyarakat. Bahkan, rakyat mempunyai keyakinan bahwa apa pun keputusan/ kebijakan pejabat adalah mutlak, tidak bisa diubah-ubah atau dikoreksi, apalagi ditentang. Prinsip yang dipegang adalah mematuhi amanat, menerima, loyal, dan setia terhadap anjuran, perintah, serta kebijakan penguasa.

Berikut ini adalah ciri-ciri budaya politik kaula

  • Masyarakat sadar dengan kebijakan politik tetapi pasif.
  • Masyarakat cenderung tidak peduli dengan keberadaan sistem politik, padalah mereka sadar akan pentingnya berperan aktif dalam kegiatan politik tersebut
  • Masyarakat memiliki pemahaman tentang apa yang terjadi mengenai sistem politik
  • Masyarakat yang mematuhi budaya politik kaula biasanya masyarakat modern yang sudah mengenal peradaban luar.
  • Kesadaran masyarakat dengan adanya kewenangan pemerintah atau kekuasaan dalam masyarakatnya cukup tinggi.
  • Masyarakat tidak mempunyai semangat untuk mematuhi budaya politik partisipan.
  • Masyarakat secara umum patuh dan menerima secara loyal kepada kebijakan pemerintah serta kebijakan pimpinannya.
  • Masyarakat mengikuti perkembangan berita-berita terkini mengenai suasana politik yang ada, akan tetapi mereka tetap tak peduli dalam menaggapi kondisi tersebut.
  • Masyarakat sadar terhadap otoritas pemerintah.
  • Demokrasi akan sulit berkembang di kalanga masyarakat yang mematuhi budaya politik kaula karena warganya tidak berperan aktif dalam kegiatan politik dinegaranya.

Contoh Budaya Polotik Kaula

  • Tidak sadar dalam politik

Mayarakat memang sudah mengerti dan memahami apa itu politik dengan baik dan benar, akan tetapi mereka masih tidak sadar dengan keberadaan politik.

  • Tidak mengikuti pemilu / golput

Contoh yang kedua adalah masyarakat tidak ikut serta dalam pemilihan pemilu atau golput. Jika mungkin masyarakat sudah paham artian mengenai politik, namun mereka enggan untuk mengikutinya walau hanya secara pasif.

  • Tidak berpartisipasi langsung dalam politik

Tidak hanya berpartisipasi secara pasif saja, akan tetapi masyarakat budaya politik subjek ini juga tak akan berpartisipasi dalam politik secara langsung. Mereka tahu dan paham, namun tak akan terpaut secara langsung seperti mencalonkan diri sebagai anggota DPR, walikota, dan lain-lain.

  • Tidak berani menyampaikan pendapat mengenai politik

Contoh yang selanjutnya adalah masyarakat secara sadar tahu apa itu politik, akan tetapi mereka tidak berani untuk mengeluarkan pendapat mereka. Seperti yang telah ketahui pada saat Orde baru dimana masyarakat tidak secara bebas membahas politik bahkan membicarakan Presiden dan keluarganya saat itu.

  1. Budaya Politik Partisipan

Menurut pendapat Almond dan Verba (1966), budaya politik partisipan adalah suatu bentuk budaya yang memegang prinsip bahwa anggota masyarakat diorientasikan secara eksplisit terhadap sistem sebagai keseluruhan dan terhadap struktur dan proses politik serta administratif.

Dalam budaya politik partisipan, orientasi politik warga terhadap keseluruhan objek politik, baik umum, input dan output, maupun pribadinya bisa dikatakan tinggi.

Ciri-ciri dari budaya politik partisipan adalah sebagai berikut.

  • Warga menyadari akan hak dan tanggung jawabnya dan dapat mempergunakan hak itu serta menanggung kewajibannya.
  • Warga tidak menerima begitu saja keadaan, tunduk pada keadaan, berdisiplin tetapi mampu menilai dengan penuh kesadaran semua objek politik, baik keseluruhan, input, output maupun posisi dirinya sendiri.
  • Anggota masyarakat sangat partisipatif pada semua objek politik, baik menerima maupun menolak suatu objek politik.
  • Masyarakat menyadari bahwa ia adalah warga negara yang aktif dan ikut serta sebagai aktivis.
  • Kehidupan politik ini dianggap sebagai sarana transaksi, seperti halnya penjual dan pembeli. Warga dapat menerima berdasarkan kesadaran, tetapi juga dapat menolak berdasarkan penilaiannya sendiri.

Contoh budaya politik partisipan pada kehidupan sehari-hari :

Setelah mengetahui apa pengertian atau penjelasan secara singkat tentang budaya politik partisipan maka saatnya kita tahu apa saja contohnya dari budaya politik yang satu ini. Berikut adalah beberapa contoh budayanya :

  1. Dalam lingkup politik

Karena budaya partisipan ini juga sudah luas, maka cangkupannya juga banyak, kami akan membahas dalam lingkup politik terlebih dahulu. Berikut adalah contohnya dalam lingkup politik :

  • Mengikuti pemilu

Bagi umurnya yang sudah cukup yaitu 17 tahun, maka mereka akan mengikuti pemilu untuk memilih pemimpin baru. Ini merupakan salah satu budaya partisipan dimana ikut serta dalam politik meski secara pasif dan tidak golput.

  • Aktif dalam kegiatan politik

Yang kedua adalah aktif dalam kegiatan politik seperti, contohnya mendukung salah satu calon pemimpin dengan mengikuti kampanye dan mungkin menjadi simpatisan.

  • Mengikuti demo untuk menunjukkan aspirasi

Contoh yang ketiga adalah dengan cara mengikuti demo saat ingin menunjukkan aspirasinya kepada pemerintah.

  • Ikut terjun langsung dalam politik

Masyarakat budaya politik partisipan ini akan ikut langsung atau secara aktif ikut serta dalam bidang politik. Mereka akan mencalonkan diri sebagai pemimpin, ikut serta dalam partai politik, bergabung dengan ormas tertentu atau lembaga swadaya masyarakat dan ikut serta dalam pesta politik.

  1. Dalam lingkup lingkungan sekolah

Tidak hanya dalam bidang politik saja, akan tetapi budaya politik partisipan ini juga dapat diterapkan di dalam lingkungan sekolah. Berikut ini adalah contohnya dalam lingkup sekolah :

  • Ikut serta dalam pencalonan ketua OSIS dan wakil ketua OSIS

Siswa yang antusias dalam pencalonan ketua OSIS dan wakil ketua OSIS di sekolah mereka. Karena sama saja dengan mencalonkan sebagai pemimpin di sekolah dan itu tergolong budaya politik partisipan.

  • Memilih dalam pemilihan ketua OSIS dan wakilnya

Tidak hanya yang mencalonkan diri saja, akan tetapi siswa yang hanya memilih ketua OSIS dan wakilnya juga masuk ke dalam contoh karena juga ikut serta walaupun secara pasif.

  • Mengikuti diskusi atau musyawarah di sekolah

Tidak hanya itu saja, akan tetapi siswa yang mengikuti diskusi ataupun musyawarah di sekolah misalnya seperti mengikuti rapat osis juga turut serta aktif seperti budaya politik partisipan.

  1. Dalam lingkup lingkungan keluarga

Siapa kira dalam lingkup masyarakat terkecil seperti keluarga juga ada penerapan budaya politik partisipan. Berikut ini adalah contoh budaya politik partisipan di dalam lingkup keluarga :

  • Melakukan musyawarah mufakat untuk menyelesaikan suatu masalah

Bisa jadi kita semua masih tidak sadar atau bahkan tidak tahu, akan tetapi budaya politik partisipan ini ternyata juga diterapkan di dalam lingkup keluarga sekalipun. Salah satu contohnya adalah dengan melakukan musyawarah mufakat saat menyelesaikan suatu masalah atau mengambil sebuah keputusan. Dimana semua anggota keluarga akan bermusyawarah secara adil dan merata sehingga jelas tujuannya.

  • Mendengar nasehat orangtua

Tidak hanya musyawarah mufakat saja, akan tetapi salah satu penerapan budaya politik atau contohnya dalam lingkup keluarga juga berarti mendengarkan nasehat orangtua kita dengan baik. Tidak hanya mendengarkannya saja, namun kita juga harus menerapkan apa yang mereka katakan atau nasehatkan kepada kita semua.

  1. Dalam lingkup lingkungan masyarakat

Setelah mengulas lingkup politik, sekolah, dan keluarga sekarang saatnya kita membahas budaya politik dalam lingkup masyarakat atau warga. Berikut ini adalah beberapa contohnya yang dapat kita pahami di dalam lingkup warga atau masyarakat :

  • Ikut serta aktif dalam pemilihan ketua RT RW

Yang pertama adalah masyarakat yang ikut serta dalam pemilihan ketua RT dan RW yang berada di daerah setempat. Sehingga kepemimpinan di daerahnya dapat berjalan dengan baik dan jelas.

  • Ikut rapat atau musyawarah mufakat

Contoh yang kedua yakni ikut rapat atau musyawarah mufakat secara aktif yang diselenggarakan oleh ketua RT setempat. Contohnya ketika diadakan rapat desa, masyarakat wajib untuk mengikuti rapat desa itu dan wajib untuk memberikan aspirasi atau idenya pada saat rapat atau musyawarah itu berlangsung. Kita juga harus mengetahui apa manfaat dari usyawarah dalam kehidupan kita.

  • Aktif dalam kegiatan bersih desa

Tidak cuma itu saja, masyarakat dalam budaya politik partisipan ini juga harus aktif dalam kegiatan bersih desa atau gotong royong yang ada di desanya karena itu merupakan salah satu contoh jika masyarakat mempraktikkan sistem budaya politik partisipan di desa atau lingkup masyarakat.

  • Aktif dalam pemilihan ketua karang taruna

Yang terakhir adalah masyarakat atau pemuda yang aktif dalam pemilihan ketua karang taruna di daerah tempatnya.

Nah, itulah penjelasan mengenai Budaya Politik yang perlu Anda ketahui. Semoga artikel ini dapa menambah wawasan Anda khususnya saya sendiri.

 

Budaya Politik

 

Leave a Comment