Cerpen Tentang Ibu Yang Paling Mengharukan & Mengesankan

Cerpen Tentang Ibu Yang Paling Mengharukan & Mengesankan

Cerpen Tentang Ibu – Kali ini kita akan membahas mengenai Cerpen Tentang Ibu Yang Paling Menharukan & Mengesankan. okee gausah lama-lama, langsung saja kita baca beberapa Contoh Cerpen Tentang Ibu dibawah ini.

Kumpulan Cerpen Tentang Ibu

Cerpen Tentang Ibu
Cerpen Tentang Ibu

Dibawah ini adalah beberapa Contoh Cerpen Tentang Ibu yang bisa kalian jadukan sebagai referensi atau tugas, diantaranya:

Terima Kasih Bunda

Cerpen Karangan: Lawlietsugar
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 12 June 2019

Tetes-tetes hujan perlahan-lahan turun dan akhirnya menyentuh tanah, serta langit yang masih terlihat mendung dan tidak terlihat sinar kemilau sang mentari yang selalu tersenyum dengan hangat kepadaku.

Kriek.. terdengar suara pintu kamarku dibuka “bunda…” panggilku, wanita paruh baya itu menatapku dengan senyum terlukis di wajahnya, ia mendekatiku dan akhirnya duduk di sampingku “kamu cepat sembuh ya niken..” ucapnya seraya mengelus rambut pendekku yang selalu rontok setiap harinya dengan kasih sayang.

Sudah hampir sebulan aku selalu menderita seperti ini, setiap hari rambut panjang yang selalu kugerai rontok dan perlahan lahan menipis hingga akhirnya aku harus merelakannya untuk dipotong pendek. “minggu depan kamu harus operasi untuk meringankan penyakit kamu” ucap bunda “niken nggak mau… niken tau yang operasi hanya 70 persen yang hidup bunda.. niken nggak mau bunda kehilangan niken dan niken nggak mau kehilangan bunda” ucapku, kulihat air menggenang di kedua pelupuk mata bunda dan akhirnya membentuk aliran sungai kecil yang membelah kedua pipi bunda, “bunda jangan menangis” ucapku mengusap pelan kedua pipi bunda “bunda baik-baik saja niken.. sebentar lagi ani dan sasya bakalan datang untuk menjenguk kamu” ucap bunda “bunda jangan sedih ya.. bunda nggak boleh nangis karena keadaan niken.. bunda harus janji” pintaku “bunda janji.. sekarang kamu istirahat sayang bunda tinggal dulu” ucap bunda seraya pergi dari kamarku, “ya allah… angkatlah penyakitku..” pintaku memohon.

Tak lama kemudian kudengar isak tangis di depan pintu kamarku dan rasa ingin tau ku terlalu besar untuk mengetahui siapa di sana “bunda..” ucapku pelan, kudengar bunda menangis dan kudengar juga suara ani dan sasya dan tidak mungkin.. aku mendengar bahwa aku tidak akan mungkin bisa hidup lagi walaupun dengan jalan operasi “ya allah.. cobaan apa lagi yang kau berikan untukku” ucapku menangisi keadaanku,

Tok.. tok.. tok..
“niken.. ini sasya sama ani..” ucap sasya mengetuk pelan pintu kamarku, kuhapus air mata yang menggenang di kedua pelupuk mataku dan aku memilih untuk membukakan pintu untuk kedua sahabat baikku itu “hai.. kalian datang juga aku udah lama nungguin kalian” sapaku “wah.. niken tampak lebih sehat dari sebelumnya dan kurasa kamu bakalan sembuh sebentar lagi” ucap ani “ya.. semoga” ucapku “kok kamu kaya’ gak ada harapan gitu sih” tanya sasya “nggak kok.. pagi ini dingin jadi nggak semangat buat ngelakuin apa pun” jawabku pelan “mending kita jalan-jalan aja gimana” usul ani “usul yang bagus” ucapku pelan “baiklah sekarang kita akan kemana” tanya saysa “bagaimana jika ke taman tempat kita bermain saat kita kecil dahulu” usulku, mereka berdua saling bertatapan dan kemudian menyetujui usulku.

“dulu.. di sini kita sering main ayunan ini” ucapku seraya duduk di atas ayunan “dulu juga kita di sini sering ketawa sering nangis aku juga suka iseng sama kalian berdua..” lanjutku “niken.. kamu kenapa sih” tanya ani “aku tau aku nggak bisa hidup lebih lama lagi” jawabku menatap ani “kamu nggak boleh gini niken.. kamu harus kuat kamu harus ada harapan buat hidup” ucap sasya menyemangatiku “kuharap aku masih diizinkan hidup buat bunda” harapku “udah sore pulang yuk” ajakku kepada kedua temanku, sakit yang jelas itu yang kurasakan saat ini, mungkin nanti aku takkan melihat wajah bunda dan kedua sahabatku dan mungkin aku akan bertemu dengan ayah dan melepas kerinduanku bersamanya selama ini.

Di rumah aku hanya bisa berbaring dan berusaha terlihat baik-baik saja di depan bunda tapi.. keadaanku semakin memburuk hingga akhirnya aku juga harus dilarikan ke rumah sakit “bunda gak boleh sedih” pintaku seraya mengusap pipi bunda yang berlinang dengan air mata “bunda tidak akan sedih niken.. bunda akan berusaha menghadapi semua ini dengan tegar” ucap bunda “bunda.. biken mungkin gak bisa nemenin bunda lagi niken gak bisa meluk bunda lagi niken gak bisa masak bareng bunda lagi” ucapku “nanti niken bakalan sama ayah jadi bunda gak perlu khawatir sama niken bunda cukup mendoakan niken ya bunda.. bunda juga bakalan niken doain” lanjutku

“ani.. sasya makasih sudah mau jadi sahabatku.. kalian tolong jagain bunda ya.. kalian jangan lupain aku ya” pintaku “niken kamu gak boleh ngomong gitu” ucap sasya “aku berterima kasih sama kalian semua..” kataku sebelum akhirnya aku dibawa oleh malaikat pergi jauh, kulihat bunda, sasya dan ani menangis tapi aku tak bisa berbuat apa-apa aku hanya bisa melihat dan akhirnya mereka semua menghilang dari pandanganku.

Sore itu juga jasadku dimakamkan deraian air mata mengiringi kepergianku “semoga kamu tenang dan bahagia di sana niken” ucap sasya dan ani bersamaan sebelum pemakaman berakhir dan sebelum mereka takkan pernah melihatku lagi.

Baca Juga : Cerpen Tentang Cinta Yang Paling Bagus Diungkapkan [REKOMENDED]

Ibuku Sayang

Cerpen Karangan: Miftah Zainah
Kategori: Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 25 November 2018

Di suatu perkampungan yang dikelilingi dengan sawah ada sebuah keluarga yang tinggal secara harmonis. Mereka memiliki dua orang anak perempuan yang bernama Ita dan Mita.

“Anak kita sudah besar ya bu,” kata Bapak Sutomo, Bapak paruhbaya ini bekerja sebagai seorang petani di kampung mereka tinggal.
“Iya Pak anak kita telah besar”, Sahut Hartati sambil tersenyum ke arah suaminya.

Tidak disangka Hartati Istri dari Bapak Sutomo ini orangnya pemarah, dia sering memarahi anaknya sendiri dengan nada keras dan berkata kasar, karena emosi labil disebabkan pernikahan muda yang sudah dialaminya membuatnya belum bisa berfikir dewasa sehingga sering sekali dia memarahi kedua buah hatinya itu.

“Mbak kenapa sih Ibu selalu memarahi kita?” Tanya Mita
“Ga marah Dek Ibu sayang kita kok!” Kata Ita dengan lembut kepada adiknya yang masih berumur 6 tahun dan terikat usia dengannya 2 tahun.

Berbeda dengan sifat Istrinya Sutomo memiliki sifat yang penyayang. Pria ini tidak pernah marah sedikitpun terhadap kelakuan Istrinya yang kadang memarahinya jika dia tidak pergi ke ladang. Karena Sutomo menyadari Istri yang sudah dinikahinya selama 10 tahun itu terlalu muda untuk menjadi seorang Istri sekaligus Ibu dari dua anak mereka.

Pagi hari sebelum ke ladang untuk membantu suaminya Hartati harus terlebih dahulu mengurus keperluan rumah tangga, tetapi semua pekerjaan rumah tangga itu bukan dia yang mengerjakan melainkan mengandalkan tenaga dari putri sulungnya Ita.

“Ita!!! Ita!!! Kemana sih tu anak dipanggil ga nyahut”, dengan nada marah Hartati terus berteriak memanggil anak sulungnya itu. Setelah membuka kamar emosi Hartati kembali memuncak karena anak sulungnya itu masih tertidur dengan lelap.
“Heh bocah pemalas enak-enakan kamu tidur udah jam segini juga ga bangun.” Cepet kerjain semua pekerjaan rumah ini bentak Hartati dengan nada tinggi.

Karena masih merasa mengantuk Ita kembali melanjutkan tidurnya, sampai Ibunya datang lagi dan kembali memarahinya.
“Ita kamu ga mau bangun? mau kusiram dengan air? kamu enak ga nyari uang bisanya cuma minta doang pengen ini itu tapi malas, bodoh kamu!! Cepat bangun!!” sambil menjambak rambut anaknya.
“Iya bu Ita saya minta maaf”, kata Ita dengan nada yang sedih.
“Maaf katamu? Maaf aja terus sampai mampus!! Cepet kerjain semua pekerjaan rumah ini, kalau sampai aku pulang dari sawah masih belum beres jangan harap kamu makan hari ini!” pergi berjalan menuju ladang.

Ita menangis menahan Amarah dalam hatinya dia berkata, “Ibu kamu malaikatku kamu sosok panutanku tapi kenapa dirimu memarahiku setiap hari seperti ini, apabila aku salah ke kamu seharusnya kamu memberikan aku nasehat dan menyuruhku dengan cara baik bukan malah dengan cara memarahi dan mngeluarkan cacianmu, Ibu aku sangat menyayangimu!”.

Walaupun sang Ibu memarahinya setiap hari Ita tidak pernah merasa dendam kepada ibunya, dia hanya bisa menangis menahan Amarah saja karena dia tau betapapun Ibu marah kepadanya itu semua karena salahnya. Mita adiknya yang masih kecil pun sering dihardik Ibunya, karena perbuatan nakal yang tidak pernah mendengarkan perkataan ibunya.

Hari sudah Siang orang-orang di ladang sudah kembali satu persatu ke rumah mereka masing-masing, begitupun dengan Bapak Sutomo dan Istrinya, Ita yang dibantu Adiknya Mita tengah asyik di dapur memasak makanan untuk Bapak dan Ibunya sehingga tidak mendengar Ibunya memanggil-manggil mereka di luar.

“Ita…!! Mita..!! Di mana sih tu Anak” Perasaan kesal.
“Sabar Bu mungkin mereka sibuk di dapur” Sahut Bapak.
“Bapak ini selalu saja membela mereka, Anak-anak itu kurang ajar setiap dipanggil lama sekali menjawabnya andai aku mau mati itu anak berdua pasti sudah liat jasadku saja lagi” Sahut Hartati nada tinggi.
“Astagfirullah Ibu… keterlaluan kamu, sama anak sendiri saja begitu” Pergi menuju dapur.

Benar saja apa yang ada dipikiran Sutomo terhadap kedua anaknya, mereka memang tengah asyik memasak makanan sehingga tidak mendengar suara ibunya memanggil-manggil.
“Nak, (Ucap Sutomo) keluar dulu sana, Ibumu dari tadi memanggil-manggil kalian berdua itu”. Dengan Nada yang lirih Sutomo menyuruh kedua anaknya keluar karena terlalu capek Sutomo akhirnya merebahkan badannya dikasur dekat dapur.
“Baik Pak” Sahut kedua anaknya serempak.

Sebelum menghampiri Ibunya Ita berpesan kepada Adiknya agar jangan kesal kalau nanti mereka dimarahi sang Ibu. Karena Ita tidak mau sampai Adik kecilnya ini menaruh dendam kepada ibunya sendiri.
“Dek jangan kesal ya kalo ibu nanti memarahi kita”, mengelus Adiknya dengan penuh kasih sayang.
“Iya Mbak,” sembari menyempatkan senyum.
Dalam hati Ita berkata “Dia harus mampu menahan segala Amarah yang ada dalam dirinya karena bagaimanapun juga yang memarahinya adalah Ibu mereka sendiri, Ibu yang sudah mengandung dan berjuang untuk kelahirannya di dunia. Ya Allah lapangkan hatiku dan hati Adikku agar tidak ada dendam sedikitpun terhadap Ibuku”.

Sesampainya diddepan Ibu, Ita memberanikan diri memulai pembicaraan dengan nada yang tergetar karena ada perasaan takut.
“Ibu… maaf, kami tidak mendengar Ibu sudah memanggil-manggil tadi.” Kata Ita.
“Iya Bu Maafin Mita sama Mbak Ita yaa..” Sahut sikecil.
“Kalian berdua memang sering sekali kalo Ibu memanggil lama untuk menjawabnya” Sambil menarik telinga kedua anaknya.
“Telinga kalian ini harus dibersihkan biar tidak tuli seperti ini lagi, andai saja Ibumu ini meminta tolong, kalian lama untuk menjawabnya dan bahkan lama untuk menengok apa yang sedang terjadi terhadap ibumu, apa kalian tega melihat Ibumu mati? Hah..!!!” Dengan Nada keras sambil meneteskan Air mata.
“Ibu sangat menyayangi kalian anak-anakku, namun  sifat Ibu yang pemarah inilah yang menyebabkan kalian harus setiap hari terkena ocehan Ibu”, Kata Hartati dengan suara lirih.
Melihat Ibu menangis Ita dan Mita lekas memeluknya.
“Ibu jangan menangis, Ita tau kok Ibu sangat menyayangi kami berdua, Ibu juga memarahi kami bukan karena tak sayang tapi karena kelakuan kami sendiri,” Ucap Ita sambil terisak karena dia juga menangis.
“Iya Bu, benar kata Mbak Ita Ibu jangan menangis lagi ya.” Pinta sikecil Mita.

Suasana yang menegangkan tadi perlahan berubah menjadi suasana haru, emosi Hartati pun sudah menghilang, akhirnya mereka bertiga saling berpelukan dan berkasih sayang sebagaimana biasanya sikap seorang Ibu terhadap anak-anaknya.
“Sudahlah anakku, Kalian jangan bersedih lagi Ibu udah tidak marah lagi dan Ibu juga ingin meminta maaf kepada kalian berdua, karena Ibu sering sekali marah-marah bahkan menjewer kalian seperti tadi.” Sembari kembali memeluk kedua anaknya.

“Kalian sudah masak tadi?” Tanya Hartati mengembalikan suasana yang semula mengharukan.
“Sudah kok Bu ayo kita makan sama-sama” Sahut Mita dengan wajah senang karena bahagia sudah dapat merasakan kasih sayang sebenarnya dari seorang Ibu.
“Ayoooooo…” Ucap Ita dan Hartati serempak.

Dengan riang mereka bertiga masuk kedalam rumah menuju dapur untuk makan siang bersama-sama.
“Bapak ayo bangun, Kita makan sama-sama” Ucap Hartati kepada suaminya yang tengah terlelap di kasur dekat dapur.
“Iyaa Istriku tersayang” Ucap Sutomo sambil bangun dari tempat tidur dan menebar senyuman kepada istrinya.

Akhirnya mereka semua pun menikmati hidangan makan siang yang sudah disajikan kedua anak mereka dengan penuh rasa syukur.
Dalam hati Ita berkata, “Ya Allah terima kasih telah memberikan kesempurnaan didalam hidupku, aku memiliki seorang Bapak yang penyayang dan penyabar memiliki seorang Ibu yang penuh kasih sayang, meskipun sering marah aku tetap sayang padanya. Karena mereka Bapak Ibu aku bisa hadir di dunia ini. Terimakasih juga Ya Allah engkau telah anugerahkan kepadaku seorang Adik yang lucu dan pintar seperti Mita, Ya Allah terima kasih banyak atas semua ini aku merasa hidupku terasa sempurna karena hadirnya mereka di sisiku”.

“Ibu Bapak semoga kalian sehat terus ya, Aku dan Adik sangat menyayangi dan mengormati kalian berdua” Ucap Ita memecah suasana hening karena sekeluarga sedang menikmati makan siang.
“Iya Anakku kalian berdua memang segalanya untuk Ibu dan juga Bapak” Sahut Hartati sambil melempar senyum kearah suaminya.

Mereka hidup didalam keharmonisan yang dimana sifat Ayah dan Ibu mereka yang jauh berbeda jelas dan sangat menguji perasaan, apalagi sifat Ibunya yang pemarah kadang menyisakan emosi yang menyesakkan dada. Namun begitu, tidak sedikitpun Ita dan Mita menaruh dendam terhadap sang Ibu, karena mereka tahu Ibunya sangat menyayangi mereka berdua dan jika Ibunya marah itu karena kesalahan mereka sendiri.

Baca Juga : Cerpen Tentang Persahabatan Yang Paling Mengesankan [Rekomended]

I Love You Mom

Cerpen Karangan: Hilya
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 21 July 2018

“Aku benci mama, aku benci mama!!” teriak Jenny kepada mamanya. Air matanya tidak terbendungkan ketika dia mengeluarkan isi hatinya.
Bertahun-tahun memendam perasaannya, Jenny sudah tidak tahan lagi. Dia ingin pergi dan memulai kehidupan tanpa mamanya.
“Jangan mencariku! Aku tidak akan kembali lagi!” ucap Jenny sebelum melangkahkan kakinya meninggalkan rumah yang menjadi tempat dia bernaung sejak dilahirkan.
Mama tidak mencegah Jenny, tapi kesedihan terlukis jelas di wajahnya. Dia menyantap makanan di hadapannya dengan berlinang air mata.

Beberapa bulan kemudian.
“Jen, bentar lagi puasa nih, habis itu hari raya.., ehm.. loe gak mau pulang?” tanya Aiko, teman kerja Jenny.
“Pulang ke mana?”
“Jen.., gini ya, semarah apapun loe sama mama loe, tapi dia kan yang ngerawat loe dari kecil, apalagi mama loe itu single parents, itu susah Jen!”
“Aku pulang dulu ya!” Jenny menghindari percakapan. Dia memutuskan untuk pulang ke apartemen.

“Huh.. lelah..” Jenny merebahkan tubuhnya di atas kasur. “Aiko sok tahu banget sih, emang dia siapa? Dia tahu masalah aku apa?”
Jenny memandang kamarnya secara menyeluruh. Dia mengingat lagi saat-saat terakhir bersama mamanya.

Flashback
Papa orang yang sangat gila kerja. Saat itu Jenny masih di dalam kandungan. Mama yang tidak berani melarang hanya bisa membantunya, hingga suatu hari papa mengalami serangan jantung dan meninggal dunia.
Beberapa bulan kemudian, Jenny lahir. Mama sangat menyayangi Jenny, dia berupaya menjaga Jenny sebaik mungkin.

19 tahun kemudian, Jenny tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik dan periang. Dia juga selalu menurut pada mama, bahkan saat mama memintanya putus dari pacarnya, walaupun agak kesal, Jenny tetap menurutinya.

4 tahun kemudian, Jenny lulus dari universitas ternama dengan nilai yang sangat memuaskan. Dia bahkan dapat tawaran dari sebuah perusahaan besar, tapi mama tidak mengizinkannya.
“Kenapa? Beri tahu Jenny alasan mama tidak mengizinkan Jenny kerja di sana!” tuntut Jenny kepada mamanya.
“Mama tidak suka kamu bekerja dengan perusahaan itu!” jawab mama.
Jenny memandang mamanya tidak percaya. Pertahanannya sudah hancur. Dia menangis.
“Aku tidak paham lagi dengan mama! Aku sudah muak! Selama ini aku selalu menurut, tapi tidak lagi!”
Jenny berlari memasuki kamarnya dan menangis. Mama tidak dapat berbuat apa-apa.
Sebenanarnya bukan tanpa alasan mama tidak mengizinkan Jenny. Perusahaan yang akan Jenny masuki adalah perusahaan tempat papa dulu bekerja. Perusahaan yang membuat papa menjadi gila kerja. Mama tidak ingin memberitahukan hal itu kepada Jenny.

Flashback end
“Nanti bukber yuk!” ajak Jenny kepada teman-teman sekantornya.
“Yah.. aku mau buka bareng mama!”
“Aku mau buka bareng keluarga nih!”
“Sorry, gak bisa!”
“Maaf ya.. mama tadi ngajakin buka bareng!”
Mendengar jawaban teman-temannya Jenny merasa sedih. Dia jadi teringat kepada mama.

Jenny buka puasa sendiri. Dia memandang makanannya dengan lesu. Nafsu makannya menghilang.
“Apa aku sudah sangat keterlaluan kepada mama ya?” pikir Jenny. “Mungkin Aiko benar, aku harus meminta maaf kepada mama!”

Jenny memandang rumah di hadapannya dengan perasaan sedih. Kenangan bersama mama berputar di dalam otaknya. Dengan ragu jenny mengetuk pintu.
Melihat mama membukakan pintu, air mata Jenny tidak bisa terbendung. Rasa rindu yang sangat dalam kini terobati. Jenny memeluk mama dengan erat.
“Mama, maafin Jenny! Jenny yang salah!”
Mama membalas pelukan Jenny. Dia tidak menjawab dan hanya memeluk putrinya dengan penuh kasih. Rasa rindu mereka kini telah hilang. Mama dan Jenny juga sama-sama merasakan kebahagiaan yang sangat dalam.

The end

Hadiah Istimewa Dari Ibu

Cerpen Karangan: Dira Ariella Neysa
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 8 June 2018

23 Januari 2010
Hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 8 tahun.. yheee! Dan aku udah gak sabar untuk membuka kado dari ibu dan bapak.. “papa, mama.. mana kadoku?” tanyaku, tapi mereka hanya menjawab “nanti ya sayang.. ibu sama bapak gak punya uang”

23 Januari 2014
Hari ini aku ulang tahun lagii! umurku sudah 12 tahun, aku mau ibu dan bapak memberiku hadiah lagi! aku segera bangun dari tempat tidurku dan meminta hadiah dengan ibuku “bu.. mana hadiahku? dari dulu ibu dan bapak tidak pernah kasih aku hadiah!” tanyaku, ibuku hanya menangis “nak.. maafkan ibu, mungkin ini hadiah yang paling gak mau diinginkan! Bapakmu meninggal Sarah!!” tukas ibu.. Serasa hati ini berkeping keping mendengar bapak meninggal! bapak yang bekerja sebagai buruh bangunan sudah tidak lagi mencari nafkah.. di mana nanti aku mendapatkan hadiah?

23 Januari 2017
Umurku kini sudah 15 tahun, kenapa ibu belum kasih hadiah ulang tahun? Aku benci ibu!!!! semenjak bapak pergi, aku semakin benci dengan ibu! benci dengan kemiskinan! “ibu!! mana hadiahku? katanya mau beriku hadiah istimewa? mana bu mana!!!!” aku membentak! kenapa sih aku harus hidup miskin? aku benci kemiskinan!!
“Aku harus pergi dari rumah, aku sudah muak tinggal di rumah miskin itu!” aku bergumam terus di jalan karena ibu.

Tiba tiba..
BRUK!!! tubuuhku terpental jauh dan darah tercecer ke mana mana, satu persatu orang datang mengerumuniku dan memotretku! apa yang terjadi? apa aku sudah mati? kenapa semua gelap?

Tut.. tut.. tut..
Bunyi detak jantungku di alat pendetak jatung, aku masih hidup!! tapi.. kenapa aku sendiri? mana ibu? ah sudahlah! palingan ibu ke sini dan menangis.. dasar cengeng!!

Lalu,tiba-tiba suster datang ke kamarku memberiku sepucuk surat “ini surat dari ibu anda” tukasnya, ahh lebay banget sih pake surat segala! dihari ulang tahun ku ini belum cukup dengan hadiah sekecil ini! aku sebenarnya males banget mau membacanya, dengan terpaksa aku membaca.

Tiktes… tiktes.
Dan seketikan air mataku tiba-tiba menetes dengan sendirinya “ibu..” ucapku “AKU MAU BERTEMU IBU!!!” teriakku dan langsung melompat keluar dari kamar itu.. berlari tak karuan di koridor rumah sakit itu, semua orng menatapku! “dokter!! mana ibuku dokter!!” tanyaku dengan dokter “sabar dek sarah, sabar..” ucap dokter itu menenangkan “ibumu ada di kamar no 12 a” ucapnya lagi, tanpa berterima kasih ku langsung pergi untuk menemui ibu..

Aku berlari lari dengan mukaku yang basah karna terkena air mataku, tidak terasa ternyata aku telah sampai di kamar 12 a, aku langsung membuka kan pintu dan… aku melihat suster sedang menutup tubuh seseorang dengan selimut berwarna putih, ini bukan ibu kan? bukan!! dokter itu bohong!! “suster, ini siapa suster? siap ini!!!” teriakku kepada suster. Pikiranku tidak karuan lagi setelah membaca surat itu “ini ibu wati, ibunya anak yang bernama sarah!” ucap suster tersebut “IBUU!!!” teriakku sambil membuka selimut itu, ibu jangan pergi ibu! aku sayang ibu!! aku gak akan meminta hadiah lagi untuk ibu! aku hanya ingin ibu bangun!! “Suster! kenapa ibu saya suster?!” teriakku “ibu kamu sudah mendonorkan kamu darah, sewaktu operasi.. ibumu gagal untuk menjalankan operasi, sebelum itu dia berpesan untuk memberikan darahnya kepadamu” tukas suster, Ibu? kenapa ibu meberikan hadiah ini bu? Di hari ulang tahun sarah, ibu malah buat Sarah menangis! bukannya senang!

Di pemakaman.
“ibu, sarah sayang ibu.. sarah benar-benar sayang ibu, sarah sangat menyesal membuat ibu seperti ini!” ucapku menangis histeris
IBU.. SARAH SAYANG IBU

Isi surat
Sarah.. ibu harap kamu suka dengan hadiah yang ibu berikan, meskipun tidak seberapa.. tapi ini bisa menyelamatkan nyawamu, akhirnya ibu mampu membuatmu bahagia, jaga baik baik ya sayang.. jangan sampai terbuang.

Ibu

Pesan Dari Ibu

Cerpen Karangan: Azharia
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 12 May 2018

Pagi hari, ibu membangunkan tiara dan tito untuk segera bergegas berangkat ke sekolah. Tiara dan tito sedang rapi-rapi untuk pergi ke sekolah sedangkan ibu mempersiapkan sarapan untuk tiara dan tito. Setiap hari tiara dan tito pegi ke sekolah berjalan kaki, terkadang mereka dianterin oleh ayahnya menggunakan motor. Ibu setiap hari berjualan kue keliling dari daerah rumah sampai pasar, sedangkan sang ayahnya yang  bekerja sebagai seorang tukang ojek.

Tiara sekarang duduk di bangku 7 smp, sedangkan tito duduk di bangku 5 sd. Tito anak yang sangat pintar dari kelas 1 sampai sekarang ia sering mendapatkan ranking, sampai-sampai ia ikut lomba matematika dan mendapatkan juara 2. Tiara juga anak yang pintar dia sering meraih ranking 1, ia juga pernah ikut lomba ipa, matematika. Sekolahan tiara dan tito berdekatan.

Ibu berangkat bejualan kue, harga kuenya cukup murah dari harga Rp 2.000 sampai harga Rp 4.000. Setiap berjualan ibu membawa 50 kue dan kadang juga lebih membawa kuenya. Kue ada yang titipan orang, dan yang lainnya bikinan ibu. Sebelum pergi berjualan ibu mengambil kue titipan bu jidah etrlebih dahulu. Hasil jualan tersebut ibu tabung untuk biaya kuliah anaknya. Ibu pun mulai berjualan keliling, dari daerah rumah sampai pasar tapi sayangnya dari tadi tidak ada yang membeli kue ibu.

Adzan zuhur berkumandang, ibu pun bergegas untuk solat dzuhur. Ibu meninggalkan kue di depan masjid. Saat ibu sedang solat, banyak orang yang membeli kue tersebut. ibu tidak menghawatirkan kue yang berada di depan masjid, ibu juga tetap melanjutkan solat. Selesai solat ibu berdoa “Ya Allah, semoga tiara dan tito bisa menjadi anak yang soleh dan sholeha. Dan semoga mereka bisa jadi anak yang sukses, bisa membahagiakan kedua orang tuanya. Amin”

Selesai berdoa bahu ibu dipegang oleh seorang wanita yang cantik. Wanita cantik itu membawa kue yang ibu jual kedalam masjid. “permisi bu, ini dagangan ibu bukan?” tanya wanita tersebut “iya ini dagangan saya” “maaf, neng ini siapa ya, saya nggak pernah liat neng di sini?” jawab ibu sambil bingung “saya tina bu, kebetulan tadi saya abis pulang kuliah. Saya mampir dulu ke masjid untuk solat, pas saya pengen masuk ke masjid, saya melihat dagangan kue. Sebelum solat saya jualin kue ibu, dan alhamdulilah kue ibu habis” jawab tina “terima kasih ya neng, udah jualin kue saya, ini buat neng karna neng sudah bantu saya jualan kue” jawab ibu sambil memberi uang ke tina “tidak usah bu, saya ikhlas membantunya” jawab tina “ya udah ya neng, saya duluan” ucap ibu “iya bu, hati-hati di jalan” jawab tina.

Ibu pun pulang ke rumah, ketika tiba di rumah ternyata si tiara dan tito telah sampai telebih dahulu sebelum ibu pulang. “ibu ke mana aja sih, dari tadi kita tuh cari ibu ke mana-mana” tanya tiara dengan kesal “ibu tadi solat dulu di masjid” jawab ibu dengan sabar “ya udah, sekarang makanannya mana?” tanya tiara “jangan makanan yang kemarin ya!” ucap tito. “kalo makanan tadi pagi mau gak nak?” tanya ibu “ibu kenapa sih, setiap hari pasti ibu bilang makanan tadi pagi mau gak nak gak ada kata-kata lain apa?” sentak tiara “udah makan seadanya aja ya nak” jawab ibu dengan sabar.

Tiara pun menuju meja makan bersama tito, sedangkan ibu masuk kamar. Di kamar ibu menangis “kenapa anak-anakku durhaka ya Allah” “apa salahku.” Disaat ibu sedang menangis, tiara memanggil ibu dengan suara lantang “ibu… ini masakan udah basi tau” ucap tiara dengan kesal. Ibu pun menuju ruang makan sambil menghapu air mata. “ada apa tir?” tanya ibu “ini tuh makanan udah basi, masih aja disimpan” sentak tiara “tadi pagi baru ibu masak nak” jawab ibu “ibu duduk sekarang, ibu coba makanan tadi pagi masih enak atau gak?” sentak tiara. Ibu pun mengikuti perintah tiara, ibu pun duduk dikursi dan ibu juga memakan mkanan tadi pagi. Ibu tidak mampu tahan nangis, disaat ibu makan ibu mengeluarkan air mata dan hati ibu sangat sakit hati dimarahi oleh anaknya sendiri. “ibu kenapa nangis” tanya tiara, “ibu tidak apa-apa kok nal” jawab ibu “kalo ibu gak papa kenapa nangis” tanya tiara “sekarang habisin tuh makanan” sentak tiara. Ibu pun menghabiskan makanan tadi pagi.
“Sekarang tiara mau tidur dulu, dan satu lagi jangan ganggu tiara kalo lagi tiara lagi tidur” sentak tiara. Ibu hanya mendengarkan apa yang tiara kata kan, hampir setiap hari ibu disentak tiara, tapi ibu tetap sabar dan tabah.

Adzan ashar berkumandang, ibu membangunkan tiara “tir, bangun udah ashar. Solat dulu tir” ucap ibu, namun tiara tidak bangun dari tempat tidurnya.

Hari esoknya, tiara dan tito berangkat sekolah tanpa pamitan. Sedangkan ibu hari itu sedang sakit gara-gara makanan kemarin. Tapi ibu menahan sakitnya di depan anak-anaknya. ibu menjalankan tugas-tugasnya seperti biasa. Ibu mulai berjualan keliling meskipun ibu sedang sakit tapi ibu terus berjuang demi anak-anaknya. Ketika ibu sedang berjualan, ibu terkena lemparan batu di bagian kepala. Kepala ibu berdarah, dan ibu ditolong oleh warga. Ibu pun dibawa ke rumah sakit. Sudah satu jam ibu tidak sadarkan diri.

Tiara dan tito sudah pulang sekolah dan mereka mencari-cari ibu “ibu, ibu di mana sih. Kebiasaan banget hilang” ucap tiara dengan kesal. Salah satu seorang warga lewat depan rumah tiara dan tito, warga tersebut menghampiri tiara dan tito “tiara ibumu masuk rumah sakit” ucap warga “ibu masuk rumah sakit, gak mungkin ibu masuk rumah sakit?” jawab tiara “ini benar tiara, kata dokter ibumu keracuan makanan, dan kepala ibumu juga berdarah” ucap warga “ini bohong kan?, tadi ibu sehat-sehat aja” jawab tiara “ini benar, kalo gak percaya kamu ikut saya ke rumah sakit” ucap tiara. Tiara dan tito pun ikut salah satu warga ke rumah sakit.

Sesampai di rumah sakit, tiara dan tito pun kaget melihat kondisi ibunya. Tiara dan tio pun masuk ke ruangan. “ibu, sadar bu..” maafkan tiara kalo selama ini tiara suka melawan ibu” ucap tiara “bu… tito sayang ibu, ibu jangan tinggalin tito” ucap tito “tiara juga sebenarnya juga sayang ibu, tiara bukan anak durhaka bu” ucap tiara. Ibu mensadarkan diri “tiara tito ibu suadah tidak kuat lagi” ucap ibu “ibu kenapa ngomong seperti itu?” tanya tito. Ibu menyuruh tiara dan tito mendekat “tiara tito, ibu memiliki pesan untuk kalian, dan tolong pesan ini disimpan baik-baik dihati kalian” ucap ibu “pesan apa bu?” tanya tiara “ibu ingin kalian jadi anak yang sukses, selalu ingat kepada Allah, selalu berbuat baik, kalian harus saling membantu. Maafkan ibu selama ini ibu belum bisa mendidik kalian menjadi anak yang benar. Dan satu lagi tiara kamu tolong jagain tito, dan tito tolong jagain kakak tiara” ucap ibu. Ibu pun menutup matanya untuk selama-lamanya. “ibu… ibu…” ucap tiara dan tito “ibu bangun bu, tiara gak mau ditinggal ibu” ucap tiara “ibu… tito sayang ibu, jangan tinggalin tito. Ibu… ibu kenapa pergi bu” ucap tito.

Raja siang keluar dari ufuk utara, ibu dimakamkan di dekat rumah. Tiara dan tito masih menangis sejak tadi. Tito mengadzankan mayat ibunya. Sesudah dikubur, semua orang sudah pulang, kecuali tito, tiara dan paman. Tiara dan Tito menyesal apa yang terjadi selama ini.

Kado Untuk Ibu

Cerpen Karangan: Dhea Nadhilah Rizquni S
Kategori: Cerpen Keluarga, Cerpen Penyesalan, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 6 April 2018

Aisyah Az-Zahra, biasa dipanggil Aisyah adalah seorang anak berumur 8 tahun yang sudah bekerja mencari penghasilan bagi keluarga kecilnya. Ayahnya meninggal 5 tahun lalu, karena penyakit jantung yang menyerangnya. Sejak kepergian ayahnya, kehidupan keluarga Aisyah berubah drastis. Ibu Aisyah tidak pernah lagi mau mengurus ketiga anaknya. Saat itu pula mereka hanya bertempat tinggal di sebuah gubuk beralas koran yang kanan-kirinya terdapat banyak sampah menggunung.

Aisyah anak sulung dari 3 bersaudara, adik keduanya bernama Umar berumur 5 tahun yang setiap hari berkeliling di tengah keramaian lalu lintas kota untuk menjual koran bersama kakaknya, sedangkan adik bungsu Aisyah bernama Sofia yang kemarin baru saja berulang tahun ke-3. Setiap hari, Aisyah mengurus kedua adiknya sendiri seperti layaknya ibu rumah tangga. Ibunya sendiri bahkan acuh tak acuh dengan keadaan keluarganya, Namun pekerjaan itu tetap dengan ikhlas ia laksanakan tanpa mendapat balasan apapun.

Siang itu di Ibukota terlihat gelap. Awan hitam tebal menyelimuti langit kota ini. Namun Aisyah dan Umar tidak memperdulikannya, ia tetap semangat menjual koran-korannya walaupun hujan mengguyur seluruh tubuhnya.
“Alhamdulillah!!” seru Aisyah, ia sangat menyukai hujan. Karena hujan adalah rezeki pemberian dari Allah, dan juga hujan dapat memberikan arti bagi setiap kehidupan. Semua korannya laku terjual tidak terkecuali, Aisyah senang sekali kala itu. Namun saat ia pulang ke rumah, ibunya selalu memarahinya. Karena hasil yang Aisyah dapatkan tidak seberapa dengan keinginan ibunya.

Upah Aisyah dalam menjual koran kurang lebih Rp. 30.000,00 setiap harinya. Ia selalu memberikan Rp.20.000,00 untuk ibunya, dan sisanya ia selalu tabung di celengan ayam pemberian ayahnya dulu sebelum meninggal. Sejak lama Aisyah ingin sekali dibelikan Al Quran, namun keinginannya ia pendam. Ia hanya berniat, suatu saat nanti jika uang tabungannya sudah mencukupi, Aisyah akan membelikan sebuah kalung emas sebagai hadiah ulang tahun untuk ibunya. Aisyah bekerja keras berusaha maksimal dengan sungguh-sungguh dan selalu berdo’a memohon kepada Allah agar ia dapat segera membelikan sebuah kalung untuk ibunda tercintanya.

Aisyah sangat pandai mengaji, suaranya indah, nada serta tajwidnya pun lancar dan benar. Suatu hari, ia mengikuti perlombaan MTQ tingkat kota/kabupaten. Tak disangka Aisyah memenangkan perlombaan tersebut, dan berhasil membawa pulang piala, sertifikat, bingkisan, serta uang senilai Rp. 3.000.000,00. Uang itu segera disimpannya di bawah bantal Aisyah, berharap tidak ada yang akan mengambilnya karena uang itu akan ia belikan sebuah kalung yang dari dulu sangat diinginkan oleh ibunya. Tanpa sepengetahuan Aisyah, uang itu berhasil ada di tangan ibu Aisyah. Aisyah menangis dalam do’anya, mengapa uangnya dapat raib hanya dalam sekejap saja?

Dengan mengikhlaskan uangnya, mendadak Aisyah teringat besok adalah hari ulang tahun ibunya. Ia perlahan memecah tabungannya dan menghitung semua uang hasil jerih payah Aisyah yang telah ia kumpulkan sejak lama. Jumlah seluruhnya Rp. 660.000,00. Aisyah berlari kecil menuju kios Koh Atan yang berada di dekat rumahnya dan memilih kalung yang berinisialkan huruf S untuk Santi. Koh Atan memberikan potongan harga untuk Aisyah, dari Rp. 850.000,00 menjadi Rp. 650.000,00. Aisyah berterima kasih kepada Koh Atan dan segera membayar kalung kemudian pulang dengan perasaan senang.

Aisyah memberikan kado itu kepada ibunya saat beliau sibuk bermain handphone barunya dan tersenyum sendiri di depan layar hpnya. Saat ibu Aisyah membuka kadonya dan mengetahui isinya, ia mendadak berdiri langsung memarahi Aisyah karena kalungnya tidak seperti yang diinginkannya. Kata ibu Aisyah, Aisyah tidak boleh pulang ke rumah sebelum ia berhasil memberinya kalung yang diinginkannya tersebut. Aisyah menunduk, menuruti perintah ibunya dan melangkah pergi. Aisyah mencari uang dengan tidak berjualan koran lagi, melainkan menjadi pengamen jalanan dan membantu mengangkat karung beras karena dikabarkan usaha korannya saat itu sedang gulung tikar.

Menit berganti jam, siang berganti malam, begitupun seterusnya. Aisyah tetap semangat bekerja, dari pagi sampai siang Aisyah membantu mengangkat karung beras dan membantu orang berjualan di pasar, sore hari sampai malam ia mengamen di terminal kota. Tapi belakangan ini Aisyah merasa pusing dan sakit kepala, penglihatannya juga kabur. Pernah saat itu Aisyah pingsan, sampai ada seseorang ibu-ibu yang harus membawa Aisyah ke Rumah Sakit Medika. Menurut analisa dokter, Aisyah mengalami kanker otak stadium IV. Aisyah divonis oleh dokter bahwa umurnya tidak akan lama lagi.

Telah dikabarkan bahwa kemarin sore, ibu Aisyah mengalami kecelakaan yang amat parah hingga mengakibatkan kelumpuhan pada kakinya. Diakibatkan oleh kelalaiannya sendiri, saat itu ibu Aisyah berjalan kaki akan menuju pasar sambil memainkan handphonenya. Sehingga saat akan menyeberang, tanpa ia sadari sebuah mobil pickup besar melaju sangat cepat dan menabrak seseoraag di depannya, ibunda Aisyah.

Sedangkan Aisyah, sehari setelah pulang dari rumah sakit, tanpa ba-bi-bu langsung melanjutkan tugas dari ibunya agar ia dapat segera pulang ke rumah. Namun, karena kerja terus menerus dari pagi hingga malam yang hanya makan sisa makanan di tempat sampah, Aisyah akhirnya tak dapat bertahan. Nasib dan takdir mengubah segalanya. Ia meninggal dunia dengan tenang dan dalam keadaan khusnul khotimah. Ibunda Aisyah sempat shock dan menagis histeris saat mengetahui bahwa putrinya meninggal. Perlahan ia merelakan dan mengikhlaskannya.

Bu Retno, guru mengaji Aisyah datang menghampiri ibunda Aisyah dan memberikannya sebuah amplop kecil bertuliskan Untuk Ibu Aisyah. Dengan tangan gemetar, ibunda Aisyah membukanya. Isi dari amplop tersebut adalah sebuah wasiat dari Aisyah:
“Ibu, maafkan Aisyah. Aisyah tidak dapat memberikan kalung yang diinginkan ibu. Badan Aisyah lemas bu, Aisyah nggak kuat lagi untuk bangun. Kepala Aisyah sakit bu, mata Aisyah seperti ada kabut tebalnya. Aisyah rindu ibu, Aisyah rindu adik-adik Aisyah, Aisyah juga rindu ayah. Tapi Aisyah akan bertemu ayah suatu saat nanti. Aisyah hanya dapat memberikan uang ini bu (Rp. 400.000,00), kalo nggak cukup ibu bisa menukar kalung yang Aisyah belikan dengan yang baru. Terima kasih ibu sudah merawat Aisyah, sudah membesarkan Aisyah, semoga ibu mendapatkan balasan surga dari Allah.”

Air mata ibu Aisyah mulai membendung di pelupuk matanya dan mengalir deras di pipinya. Dengan dibantu Bu Retno, beliau pergi ke makam Aisyah. Memanjatkan do’a dan memberinya sebuah kitab suci, Al-Qur’an. Mulai saat itu, Ibu Aisyah bertaubat dan memulai kehidupannya yang baru.

Wanita Hebat

Cerpen Karangan: Yulia Pratiwi
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 7 April 2018

Langit cerah menyambut semua yang ada di sini. Udara pagi menyapa lapangan yang penuh dengan lautan manusia. Rumput bergoyang seirama dengan angin yang berhembus. Warna putih bercampur hijau mendominasi indra penglihatan. Kertas warna-warni yang digunting kecil-kecil menempel pada tali sebagai pembatas yang mengelilingi lapangan.
Spanduk besar yang bertuliskan ‘SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1434 H’ tergantung di beberapa sudut lapangan, termasuk di jalan utama masuk lapangan dan di belakang mimbar besar yang ada di depan.

Aku merasakan bibirku tertarik ke atas memandang sekeliling. Aku semakin tersenyum lebar ketika mataku terfokus pada wanita yang paling aku hormati dalam hidup ini. Dia sudah duduk rapi, duduk sila, disebelah tanteku. Dia berbalik saat menyadari tempat di samping tongkatnya masih kosong. Mata kami bertemu, dia tersenyum ketika melihatku juga tersenyum lebar memandangnya.

“Ayo cepat ke sini, shalat akan segera dimulai” ucapnya sambil menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya. Aku cuma mengangguk membalas perkataannya dan bergegas mengambil tempat di sebelahnya.
Aku menggelar sajadahku saat bersamaan imam sudah mengkomandankan untuk memulai shalat Id.
Tidak henti-hentinya aku menyisipkan kata syukur kepada Allah disetiap gerakan solatku. Aku tak sadar ternyata aku sudah menitihkan air mata di sujud terakhirku dalam shalat ini, air mata bahagia.

Selesai salam aku langsung menarik tangan wanita disebelahku, kemudian menciumnya lama. Wanita yang sangat aku sayang, Ibuku. Aku merasakan mata ibu juga merah berkaca-kaca, berusaha menahan air matanya yang jatuh.
Aku tidak mau ibu melihat mataku yang sudah berair, jadi aku langsung menghadap ke depan lagi setelah melepaskan tangan ibu. Aku tidak mau ibu sedih melihat air mataku, walaupun ini air mata bahagia. Karena aku tau, ibu tidak suka melihatku menangis.

Aku menengadahkan kedua tanganku ke langit, memanjatkan doa.
“Ya Allah ya Rabb, terima kasih atas kebaikanMu yang mengabulkan do’aku selama setahun terkahir ini. Aku sangat bahagia, Engkau benar-benar mendatangkan hari ini sesuai harapanku. Aku bahagia, ya Allah.”
“Maafkanlah segala dosa yang telah aku lakukan selama ini, dosa besar yang telah aku lakukan beberapa tahun terakhir. Mengabaikan Engkau yang maha besar, mengabaikan perintah-perintahMu yang sangat bermanfaat, mengabaikan Ibuku yang sangat mengkhawatirkanku, mengabaikan keluarga yang menyayangiku, Maafkan hambaMu ini ya Allah..”
Satu tetes air mata jatuh lagi tentang mukena yang aku pakai, dua tetes, tiga tetes.

“Ya Allah, untuk saat ini, aku cuma meminta semoga Ibu dalam keadaan sehat selalu, tetap menjadi ibu yang menyayangiku, rendah hati, sabar. Dan selalu menjadi wanita hebat yang menjadi inspiraiku.. Amin ya rabbil alamin..”
Aku mengusap air mataku sebelum berbalik memeluk ibu. Mata kami bertemu, aku melihat mata ibu sudah basah. Posisi ibu masih sama seperti saat tadi dia memanggilku, yakni posisi duduk rapinya, duduk sila. Ibu memang shalat dalam posisi duduk karena keterbatasannya.
Aku langsung menarik lagi tangan ibu dan menciumnya lebih lama dari tadi, ditambah aku sedang menangis sekarang. Aku tetap tidak bisa menahan air mata ini.

Setelah melepas tangan ibu, aku langsung memeluknya. Meluapkan segala emosi dan perasaan yang mendalam kepada ibu. Ibu membalas pelukanku, tangannya membelai kepala hingga punggungku. Aku kembali merasakan perasaan hangat.
“Jangan menangis, nanti kau tambah jelek” canda ibuku, yang aku tau dia juga masih menangis, meskpiun tidak separah aku. Aku menghiraukan gurauannya.
“Maafkan aku bu’. Maafkan aku.”
“Ibu selalu menyayangimu, tidak ada yang perlu dimaafkan di antara kita nak”
Ya, itulah ibuku, hatinya sangat baik. Aku melepaskan pelukanku saat mendengar suara keras dari depan, tanda khotbahyang  akan dimulai. Aku mengusap air mataku.

“Menghadap kedepan nak, supaya kau lebih menghayati khotbahnya”
“Aku ingin melihat ibu lebih lama”
“Kau bisa sepuasnya memandangi ibu saat di rumah” Ibu sudah menghadap kedepan menyisakan aku yang masih menghadap ke samping. Aku akhirnya menuruti perkataan ibu.
Meskipun mataku tertuju pada mimbar, tapi pikiranku sudah berpindah tempat ke masa lalu. Dimana kejadian itu bermula. Kira-kira 15 tahun yang lampau, dimana ketika umurku masih 3 hampir 4 tahunan.

Ketika itu, Ibu akan pergi menjemput kakak yang sekolah di salah satu TK didaerah kami. Untuk sampai kesekolah kakak, ibu harus menumpang angkutan umum terlebih dahulu. Kulihat ibu sudah siap-siap di depan pintu.
“Nak, ibu pergi dulu. Nanti ibu singgah panggil tante kamu buat jagain kamu. Jangan nakal ya.”
“Ibuu, ikut” rengekku sambil menarik-narik ujung baju yang dikenakannya.
“Ibu cuma bentar sayang,” ucapnya menenangkanku sambil mengusap kepalaku. Lalu mencium dahiku. Di saat itu juga, tanteku tiba di rumah. Sepertinya ibu sudah meneleponnya tadi.
“Untung kamu datang, tolong jagain keponakanmu sebentar ya” ucapnya kepada tante.
“Siap kak,.”
Setelah itu aku melihat ibu sudah berjalan melewati pintu. Aku menangis ingin ikut. Tanteku berusaha membujukku  agar tidak menangis lagi, tapi apa daya, aku tetap saja menangis saat itu.

Setelah 30 menit menangis terus, ibu belum juga pulang. Tante sudah panik dari tadi. Maklum, umur tante saat itu masih 16 tahun. Dia sesegera menelepon ibu dan mengatakan kalo aku menangis terus dengan nada yang panik luar biasa. Jadilah ibuku ikut panik. Yang aku dengar saat itu, ibu sudah menunggu angkot untuk pulang. Tapi karena telepon tante, ibu segera menumpang mobil apa saja yang lewat, mobil pick up.
Tante terus menenangkanku, mengatakan ibu akan pulang. Yang aku ingat, aku sudah mulai tenang saat itu. Aku sudah lelah menangis. Mataku sudah sayu. Tiba-tiba terdengar suara tabrakan dari arah jalan raya di depan rumah. Tante segera menggendongku dan mengintip lewat jendela.
Yang aku dengar saat itu adalah, nama ibu dan kakak diteriakkan oleh beberapa orang. Dan aku tidak ingat apa-apa lagi karena aku sudah jatuh tertidur di gendongan tante.

“Ibu kamu kecelakaan nak,”
Itu kalimat pertama yang aku tangkap setelah aku bangun. Aku memandang sekeliling, ternyata aku sudah berada di rumah sakit. Di kamar ibuku yang masih terbaring tidak sadarkan diri. Aku melihat kedua kakinya digantung di ujung ranjang. Aku menangis lagi, entah menangis karena melihat ibu, atau karena aku masih kecil saat itu.

Selama hampir 5 bulan ibu dirawat inap di rumah sakit. Hari pertama pulang ke rumah, ibu belum bisa bangun. Kakinya masih diperban. Menurut cerita yang aku dengar, ibu sangat disayang oleh dokter dan suster di rumah sakit. Karena ibu selalu menuruti apa yang dikatakan oleh dokter, tidak seperti pasien yang lain. Dan nenek juga pernah bilang kalo selama di rumah sakit, ibu tidak pernah menangis bahkan mengeluh kesakitan juga tidak pernah. Ibuku memang sangat hebat.

10 tahun berlalu begitu cepat. Ibu sudah bisa berjalan menggunakan tongkat. Setiap subuh, ibu selalu membangunkanku untuk shalat, tapi aku hanya sekali-kali melakukannya. Setiap malam sebelum tidur, aku mendengar ibu mengaji di kamarnya.
Ibu tidak pernah meninggalkan shalat walaupun keadaannya seperti ini. Aku saja yang sehat walafiat saat itu hanya sekali-kali shalat, tapi ibu yang kalau shalat harus shalat duduk karena tulang pahanya ada yang patah sehingga dia tidak bisa rukuk dan sujud, tidak pernah meninggalkan shalat.
Itulah ibuku, setiap akhir shalatnya selalu memanjatkan doa untuk kedua anaknya. Mungkin doa terakhir yang di sebutnya adalah doa untuk kesehatannya sendiri, karena yang utama untuknya adalah anak-anaknya.

Semenjak aku masuk SMP aku sudah jarang membantu ibu. Ibu semua yang mengerjakan pekerjaan rumah dengan segala kekurangan di kakinya. Aku selalu keluar bermain. Atau kalau aku di rumah, aku hanya berdiam diri di dalam kamar.
Dan ibu juga tidak pernah mempermasalahkan aku tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Dia hanya sering menegurku karena tidak shalat. Dan aku hanya mengatakan nanti nanti dan pada akhirnya tidak.

Suatu malam, tahun lalu, aku tidur lebih awal, sekitaran jam 9. Aku merebahkan tubuhku di kasur. Aku sayup-sayup mendengar suara ibu yang melantungkan ayat-ayat al-qur’an dengan merdu. Tetapi karena aku sangat lelah setelah seharian dari kampus, aku memilih mendengarkan lagu pop dari Smartphoneku dari pada mendengarkan suara ibu.

“Ibuu,”
“Ibu jangan tinggalkan kami”
Itu yang kudengar adalah suara kakak yang memeluk seseorang yang sedang berbaring. Aku berdiri di pintu tidak bisa bergerak. Aku melihat orang-orang dengan pakaian hitam-hitamnya berjalan menuju rumah. Menangis seperti kakak. Kakak menggeser sedikit tubuhnya sehingga aku dapat melihat orang yang dipeluknya tadi.
“Itu ibuu..” teriakku dalam hati. Wajah ibu pucat, tidak bergerak sama sekali. Aku ingin sekali menangis, namun air mata tidak mau turun dari mataku. Aku ingin memeluk ibu, tapi tubuh ini tidak bisa bergerak.

“Ibuu”
Aku terbangun dari tidurku. Membersihkan keringat yang ada di dahiku, air mata di pipiku. Nafasku memburu. Aku segera turun dari ranjang dan berlari ke kamar ibu. Ibu masih berbaring nyaman di kasur. Aku memeluk ibu dengan air mataku yang membasahi daster lusuhnya. Ibu tersadar dari tidurnya dan memandangku bingung,
“Maafkan aku bu, maafkan aku.”
“Ada apa nak?” tanya ibuku pelan sambil membelai kepalaku yang masih memeluknya.
“Aku mimpi buruk bu, sangat buruk. Aku minta maaf” ucapku tidak teratur karena tangisan yang  masih menguasaiku.
“Tenang nak, tidak apa-apa. Sebaiknya kau shalat sunnah 2 raka’at dulu”
“Iya bu”. Setelah mengucapkan itu, aku langsung ke kamar mandi mengambil air wudhu dan shalat.

Mimpi buruk itu mengubahku setahun terakhir ini. Aku tidak pernah lagi meninggalkan shalat. Ibu mengajarkanku banyak hal. Bersabar, rendah hati, ramah, selalu jujur, dan banyak lagi yang aku bisa banggakan dari ibu.
“Nak, ayo pulang”
Aku tersentak dari lamunan masa laluku saat ibu menyentuh bahuku. Aku melihat sekeliling, orang-orang sudah mulai meniggalkan lapangan.

“Kau memikirkan apa, nak?”
“Tidak bu. Hanya saja, aku bersyukur sekali akhirnya bisa melewati Hari penuh berkah ini bersama ibu. Ini pertama kalinya, dan aku sangat bahagia. Terima kasih bu”
“Ibu juga berterima kasih karena kau sudah tumbuh sebesar ini, nak”
Kami tersenyum dan berjalan keluar lapangan seperti yang lainnya. Aku membantu ibu berjalan dengan memegang salah satu tangannya, dan salah satu tangan ibu memegang tongkat.

“Aku bahagia saat ini, Ya Allah. Terima Kasih”

Ibuku Duniaku

Cerpen Karangan: Dinda Tiara Gita Sumanda
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 26 January 2018

“Akuuu benci ayah..!!!” teriakku menggema dilapangan basket outdoor, ditempat ini ku keluarkan semua amarah dan kekesalanku. tempat ini menjadi saksi kepiluan sebuah pengkhianatan, kulempar bola basket dengan bengisnya diriku tidak dapat menahan kekecewaan dan dendam yang teramat sangat. Lagi air mata ini jatuh mengingat sosok ayah yang kuhormati dan orang yang kusayangi tega mengkhianati aku dan ibu karna ayah menikah lagi dengan perempuan yang lebih muda dari ibu, yang merubah paradigmaku tentang sosok ayah.

Aku lari, berlari seolah berpacu dengan angin malam, aku tak peduli dinginnya angin yang berderu, sesampai di rumah kulihat ibu tersedu sendirian di sudut kamar. “ibu, aku yakin kita mampu hidup berdua tanpa ayah juga” kukecup kening ibuku dengan penuh cinta, dan saat itu juga air mataku menetes lagi.
Dengan lembut ibu tersenyum padaku “ini belum seberapa nak, kelak kita akan menemukan cobaan yang beribu lebih besar” dapat kurasakan hembusan nafasnya yang bercampur aroma ketegaran mengahadapi cobaan hidup ini.

Setelah kepergian ayah, ibu berjuang seorang diri demi membiayai sekolah dan mengisi perut kami. Setelah itu pula tak pernah lagi kulihat pria yang telah menemani ibu selama 17 tahun, mungkin dia sibuk dengan istri barunya dan telah melupakn kami, biarlah aku pusing karenanya. Bagiku, setelah ibu aku tidak butuh apa-apa lagi.

Bertahun tahun lewat berlalu perlahan kami sudah  bangkit dari keterpurukan, dan aku dan ibu membentuk dunia kami sendiri dimana hanya ada aku dan ibu. Ibu rela tak menikah lagi demi mencurahkan seluruh kasih sayangnya untukku, ibu kaulah hidupku setelah dirimu aku tak butuhkan apa apa lagi.

Tamat

Baca Juga : Cerpen Tentang Pendidikan Yang Paling Mengesankan [REKOMENDED]

Nah, itulah Contoh Cerpen Tentang Ibu Yang Mengharukan. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan Anda dan juga bisa bermanfaat bagi kita semua.

Cerpen Tentang Ibu

Leave a Comment