Cerpen Tentang Cinta Yang Paling Bagus Diungkapkan [REKOMENDED]

Cerpen Tentang Cinta Yang Paling Bagus Diungkapkan [REKOMENDED]

Cerpen Tentang Cinta – Kali ini kita akan membahas tentang beberapa Contoh Cerpen Tentang Cinta yang paling bagus untuk diungkapkan dan juga bisa kalian jadikan sebagai referensi serta bisa kailan gunakan untuk tugas kalia. Okee, langsung saja kita simak artikel ini dengan seksama!

Kumpulan Cerpen Tentang Cinta

Cerpen Tentang Cinta
Cerpen Tentang Cinta

Dibawah ini adalah beberapa Contoh Cerpen Tentang Cinta , antara lain :

Rindu Yang Menyatukan

Cerpen Karangan: Zulfa Meriza
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 24 June 2019

Gitar itu terus dimainkan olehnya, dengan sedikit gerakan mengikuti alunan musik yang berbunyi. Ini sudah beberapa kali ia mainkan, ketika musik itu mengingatkan dengan seseorang. Dia sebenarnya bukan tipe yang penyendiri, melainkan sebaliknya. Tapi kali ini dia pergi ke suatu tempat di sebuah taman yang tak jauh dari pusat kota. Selalu gitar itu mendampingi kemanapun dia pergi, ya dia adalah seorang gitaris. Setelah memainkan musik itu, selalu teringat olehnya akan seseorang yang kadang masuk ke dalam pikirannya. Ke mana dia? Sedang apa dia? Adakah seseorang di sampingnya sekarang? Dia terus penasaran dengan seseorang itu yang sudah cukup lama tak mendengar kabar darinya. Tempat atau taman ini sudah keempat kalinya dia kunjungi, menyendiri dan menikmati kesendirian sambil memainkan gitarnya. Ini semua terjadi ketika semakin lama dia merasa kehilangan akan seseorang itu, mungkin benar diluar terlihat baik-baik dan bahagia saja, tetapi di hatinya terdalam ada sesuatu yang rasanya tertahan sendiri dan dihadapi sendiri. Satu kata yang selalu dia katakan “aku rindu dia”.

Sudah kurang lebih 8 bulan Disa bekerja sebagai manajer di Kafe ini. Setelah mencoba melamar kesana kemari untuk mendapatkan pekerjaan ketika dia menyelesaikan sarjananya. Namun dia memilih untuk mengisi pengalaman di sini sambil membantu usaha temannya sendiri. Sebenarnya dia tidak begitu mengingkan pekerjaan ini, hanya saja mengisi pengalaman sampai mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan atau perbankan yang ia impikan selama ini. Kafe ini cukup besar dan terkenal di kota ini, ya kafe ini kebanyakan dikunjungi oleh anak sekolahan, mahasiswa dan sesekali orang kantoran dan keluarga. Sebagai manajer di kafe ini Disa cukup menikmati pekerjaanya, dan mulai bisa mempelajari berbagai hal sebagai seorang manajer. Dan sedikit karakternya mulai lebih baik, Disa pun sudah cukup berubah dibanding dengan sebelumnya, lebih dewasa, tegas, dan juga menjiwai sebagai seorang manajer di sana. Tetapi tetap tidak terlepas dari sikap aslinya yang sedikit pendiam dan juga cuek. Hobinya di dunia menulis juga tidak hilang karena itu juga yang mengisi kekosongan harinya dengan sesekali mempost di web.

“hey dis, masih sibuk aja lo nulis?” seorang karyawan dan juga sahabatnya di kafe itu bertanya sambil memberikan makanan ringan pada Disa yang asyik mengetik di ruanganya.
“eh lo, iya sih. Kayak gak tau kebiasaan gue aja. Lo bikin apa sih?” sambil melihat ke mangkuk yang berisi makanan.
“ini gue bikinin cemilan kentang buat manajer gue, jangan liat bentuknya. Tapi ini enak lo” menyodorkan mangkok yang berisi cemilan.
“makasih yaa” jawab Disa.

“dis, gue mau nanya deh sama lo, siapa sih cowok yang lo ceritan di cerpen lo. Gue sesekali baca juga kali cerpen yang lo terbitin. Dan rata-rata ceritanya mengarah ke cowok pemusik gitu dengan seorang cewek yang sangat merindukan dia. Gue berkesimpulan itu lebih ke curhat sama cerita lo sendiri deh, gue benar kan ya?” tanya Fika sambil penasaran.
“hmm anggap aja iya ya, udah ah gue ke luar dulu ngeliat kondisi kafe pada baik baik aja ato gak ya, soalnya salah satu karyawan di sini sibuk kepoin manajernya” jawab Disa sambil mengejek Fika.
“iihh, apaan sih lo. Gue kayak gini care kali. Ntar gue buktiin sendiri kalo omongan gue bener ibuk manajer, byeee” balas Fika dengan meninggalkan ruangan itu terlebih dahulu.
“terserah lo deh sahabat kepooo gueee” jawab Disa.

Hari ini Disa tidak pergi ke Kafe tempat biasa ia bekerja, memilih izin untuk libur sehari dan menyibukkan waktu dengan diri sendiri. Setelah mengunci kamar kosan, Disa segera berjalan di sekitar komplek menuju keluar di dekat jalan raya. Cuaca memang sangat mendukung tidak begitu terik dan juga tidak terlihat mendung. Sebuah taman menjadi pilihannya, memilih duduk di sebuah pojok taman yang mengarah ke jalan raya, mengambil Handphone dan Headset dan lagi musik itu kembali ia dengarkan. Sebuah musik yang sangat ia sukai, terlebih musik itu dimainkan oleh seseorang dan mengirimkannya waktu itu. musik yang tenang dan membuat seakan terlarut dalam kerinduan yang dalam. Disa bukan berhenti atau melupakan seseorang itu, melainkan seiring perjalanan hidupnya orang itu juga ikut bersama bayangan dan pikirannya. Dia selalu ingat terakhir berhubungan dengan seseorang itu, seseorang yang selama ini ia anggap sebagai kakaknya sendiri. Terakhir itu semua baik-baik saja, tanpa ada permasalahan, tanpa ada kata perpisahan. Namun semua berakhir begitu saja. Seakan keduanya saling menghilang tak berkabar. Ya memang satu keinginan Disa, lebih baik dia pergi dan menghilang karena capek dengan keadaan saat itu. karena saat itu juga Disa sedang dihadapkan oleh sebuah permasalahan, dia memilih menjauh dari semuanya. Tapi siapa yang menyangka, semua yang terjadi saat itu membuat keduanya merasakan kehilangan yang sangat dalam hingga keduanya hanya bisa menyampaikan rasa rindu itu bersama hobi kesayangannya yaitu alunan musik gitar dan melalui tulisan.

“Hey, aku sangat rindu” kata itu tertulis lagi di sebuah diary kecil yang selalu di bawa Disa kemanapun dia pergi. Memang tidak ada hubungan yang terjalin diantara mereka berdua, tetapi seakan ada sebuah catatan takdir yang terjadi buat mereka, dimana semua itu membuat keduanya tak saling mengerti dengan apa yang telah terjadi, yang mereka tahu mereka saling membutuhkan, seakan hatinya saling terikat satu sama lain. Bahkan sampai saat ini, tak satupun yang membuka hati pada yang lain. Disa sudah beberapa kali dipertemukan dengan seorang cowok oleh sahabatnya, tetapi apa tak satupun yang masuk kedalam hatinya. Selalu seseorang itu yang masih tersimpan kuat di hatinya. Sekarang dimana dia? Apa kabarnya? Bolehkah aku bertemu dengannya lagi? Aku Rindu. Selalu itu yang muncul di hati dan pikirannya.

Tiba-tiba Handphone Disa berdering, segera ia mengangkatnya.
“Halo”
“Halo, Dis lo dimana? Ke kafe dong. Lagi rame banget ni, ada yang mau ketemu manajernya juga katanya mau apa gitu.” Ungkap Fika dengan suara terburu-buru.
“iya yah? Gue lagi me time nih di taman”
“besok-besok aja deh me time lo kenapa. Buruan ke kafe, ada yang mau ketemu lo”
“iya ihh, jutek amat sih lo. 15 menit gue nyampe bilang tu ke orang” jawab Disa dengan nada sedikit kesal.
“cepet lo ya”
“iyaaa, byee” Disa pun menutup panggilannya dan segera naik Bus menuju kafe.

Dari gerbang kafe memang sudah dipenuhi oleh kendaraan dari pengunjung Kafe. Disa berjalan sedikit cepat setelah turun dari bus. Memang di hari weekend kafe ini selalu dipenuhi oleh pengunjung. Ternyata hari ini rame banget, ya ada yang ngerayain pesta ulang tahun juga. Dari meja kasir Fika melambaikan tangan memanggil Disa. Disa berjalan kearah sana. Juga sudah ada berdiri beberapa orang cowok dengan penampilan seperti pemusik. Fika menjelaskan maksud kedatangan mereka ke sini, ternyata mereka ingin membuat perjanjian untuk bermain akustik sabtu malam minggu depan di Kafe ini. Ini bukan pertama kalinya kafe memberikan hiburan akustik tiap malam minggu. Tapi baru kali ini Disa menemukan orang yang mau main akustik tanpa dia mencari sendiri terlebih dahulu di kafe ini.

“oo gitu, kebetulan kita belum ada jadwal sama yang lain buat sabtu malam besok sih.” Jawab Disa setelah bernegosiasi dengan mereka.
“kalo gitu berarti ini udah fix ya kita bakal ngisi akustik di sini” jawab salah seorang dari mereka.
“yap, makasih ya sebelumnya.” Balas Disa sambil bersalaman dengan mereka.

Disa memang sedikit bingung baru kali ini ada yang mau akustikan tanpa harus dia cari sendiri dulu, tapi baguslah mungkin karena kafe ini sudah cukup terkenal makanya orang-orang sudah pada tau dan berinisiatif ingin tampil di sini tanpa diminta dulu. Disa menuju ruangannya, dan beristirahat sejenak disusul dengan Fika yang sudah menyiapkan makan siang di meja Disa, mereka kembali saling berbagi cerita.

Seminggu kemudian, sore harinya Disa bersama karyawan di kafe itu menyiapkan tempat untuk akustik nanti malam. Mendesain kafe dan merapikan meja membuatnya mengarah ke atas panggung akustik. Beberapa dari mereka yang mau tampil nanti malam sudah berdatangan, menyiapkan peralatan dan juga cek sound. Setelah semua disiapkan, Disa izin untuk pulang kepada Fika sebentar.

“Fik, gue izin pulang bentar ya. Mau ganti baju.”
“ya udah deh, jam 7 teng lo harus stay disini ya. Liat tu pengunjung udah rame dari sore gini. Lo tau gak Dis? Mereka yang akustik ntar malam, band yang terkenal lo. Makanya pengunjung juga rame.”
“masa?” ungkap Disa tak percaya.
“Iya, gue baru tau pas liat sosmed”
“Iya deh, gue cabut bentar ya.”

Disa pun mandi dan shalat. Segera setelah itu dia memakai pakainnya dan kembali ke kafe. Penasaran sehebat dan seterkenal apa band yang baru pertama kali tampil di kafenya. Memang rame sekali pengunjung bahkan sampai penuh di bagian luar kafe. Disa memasuki kafe sambil melihat tersenyum ke arah pengunjung. Dari jarak beberapa meter, panggung akustik terlihat sudah dihidupkan oleh musik yang dimainkan. Pengunjung menikmati alunan musik yang dimainkan.

“Dis, lo telat ya. Jam 8 baru nyampe.” Fika mengungkapkan kekesalanya.
“maaf ya cantik, gue tadi beresin kosan dulu nanggung habis sholat isya aja gue kesini. Eh iya, lo bener ya, pengunjung rame banget, bentar gue ke ruangan naruh tas”
“iya terserah lo deh, ntar sini lagi ya.”

Disa duduk sesaat di ruanganya sambil mengecek penjualan hari ini. Saat dia baru saja berdiri dari duduknya. Disa kaget, musik itu, mengingatkannya akan seseorang. Ya itu lagu kesukaanya. Lagu ini jadi lagu pembuka malam ini. Tapi, ini sangat aneh, lagu yang dimainkan itu persis dengan apa yang selalu ia dengar dari seseorang. Disa beralih dari ruangannya menuju ruang kafe. Berjalan sedikit lambat sambil menatap panggung akustik, Disa dipenuhi rasa penasaran dengan musik yang dimainkan dan seseorang yang sedang memegang gitar itu. berjalan lebih dekat menuju panggung. Semua tampak jelas sekarang, seseorang itu dia, Disa kaget dan tak percaya.

“apa???!!” Disa segera membalikkan badannya.
“lo kenapa? Kok kaget gitu dis?” Fika langsung menarik Disa.
“fik-fikk itu, itu” sambil terbata-bata.
“apa sih? Lo kenal sama yang main di panggung itu?”
“it-ttu dia Fikaaaa”
“Siapa sih Dis, eh lo kok nangis?”

Tiba-tiba seseorang di panggung itu, berbicara dan menarik perhatian semua pengunjung.
“malam semuanya, lagu barusan lagu kesukaan seseorang. Lagu itu selalu gue mainkan ketika gue sangat rindu dengan dia. Ya, memang waktu itu gue selalu memainkan lagu ini untuk dia, tetapi sekarang gue gak tau lagi dimana dan kabar dia. Gue Cuma mau bilang, gue sangat rindu dia, gak sedikitpun gue bisa lupain dia, lagu ini gue persembahkan khusus untuk dia, orang yang sangat gue rindukan, Disa” ungkap seseorang itu sambil kembali melanjutkan tampilannya. Disa kaget sekali dan kembali berbalik menatap seseorang itu.
“hay, gue di sini” jawab Disa di dalam hati sambil menangis menatapnya. Dibalas dengan senyum haru oleh seseorang di panggung itu.

Ya, ini bukan sebuah kebetulan. Ini terjadi dengan sebuah rencana oleh sahabat-sahabat Disa. mereka sangat sayang dan peduli dengan Disa, sehingga mencari sosok lelaki yang selalu ia rindukan lewat cerpen-cerpen dan curhatan Disa. Diam–diam mereka mencari dan menemukan sosok Deri di sebuah tempat yang gak jauh dari kota itu, menceritakan semua dan berencana untuk membuat sebuah kejutan. Deri sangat kaget bisa bertemu dengan sahabat Disa dan mau membantu dia bertemu dengan Disa kembali, akhirnya ia pun memutuskan untuk tampil di kafe itu. Disa dan Deri sangat terharu malam itu. Ya, memang mereka berpisah belum cukup lama. Tapi rasanya sangat jauh dan lama sekali, sungguh sebuah pertemuan kali ini sangat berarti bagi keduanya. Sebuah rindu yang sangat dalam menjawab semuanya ketika bertemu kembali. Seakan apa yang selama ini dijaga dan tersimpan di dalam hati tidak sia-sia, ternyata mempunyai arti untuk membuat mereka bisa bertahan sampai bertemu kembali. Ya, kali ini keadaan dan kondisi memang sangat mendukung mereka berdua, mungkin memang ini catatan takdirnya. Bahwa semua akan indah pada waktunya. Sekarang Tuhan memberi jawab untuk mereka berdua. Inilah waktunya, mereka berdua akan bersatu dan tak terpisah lagi. Ya melalui sebuah rindu yang menyatukan mereka.

Aku Suka Kamu

Cerpen Karangan: Nazia Nabila
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 May 2019

Ketika cinta yang kita beri pada seseorang, namun dengan gamblangnya dia katakan tidak pada kita, disitulah jati diri kita yang sebenarnya yang akan meluluhkan hati yang beku.

“Ra, liat deh akang itu ganteng banget yah” ucap chintya pada zahra teman barunya di smk negeri 3 sukabumi.
“Yang mana sih?” tanya zahra pada chintya sembari melihat sekitaran taman sekolah.
“Yaelah, itutuh yang lagi jualan cireng” ucap chintya dengan menunjukkan jari tangannya pada seorang lelaki yang tengah melayani pembeli.
“Ohh, kalo itu sih kang anzas namanya, namun menurut aku kang raihan deh yang paling imut” chintya tak mengindahkan kalimat terakhir zahra yang ia simak adalah nama lelaki yang tengah ia perhatikan bernama anzas.
“Anzas?” senyum senangpun terukir pada wajah chintya, ia langsung merogoh handphone yang ada pada saku roknya.

“Kamu lagi ngapain sih chin, kok serius banget sama handphonenya?” tanya zahra
“Ahhh asiikk akhirnya ketemu juga yuhuuu” zahra terkejut karena suara teriakan chintya yang membuat orang-orang yang tengah berlalu lalang di daerah mereka berdua tengah duduk pun memandang chintya sepintas dengan pandangan aneh bercampur heran.

Zahra dan chintya kembali ke kelas 10 tata kecantikan 1 yang berada di rusng teori b3.
Sepulang sekolah zahra menanyai chintya pasal tadi ketika mereka tengah istirahat.
“Ohh ini ra, aku itu nemuin akun medsosnya si kang anzas, aku lokit-lokit dulu yah” chintya tak sempat menyapa zahra karena ayahnya telah berada di gerbang sekolah, hingga di atas motor pun chintya tetap menatapi handphonenya sembari tersenyum kagum.

Keesokan hari di sekolah chintya yang tengah berjalan tak sengaja menabrak seseorang.
“Aduhh, ehh maafin kang aduh makanannya jadi jatoh kang aduh gimana dong” chintya panik karena orang yang ia tabrak adalah lelaki bernama anzas dan yang lebih parah ia menjatuhkan semua cireng yang anzas bawa.
“Aduh teh kalo jalan itu liat-liat dong, jadi dagangan saya jatoh kan nanti siapa yang ganti rugi” anzas marah pada chintya hingga nyali chintya menciut dan tak berani melihat ke arah wajah anzas.

Lama chintya berdiri dan ketika ia mendongakkan kepalanya ia sudah tak melihat anzas di depannya, ia merasa tak enak hati pada kakak kelasnya itu, chintya pun pergi ke dalam kelasnya, sepanjang pembelajaran berlanjut chintya tak bisa fokus ia sedari tadi memikirkan cara untuk meminta maaf pada anzas.

“Chintya, kamu jangan cemberut dong, udah soal kang anzas mending menurut aku kamu nyanyi aja di acara 17 agustusan, kan minggu depan kita ada acara 17an tuh nah ternyata salah satunya ada lomba karaoke, gimana?” saran zahra
“Wahh, bener juga yah ra, kamu paling top deh” ucap chintya.

Hari 17 agustus pun tiba, setelah melaksanakan upacara, chintya mengganti seragamnya dengan gaun yang begitu indah ia akan menyanyikan sebuah lagu afgan yang berjudul jauh, sudah lama chintya mencari lagu yang pas, namun entah kenapa chintya memilih lagu ini.

Saat nama chintya terpanggil, dia juga naik ke atas panggung, dan tepat sekali didepan panggung anzas tengah berdiri dengan kamera digenggamannya, mungkin dia tengah mendokumentasikan acara, karena ia pun salah satu anggota osis.

Alunan lagu itu pun terdengar sampai ke seluruh penjuru area sekolah, anzas yang tengah memotret tiba-tiba berhenti dan memfokuskan pandangannya pada chintya, hingga mereka saling bertatap.

Kurang dari 10 detik anzas telah memalingkan wajahnya, ia pergi dan memberikan kamera dslrnya pada temannya.
Hati chintya sakit, namun ia tetap dapat mengontrol emosinya dalam bernyanyi.

Setelah selesai bernyanyi ia bergegas turun dan dengan tekad yang kuat ia mencari anzas, setelah bertemu dengannya di ruang osis yang kosong.
“Kang anzas” panggil chintya di ambang pintu, sehingga anzas pun menoleh ke arah chintya berdiri, dia menampilkan wajah absurdnya.
“Aku suka sama akang” teriak chintya dan memejamkan matanya tak lama ia membuka kembali matanya dan langsung menutup pintu tersebut.
Ia berlari dengan berlinang air mata, sungguh dirinya sangat malu atas kejadian tadi.

Kini ia sendiri berada di ruang uks, ia berbaring dan terdengar suara seseorang bernyanyi sembari memainkan sebuah gitar, ia pikir itu adalah salah satu peserta lomba, namun ending yang ia dapat adalah
“Lagu ini saya persembahkan untuk balasan cinta kepada chintya” chintya refleks berdiri dan berlari ke arah lapangan, ia melihat anzas baru saja turun dari panggung, dan bagaikan memang berjodoh mereka bertemu pandang, hingga chintya tak kuasa merasakan perasaan yang sungguh luar biasa, ia pun berlari dan memeluk anzas di hadapan seluruh warga sekolah, dan yang lebih beruntung para guru tidak ada pada saat kejadian terjadi, sehingga chintya merasa aman.

Kadang cinta tak perlu membutuhkan waktu lama, untuk memantapkan diri dengan melakukan sebuah hubungan, dengan adanya sebuah hubungan itupun kita dapat menjalaninya dengan saling mendalami kasih sayang.\

Baca Juga : Cerpen Tentang Persahabatan Yang Paling Mengesankan [Rekomended]

Cinta Pertama

Cerpen Karangan: Alusu
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 3 May 2019

Pertemuan pertama yang awalnya cuman menemani sahabat, berubah menjadi sebuah hubungan yang aneh. Semua berawal dari hubungan kakak adik, dan berubah menjadi sebuah perasaan cinta, yang terpendam selama bertahun-tahun.
Sebuah pertemuan pertama yang singkat tapi penuh makna, hingga akhirnya setiap hari bertemu, cerita, dan ngumpul bersama hingga waktu memisahkan karena perasaan yang terpendam, yang membuatnya menghindar.

Hingga suatu hari sahabatku lisa berkata “Uni sebenarnya kak irwan menaruh perasaan ke kamu!” tapi aku cuma menganggap lisa itu bergurau. Saya katakan sama lisa “Kamu itu paling suka deh buat lelucon, mentang-mentang punya pacar dan aku jomblo.” lisa kembali berkata “Uni, aku serius bicara, tadi waktu kamu dan ayu pergi kak irwan nelepon dan curhat sama saya tentang perasaannya ke kamu, dia menceritakan semuanya ke aku kenapa selama ini dia tidak pernah mau bertemu, angkat telepon dan membalas smsmu, sebenarnya dia suka sama kamu dan dia sudah sering mengungkapkan itu ke kamu uni, tapi kamu selalu menganggap dia bercanda. Makanya dia memutuskan untuk menghindarimu”. Dia pikir jika dia menghindar dari kamu, dia bisa menghilangkan perasaannya. Tapi dia tidak bisa dan bahkan malah semakin besar rasa itu ke kamu”.
“Dan selama dia menghindari kamu dia merasa sangat kehilangan, kak irwan juga berkata, “Kalo sebenarnya dia itu suka sama kamu sejak pertama bertemu, waktu itu mata dia tidak pernah bisa lepas dari kamu, walau sebenarnya dia pacaran sama selfi tapi pikirannya hanya tertuju sama kamu uni, dia juga sebenarnya tau kalo selfi itu cuma menjadikan dia sebagai selingkuhannya.”
“Tapi isna kak irwan itu sudah seperti kakakku sendiri, aku tidak mungkin menerima dia apa lagi kamu tau sendiri dia itu adalah mantan pacarnya selfi sahabat kita, kamu juga tau kan bagaimana ayu kalo sampai dia tau masalah ini?”. Lisa kembali berkata padaku “Uni, selfi dan kak irwan sudah lama tidak punya hubungan dan kau tau itu, lagian selfi juga cuman menjadikan kak irwan sebagai selingkuhannya dan ayu juga sangat tau itu.”
“Iya aku tau, ayu pasti tidak akan membiarkan kamu pacaran sama dia. Tapi kamu juga tidak boleh membohongi perasaan kamu, aku tau kok kamu juga sebenarnya suka kan sama kak irwan?. Kamu jujur saja sama aku, aku bisa liat itu dari mata kamu”. Aku bingung dan tidak tau mau bicara apa sama lisa hingga aku berkata “Isna kamu ini bicara apa sih! Aku nggak ngerti”.

Keesokan harinya isna kembali meyakinkan aku dengan perasaanku, kak irwan pun mulai sering nelepon ke nomorku, mulai sms dan memberikan perhatian lagi ke aku. Suatu malam ketika malam pergantian tahun dia menelepon dan mengungkapkan kembali perasaannya untuk yang ke dua kalinya. Aku kembali terkejut, aku tidak menyangka kak irwan akan seperti itu, dia ceritakan semua, betapa sakit dan kecewanya dia ke aku ketika aku menolak dia dulu. Dia berkata “Uni, malam ini aku berharap kamu mau membuka kan hatimu pada saya, aku benar-benar sayang sekali sama kamu, aku sebenarnya tidak bisa sehari saja tanpa tau kamu dimana, lagi apa, dan sama siapa?”. Aku terdiam dan berkata “Kak aku tidak bisa nerima kamu sebagai pacarku, aku nggak bisa khianati selfi walau aku tau bagaimana kamu dengan dia.”

Rasa ini sebenarnya ada untuk dia tapi aku merasa aku dan dia tidak akan mungkin bersatu, apalagi ayu sudah sering menyindir hubungan aku dengan kak irwan setiap kak irwan nelepon. Rasanya sesak dalam dada harus memendam rasa ini tapi rasanya juga berat jika harus mengungkapkan itu.

Setahun pun berlalu semnjak dia mengungkapkan rasanya tapi dia tetap sama tidak pernah menyerah untuk terus mendekatiku. Dia sering ke rumah dan itu membuatku semakin sulit untuk menghilangkan rasa ini. Semakin aku mencoba semakin rasa ini bertambah besar dan semakin menyayanginya.

Setiap aku curhat sama lisa, lisa selalu berkata “Kenapa sih, kalian berdua harus menyiksa diri masing-masing? Kenapa kalian tidak mencoba untuk menyatukan rasa kalian. Aku hanya bisa terdiam, aku tidak tau akan memberi keputusan apa dalam hidupku, antara cinta dan sahabat. Hingga pada suatu malam dimana malam pergantian tahun tiba, yang mengingatkan aku kembali tentang kenangan itu, aku berusaha terus mencoba menghilangkan perasaan ini dan mengubahnya menjadi perasaan sebagai seorang adik, tapi rasanya begitu sulit.

Pas jam 12 malam katika kembang api diterbangkan ke atas langit dimana pikiran ini tertuju padanya, tiba-tiba dia nelepon dan langsung berkata “Uni, I love you, plis jangan menolak aku lagi. Aku sudah nggak sanggup menyembunyikannya 2 tahun memendam perasaan ini sangat tidak mudah, jadi plis jangan menolak aku lagi. Aku tau kamu juga pasti mempunyai rasa yang sama kan, sama saya, kamu tidak perlu menyembunyikan itu lagi aku sudah tau semuanya, lisa sudah cerita waktu aku curhat sama dia. Aku dan selfi sudah 3 tahun tidak punya hubungan, selfi pun sudah bahagia dengan pacarnya! Dan apa aku salah jika aku juga ingin bahagia bersama orang yang aku sayang, yaitu kamu uni.”

Aku terdiam cukup lama aku ngak tau, aku bingung dengan semua partanyaannya, dan rasa yang ada di dalam hati semakin besar, aku seperti orang yang tidak bisa menahannya dan aku pun hilang kendali, aku ungkapkan semua rasaku kepadanya. Dan kami pun kembali terdiam cukup lama, dia tertawa sambil berkata “Uni, aku sayang sama kamu I love you kumohon jangan pernah meninggalkan aku, kata-kata itu membuat aku tersadar dari diamku dan berkata “Aku juga sayang sama kamu”. Dan akhirnya kami pun pacaran

Sahabat Pergi Karena Cinta

Cerpen Karangan: Putri Puspitasari
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 April 2019

Pagi hari yang menyejukan ini saatnya aku dan sahabatku pergi menuju sekolah, namaku adalah Arianti saputri, aku adalah siswi SMK kelas XII, sahabatku bernama erlina fitriany, kami sudah lama bersahabat ya sekitar 8 tahunan, kami berharap persahabatan kami abadi seumur hidup, hari ini giliran pakai kendaraanku untuk pergi ke sekolah.

“Lina! berangkat yuk”
“Tunggu sebentar Rianti”
“Iya, jangan lama-lama ya”

Aku menunggu Lina sekitar 5 menit, dia pun keluar dari kamarnya.
“Ayo berangkat”
“Cantik banget”
“biasa aja, udah ayo berangkat, nanti telat lagi”

Kemudian kami berangkat ke sekolah, pada saat perjalanan ke kelas, tanpa sengaja seorang laki-laki menyenggol Lina, buku yang dipegang Lina jatuh semua.
“maaf ya, aku nggak sengaja, aku bantuin ya?”
“lain kali lihat-lihat”
“iya-iya, aku lagi buru-buru, ini buku kamu” sambil memberikan buku

“siapa dia Lin?”
“nggak tahu, kayaknya anak baru di sekolah ini, lumayan juga”
“apanya yang lumayan Lin?”
“nggak ada-ada”
“aku tahu pasti gantengnya kan”
Lina hanya tersenyum malu dan langsung berlari menuju kelas meninggalkanku.

Selama pelajaran berlangsung Lina banyak bengong, kira-kira apa ya yang dia pikirkan, mungkin cowok yang tadi nyenggol dia.

Lonceng berbunyi yang menandakan waktu sudah pulang.
“Ri, menurutmu cowok tadi gimana?”
“gimana apanya?”
“ya pendapat lo tentang dia”
“dia tampan, kayaknya baik deh orangnya”
Setelah aku menjawab pertanyaan darinya dia hanya tersenyum, dan sepanjang perjalanan pulang dia banyak tersenyum, maksudku nggak seperti biasanya, biasanya senyumnya sedang-sedang saja.

Pagi hari ini aku telat bangun, pasti nanti Lina akan marah, ketika aku memasang sepatuku, klakson motor berbunyi di depan rumah, dan ternyata itu Lina, setelah memakai sepatuku aku langsung berlari menuju Luna.
“Lina maaf-maaf, aku telat, jangan marah ya”
Lina hanya tersenyum “tenang aku lagi males marah, udah lah ayo kita berangkat”
Ada apa ya dengan Lina. setelah kejadian kemarin dia berubah total.

Setelah sampai sekolah seperti biasanya kami berdua langsung menuju kelas, dan pada saat ibu sinta akan mengajar aku dan Lina terkejut ada seorang laki-laki tampan berkulit putih dan senyum yang dibawanya itu begitu indah.
“Ini teman baru kalian, silahkan mad perkenalkan diri kepada teman-temanmu”
“baik bu, hy teman-teman perkenalkam nama saya Ahmad ramadani, bisa dipanggil Ahmad atau Rama, saya pindah sekolah dari SMA 3 ke SMK ini, hobi saya kebanyakan dalam bidang olahraga”
“Ahmad silahkan duduk”
“baik bu, terimakasih”

Pada saat jam istirahat Lina langsung menghampiri Rama, mereka saling berkenalan begitu pun denganku.
“hai Rama!, perkenalkan nama saya Lina dan ini sahabatku Rianti”
sambil berjabatan tangan “Rama”
“Rama”

Lina dan Rama berbagi pengalaman sekolah mereka masing-masing, setelah perkenalan aku langsung ingin pergi ke kantin sekolah, aku mengajak Lina, tapi Lina nggak mau, akhirnya aku pergi sendiri.

Sesudah perkenalan dengan Rama Lina jarang sekali bersamaku, makin banyak perubahan terjadi pada Lina, setelah satu bulan, semenjak Lina kenal Rama, Lina tak pernah lagi pergi ke sekolah bersamaku, dia memilih ke sekolah sendiri.

“Lina!”
“Rama aku pinjem Lina sebentar ya?”
“iya, silahkan”
“apa sih Ri?”

“Lina kenapa sekarang kamu nggak mau berangkat ke sekolah bersamaku, kenapa Lin?”
“Ya nggak kenapa-kenapa, cuma pengen sendiri aja”
Setelah menjawab pertanyaanku Lina pergi menghampiri Rama. mereka pergi ke kantin berdua.

setelah 6 bulan Rama sekolah di SMK ini, terdengar kabar dari teman-teman bahwa Lina jadian dengan Rama si cowok tampan, berkulit putih, ramah dan baik. aku merasa tidak percaya, pada sast aku ingin menghampiri Lina yang berada di dekat Rama, Lina melihatku dan kemudian berlari menujuku.
“Rianti-Rianti!!!, aku jadian sama Rama”
“kamu jadian sama Rama, selamat ya”
“iya, aku ke Rama dulu ya”

Setelah Lina menemukan cintanya, Liba pergi meninggalkanku karena cintanya pada Rama, kami tak pernah bersama lagi, itu membuatku sedih pada saat aku melihat dua orang sahabat yang saling mengerti.

Baca Juga : Cerpen Tentang Pendidikan Yang Paling Mengesankan [REKOMENDED]

Jatuh Cinta

Cerpen Karangan: Nisa Syahru Ramadani
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 10 March 2019

Salah satu sifat yang alamiah manusia yaitu merasakan apa itu yang namanya cinta. Cinta kepada Tuhannya, cinta kepada makhluk lain ciptaan-Nya, maupun cinta kepada lawan jenis.

Aku pernah merasakan apa itu jatuh, sakit memang tapi aku tak apa apa. Sekarang aku pun bisa merasakan jatuh lagi, tapi yang ini berbeda. Jatuh yang kumaksud adalah ‘Jatuh Cinta’.
Indah rasanya, hingga aku lupa dengan keadaan sekitarku. Aku terlalu menikmatinya ‘Kasmaran’. Kata yang sering digunakan oleh remaja saat ini

Sering aku tersenyum sendiri, melamunkan dirinya. Salah tingkah pun tak bisa lepas dariku bila dia berada di depanku. Ingin rasanya memeluk dirinya, tapi malu bila aku langsung memeluknya tiba tiba. Hhmm mungkin itu akan selalu masuk ke dalam angan anganku.

Aku akan mati kutu, tak bisa berbuat apa apa di depannnya. Hanya sekedar menyapanya saja bibirku kelu. Padahal, aku ingin berbicara dengannya, terlalu banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan. Tapi, aku adalah aku yang akan canggung berhadapan dengan orang yang kukagumi sekaligus kucintai.

Aku akan terlihat sangat bodoh, bila dia tersenyum kepadaku. Bukan senyum khusus untuk orang yang dicintainya. Hanyalah senyum biasa yang ia lemparkan jika bertemu seseorang. Tapi rasanya senyum itu seolah olah hanya untukku. Beribu ribu kupu kupu menari di dalam perutku, geli.

Semakin kesini aku semakin gila. Gila karena cinta. Aku sering ceroboh, fokus berkurang, dan nilaiku menurun. Orangtuaku sering memarahiku. Karena, aku tidak seperti biasanya. Hingga aku akan dipanggilkan psikiater, aku membantah. Mereka pikir aku gila sungguhan, tapi tidaklah seperti itu.

Hingga aku sadar, aku tak akan bisa menggapai dia. Dia terlalu tinggi untukku, terlalu sempurna. Aku coba melupakannya perlahan demi perlahan. Lega rasanya bisa melupakannya. Tapi, aku tak bisa benar benar melupakannya. Ia masih berada di ruang hatiku, hingga saat ini.

Keajaiban Cinta

Cerpen Karangan: Rita Marzela
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 18 December 2018

Entah sejak kapan aku menjadi keras kepala. Seharusnya, kisahku mungkin lebih baik tak ada. Mecintai meski banyak yang menentang. Mempertahankannya dan terus menjadikan dia milikku meski aku tahu pada akhirnya itu hanya akan menyakiti banyak orang, tapi aku tak mengerti berapa besar cinta yang kumiliki hingga aku masih bersamanya meski aku tahu kita berbeda. Aku Ratna dan kekasihku Reyhan, kami berbeda, berbeda suku.

Kisah yang dimulai sejak pertemuanku pertama kali dengannya, saat kita berdua baru masuk sebuah organisasi yang sama. Awalnya, aku tak tahu jika Reyhan termasuk suku Jawa, suku yang berbeda dengan diriku. Organisasi yang membuat kami mengemban tugas untuk Negara. Setiap hari kami dipertemukan di tempat dan waktu yang sama selama dua minggu dan saat itu juga aku mengetahui bahwa nama sosok pria yang membuat tatapanku tak bisa berpaling namanya Reyhan.

Ini takdir atau hanya sebuah kebetulan. Tuhan selalu punya cara untuk mendekatkan kita di tempat ini hingga akhirnya kita berteman. Tindakan sederhana yang dilakukan Reyhan terhadap diriku. Mungkin pepatah mengatakan cinta datang karena terbiasa, dan pada akhirnya aku mulai memiliki rasa terhadap Reyhan, entah sejak kapan aku mulai menyukainya, yang pasti aku merasa bahagia saat dia menatapku dan memperlakukanku dengan sangat manis. Aku merasa cemburu jika kulihat dia berbicara dengan perempuan lain selain aku. Kata orang inilah yang dinamakan cinta. Tapi, itu hanya rasaku saja aku tak pernah tahu isi hatinya.

“Rat” Reyhan memanggilku
Reyhan memang duduk di sebelahku, jarak yang terlalu dekat untuk dua hati yang saling menemukan cinta.
“Iya Rey, kenapa?” tanyaku padanya
“Buruan kalo mau minum. senior masih belum lihat ke arah kita” ucapnya dengan tersenyum padaku.

Bukan hal yang asing lagi jika aku bertindak konyol di depan Reyhan, dan dia sangat memahami kebiasaan diriku. Aku masih tak percaya dengan instingku sebagai wanita terhadapnya. Ini pertama kalinya dalam hidupku aku merasakan bahagia dengan tindakan sederhana seorang pria, dan yang lebih membahagiakan pria itu adalah Reyhan.

Semakin hari kami selalu punya cerita di asrama tempat kami tinggal. Reyhan dan aku selalu tak bisa berhenti untuk menatap. Meski begitu aku sebagai wanita tak bisa banyak berharap tentang rasa yang kupunya. Aku wanita yang pendiam dan tak banyak bicara, dan kurasa ini pertemuan yang akan berlalu begitu saja. Kenangan bisa tercipta dengan cepat di sini. Selalu ada cara untuk membuat kami menjadi dekat, entah itu jarak ataukah hati?

Hingga proklamasi, aku sangat terlihat gugup dan takut tentang diriku. Aku takut untuk tampil di hadapan orang banyak. Namun, ada sosok pria yang mendekatiku dengan pelan dan mengulurkan tangannya padaku.
“Semangat ya, semoga kamu sukses” ucap Reyhan dengan tersenyum dan menatapku dengan tajam.
Tak kuhiraukan sekelilingku, dan rasaku tentang Reyhan. Yang kupikirkan saat itu adalah aku harus berani dan bisa. Ya, akhirnya aku berhasil dengan tekat yang begitu kuat. Kami selesai mengibarkan dan menurunkan bendera merah putih. Aku sangat bahagia dan menjadi terharu untuk langkah awal dari perubahan pada hidupku. Selain aku menemukan pengalaman yang merubah hidupku, aku pun menemukan cintaku di sini semua karena proklamasi.

Keesokan harinya kami dipulangkan kembali ke rumah. Ini adalah bagian perpisahan aku dan Reyhan dalam dua pekan terakhir ini. aku sedih dengan kepulangan yang membuat setiap pagiku tak bisa menatap dan melihat senyum dari sosok pria yang bersamaku. Namun, aku juga tak menyangka, tiba-tiba saja Reyhan menepuk bahuku.
“Ada nomor handphone?”
“Iya ada han” ucapku dengan menyebutkan satu per satu angka padanya

Kepulangan kami ke rumah membawa kenangan dalam ingatan. Apa lagi antara aku dan Reyhan. Setiap hariku meski terasa berat aku menjadi tanpa beban ketika kutatap sosok pria yang menjadi alasanku untuk kuat. Sesampainya di rumah, ponselku bergetar.
“Udah sampai di rumah Rat?, Reyhan ..”
“Iya udah han, kamu sudah?”
Satu demi satu kami mengirim pesan lewat via sms. Ada pesan masuk yang berasal dari Reyhan yang membuatku sedikit terkejut sekaligus senang.

“Rat, aku mau ngomong sesuatu sama kamu?”
“Mau ngomong apa han?”
“Kamu mau jadi pacar aku?”
Aku terkejut mendengarnya, ada perasaan lega dalam hatiku karena sebenarnya aku pun merasakan hal yang sama. Aku juga mencintai Reyhan.
“Mau aku jawab sekarang han?” aku berusaha untuk menggodanya
“Tahun depan Rat, aku perlu jawaban sekarang Ratnaaa” katanya
“Baiklah, aku menjawab iya han”

Pada saat itu kita resmi menjadi pasangan kekasih, bukan teman lagi tapi pacar. Hubungan yang baru saja dimulai, dengan ini kita menjadi saling mengenal satu sama lain. Aku tau tentang latar belakang keluarganya yang sangat berbeda dengan keluargaku. Kami juga berbeda suku, suku lampung yang ada pada keturunan keluargaku memliki perbedaan yang masih jauh dengan Reyhan dan keluarganya. Kami memutuskan untuk tetap bersama meski kami tahu bahwa akan sangat sulit menyatukan dua keluarga yang berbeda.

Kesetianku pada jarak membuat hubungan dengan Reyhan masih terjalin selama hampir tiga tahun. Bukan hanya aku yang mempunyai hati yang kuat tapi Reyhan juga. Meski berulang kali badai datang dalam hubungan kami, namun ada penyelesaian yang terjadi. Ada rindu yang memuncak yang tak kunjung usai, tapi Reyhan selalu berkata, “Jarak adalah di mana kita mengetahui seberapa dalam rasa yang kita miliki”.

Dalam hubungan tak perlu seberapa banyak nya pertemuan. Tapi tentang seberapa kuatnya hatimu menjaga satu nama dengan segala ujian cinta. Aku benar-benar merasakan ajaibnya cinta Reyhan yang bisa membuatku bersabar sampai sejauh ini. meski tak hanya kebahagian saja yang diberikan ada kesedihan di dalamnya. Namun, cinta menjadi alasan kami untuk bertahan.

Tak berhenti pada titik ini, orangtuaku mengetahui Reyhan yang menjadi pacarku. Mengetahui latar belakang Reyhan meski tak sepenuhnya benar adanya. Namun, mereka bertindak tak adil pada hatiku dan Reyhan. Tak ada restu dalam hubungan ini. tapi aku dengan keras kepala terus melanjutkan sampai aku benar-benar memutuskan atas kehendakku sendiri.

Hari-hari berlalu begitu saja, memang tak ada yang menyukai Reyhanku. Tapi aku masih mempertahankan meski aku tau begitu banyak hal yang akan kusakiti. Aku mengharapkan Reyhan bisa sangat mengerti diriku yang begitu memperjuangkannya terhadap keluargaku,.akan kuperkenalkan dia jika dia dan aku sudah menjadi manusia yang pantas dihadapan semua orang. Aku terus saja meminta Reyhan untuk tidak berhenti berjuang bersama dan kita lihat bahwa kita akan membuat semua yang menentang menjadi tertunduk oleh keajaiban cinta yang kita miliki.

Cinta dan Pengorbanan

Cerpen Karangan: Novia Lestari
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 17 November 2018

Cinta dan pengorbanan. Hidup harus penuh dengan pengorbanan. Begitu pun dengan cinta. Tanpa pengorbanan hidup tidak akan berarti apa-apa. Tanpa pengorbanan cinta tak mungkin bisa bersatu.

Seorang gadis tengah bercakap-cakap di telepon. Gadis ini bernama Via.
“Oh, oke gue tunggu loe di cafe biasa ya. Bye!” Sambungan telepon pun terputus. Tiba-tiba… BRUUKKK!!!
“Aww…” ringis Via. Ternyata seorang cowok tak sengaja menabraknya.
“Ehh, sorry-sorry gue gak sengaja” Ucap cowok itu.
Woww… ternyata cowok manis, putih, tinggi, dan keren yang telah menabrak Via. Dia pun memberikan tangannya bermaksud untuk membantu Via berdiri.
“Sorry ya gue tadi buru-buru jadi gak lihat ada loe di depan” Ujarnya sambil terus meminta maaf pada Via.
“I..i..iya gak apa-apa. Salah gue juga jalan gak lihat-lihat” Jawab Via tergagap akibat nervous.
Suara handphone pun berdering.
“Halo.. iya gue langsung ke sana”
“Eh, gue duluan ya. Sorry ya yang tadi. Bye!”
Tanpa mendengar jawaban dari Via cowok itu langsung berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan cafe itu.

Sehabis itu Via pun langsung masuk ke cafe untuk menunggu sahabatnya disana. Lima belas menit berlalu, Laras, sahabat Via akhirnya datang juga.
“Hai Vi, lama ya sorry tadi gue habis nganterin Mama ke butik dulu.”
“Gak kok santai aja kali, Ras” Jawab Via
“Eh, kenapa tuh baju loe kotor gitu?” tanya Laras sambil menunjuk baju Via.
“Oh ini tadi gue habis tabrakan sama cowok” Jawab Via sambil tersenyum.
“Hah?”
“Eh, Ras loe tau gak cowok yang manis, tinggi, putih, keren lagi. Baru kali ini gue ketemu cowok kayak dia” Ujar Via sambil membayangkan kejadian tadi.
“Loe norak banget Vi, cowok gitu mah banyak kali. Mau loe kemanain tuh si Aldy?”
“Ih.. loe kok gitu sih Ras sama sahabat sendiri, parah loe. Aldy tuh udah bukan siapa-siapanya gue lagi, dia itu bekas mantan gue” Jawab Via dengan muka cemberut. Laras hanya geleng-geleng kepala mendengar penuturan Via.

Satu minggu pun berlalu.
Suatu pagi, pagi hari yang begitu indah buat Via. Pagi yang penuh ceria, matahari bersinar begitu terang. Via mengawali pagi ini dengan penuh semangat baru. Semangat untuk pergi ke kampus.

Tapi sayang, pagi yang awalnya penuh semangat berubah menjadi pagi yang menurut Via sangat menyebalkan. Aldy, ya Aldy kini dia kembali mengusik ketenangan Via. Aldy, masa lalu Via yang sangat mengecewakan, cowok yang udah bikin Via sakit, sakit karena ulahnya. Selingkuh.. dia selingkuh di depan mata Via sendiri. Hal yang bikin Via makin membencinya yaitu dia lupa atas perbuatannya, dia merasa tidak punya salah sedikit pun. Dan kini dia kembali mengejar Via untuk kembali seperti dulu, namun Via juga bersikukuh untuk tidak menerima Aldy lagi. Kadang Via merasa bosan dengan hidupnya. Kenapa harus mencintai Aldy, dan kenapa harus Aldy yang menyakitinya di saat dia benar-benar tulus mencintai Aldy.

“Hai cantik, mau ke mana aku temenin ya?” Tawar Aldy pada Via.
“Gue mau ke perpus, kenapa sih loe selalu ngikutin gue kemana pun gue pergi. Risih tau gak, pergi deh loe sana” Bentak Via pada Aldy.
“Sewot amat sih cantik, entar cantiknya hilang loh” Aldy terus menggoda Via.
Amarah Via pun membuncah.
“Eh, loe bisa gak sih gak harus ngikutin gue kayak gini. Gue tuh udah bukan siapa-siapanya loe lagi, ngerti gak sih loe”
“Oh jadi ini sifat aslinya Via, cewek cantik idola kampus, yang selama ini gue kenal sebagai cewek baik dan ramah. Ternyata itu cuma topeng, nyesel gue kenal sama loe. Oke mulai sekarang gue gak bakal lagi ganggu loe” Ujar Aldy penuh emosi.
“Bagus dong jadi gue gak perlu marah-marah gak jelas lagi sama loe” Via pun berlalu dari hadapan Aldy yang masih berdiri di tempatnya.

Akhirnya Via terbebas dari Aldy, udah dari dulu dia menantikan saat-saat seperti ini. Hari-haripun berlalu dengan cepat, bersamaan dengan itu kini Aldy tidak pernah mengganggu Via bertemu pun tak meliriknya sama sekali. Tapi Via tak ambil pusing dia malah senang karena tak ada lagi yang mengganggunya.

Hari Minggu, hari dimana Via kembali bertemu dengan cowok yang pernah menabraknya tempo hari. Cowok yang ia temui di depan cafe. Cowok yang selama ini dia kagumi diam-diam tanpa tahu siapa dia sebenarnya.
Saat itu Via sedang duduk sendiri di dalam cafe.
“Hai.. boleh gabung gak?” Tanya seseorang, ya dia cowok yang selama ini Via kagumi. Via pun mengangguk setuju.
“Loe kan yang waktu itu…” Ucap Via terpotong.
“Iya gue yang waktu itu nabrak loe” Jawabnya dengan senyum manis.
“Kenalin gue Kevin, loe siapa?” Cowok yang ternyata bernama Kevin itu lebih dulu berkenalan dan mengulurkan tangannya pada Via. Via pun membalasnya.
“Gue Via” Jawab Via singkat.
“Hmm.. nama yang cantik seperti orangnya” Ujarnya tanpa menghilangkan senyumannya. Via pun tersipu malu mendengar kata-kata Kevin.

Canda tawa pun terjadi, seperti sudah saling mengenal satu sama lain sebelumnya, mereka saling bertukar cerita dan saling beranggapan.
Semenjak itu, kini Via dan Kevin jadi lebih akrab dan sering jalan bareng. Bahkan tak sungkan lagi Kevin selalu mengantar jemput Via di kampus.

Suatu ketika Via bercerita pada Laras.
“Vi, loe sering jalan bareng sama cowok itu?” Tanya Laras.
“Kevin maksud loe? Iya gue sering jalan bareng sama dia, seneng deh rasanya” Jawab Via dengan senyum mengembang.
“Awas loe ya suatu saat loe bisa suka sama dia. Cinta datang tiba-tiba” Ujar Laras pada Via.
“Ahh.. gak bakalan lah, Ras. Gue cuma salah satu pengagumnya aja kok gak lebih” Ucap Via menyangkal kata-kata Laras. Padahal jauh di lubuk hatinya Via menyimpan rasa pada Kevin.
“Takdir kan gak ada yang tahu, Vi. Kita lihat aja nanti”
Via hanya mengedikkan bahunya, dalam hatinya Via berharap Kevin memiliki perasaan yang sama seperti halnya dirinya.

Enam bulan telah berlalu. Semenjak itu pun hubungan antara Via dan Kevin menjadi sangat dekat.

Hingga suatu hari tanpa Via sangka, Kevin benar-benar menyatakan cintanya pada Via. Entah apa yang Via rasakan sekarang, tentunya dia senang sekali dan dia langsung menerima cinta Kevin. Karena memang Via juga sanfat mencintainya, melebihi cinta terhadap dirinya sendiri. Kini Via dan Kevin resmi menjadi sepasang kekasih. Hari-hari Via kini penuh dengan keindahan dan kebahagiaan, tak pernah Via sangka sebelumnya kini Kevin bisa menjadi pendamping hidupnya.

Via sangat berharap dengan hubungannya yang sekarang semuanya berjalan lancar. Tak ada lagi sama yang namanya pengkhianatan. Dia yakin Kevin cowok yang baik dan bertanggungjawab gak mungkin kalau dia sampai mnyakiti cewek yang sangat dia cintai.

Tapi sayang sungguh sayang hubungan mereka ternyata tak direstui oleh orangtua Kevin. Mereka tak tahu apa alasannya kenapa orangtua Kevin sampai gak merestui hubungan mereka. Tapi Kevin bertekad untuk memperjuangkan cintanya. Tak ada yang lebih indah dari cinta. Cinta butuh pengorbanan karena itu Kevin bersikeras untuk memperjuangkan kisah cintanya yang indah itu. Tak peduli akan orangtuanya yang tak merestui hubungan mereka, tak peduli apa resikonya nanti. Yang penting buat Kevin yaitu cintanya harus bertahan selamanya takkan kandas di tengah jalan.

Kevin yakin suatu saat nanti pasti orangtuanya merestui hubungan mereka. Karena Kevin tahu, setiap orangtua menginginkan anaknya untuk hidup bahagia.

Tak ada satu orang pun yang tahu kapan keajaiban itu datang. Tuhan yang membuatnya dan Tuhan yang mengetahuinya. Setelah berminggu-minggu Kevin dan Via terlena karena cintanya yang tak direstui itu, kini orangtua Kevin akhirnya merestui hubungan mereka. Mereka sadar kebahagiaan anak itu segala-galanya dan kebahagiaan Kevin yaitu bisa hidup bersama Via selamanya.

Hidup adalah sebuah kenikmatan. Kesetiaan adalah segalanya. Kasih sayang merupakan salah satu bentuk dari cinta. Dan cinta adalah anugerah yang harus kita syukuri.

End

Nah, itulah beberapa Contoh Cerpen Tentang Cinta yang Mengesankan. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menamnah wawasan Anda dan juga bisa bermanfaat bagi kita semua.

Cerpen Tentang Cinta

 

Leave a Comment