Cerpen Tentang Kehidupan Yang Paling Mengesankan [REKOMENDED]

Cerpen Tentang Kehidupan Yang Paling Mengesankan [REKOMENDED]

Cerpen Tentang Kehidupan – Kali ini kita akan membahas tentang cerpen. Berikut ini ada beberapa Cerpen Tentang Kehidupan yang bisa Anda jadikan sebagai referensi atau tugas Anda. Okee langsung aja kita liat artikel dibawah ini.

Kumpulan Cerpen Tentang Kehidupan

Cerpen Tentang Kehidupan
Cerpen Tentang Kehidupan

Bahagiaku Adalah Bahagiamu

Cerpen Karangan: Fajar CT
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 20 May 2019

Kring.. kring.. kring bunyi handphone di saku kananku, Aku tidak berani membukanya meski tak seorang pun mengawasiku di ruangan ini tapi tetap ada CCTV di setiap sudut ruangan tengah mengawasiku, terpaksa kuletakkan di depan toilet sapu dan pelku serta ember yang kujinjing, kini Aku terburu-buru mengayunkan kaki ke dalam toilet, tanganku tergesa-gesa meraih hpku yang sedang berbunyi dalam sakuku, “Halo” terdengar nada suara yang tak asing lagi menyentuh telingaku, sekarang nafasku sesak, hatiku seakan ingin pecah, rongga mulutku enggan mengeluarkan lisan, hanya kelopak mata diiringi dengan deraian air mata bening yang seakan memberikan isyarat bahwa hati ini sedang ada rindu yang terpendam, kini kondisiku benar-benar kaku dalam toilet tapi Aku harus kedengaran kuat dalam telinganya. Perlahan-lahan Aku menarik nafas untuk menenangkan pikiranku, “Ha..halo i.ibu,” ucapku dengan bibir yang gemetar
“Apa kabar nak” balasnya
“Baik bu’ Aku sekarang lagi di tempat kerja bu’ sudah dulu ya bahaya kalau ketahuan atasanku nanti Aku dipecat” ucapku kembali dengan lisan yang kupaksakan
“Iya nak, wassalamualaikum” lisan yang begitu menurut terdengar di telingaku
Oh Tuhan sungguh Aku tak bisa menjawab salamnya dengan lisanku hanyalah air mata yang dapat menjawabnya saat ini.
“Ya Tuhan Aku rindu dengan ibuku, lepaskan Aku dari penjara bebas ini” do’aku saat ini.
Kutenangkan kembali pikiranku, astaga ya Tuhan, Aku tersadar bahwa ada sapu dan pel serta ember yang sedang menungguku di luar sana.

Aku bergegas dan mulai membersihkan lantai office, kusapu dengan bersih kemudian kudaratkan kain pelku agar lantainya mengkilat, tak lain hanya ingin mendapat pujian dari atasanku dengan begitu Aku tetap bisa bertahan bekerja di tempat ini.

Bagian office telah selesai kembali kudaratkan sapuku dan pelku di lantai dua, setelah lantai dua selesai, kuayunkan kembali kakiku ke lantai tiga dan lantai empat hingga tuntas, kubersihkan sisa makanan yang menempel tadi malam, kini jarum jam menunjukan angka 10.30, tiga jam setengah Aku membersihkan seluruhnya bukan main keringat berkucur di seluruh tubuhku, aku sangat lelah, pikiranku bercampur aduk ingin rasanya berlari dari tempat ini tapi ada lisan kembali terngiang dalam pikiranku “Berani berbuat berani bertanggung jawab, yah kamu harus bertanggung jawab Fajar” lisan dari seorang kawan yang pernah membawaku berlabuh dalam buku agendanya dengan agenda-agenda harian yang sangat indah, setelah semua agendanya selesai, kini mungkin yang menjadi lawan tapi entahlah, atau memang Aku yang tidak bertanggung jawab sehingga Membuat hpku ribut dan setiap tanggal 15 inboxku berisi pesan “Pak angsuran bulan ini kapan dibayar, sekarang sudah tiba waktunya” sejujurnya ini alasan utamaku berada di tempat ini, Aku tak berani jujur di hadapan orangtuaku, Aku tidak sanggup membebani mereka lagi di lain sisi uang yang aku pinjam bukan hanya kepentinganku tapi kepentingan kami, tapi sayangnya dalam buku agenda harian mereka namaku telah terhapuskan, kini hanya Aku yang bertanggung jawab seorang, bukan hanya bertanggung jawab atas utang tapi juga bertanggung jawab atas kerinduan pada sang ibu.

“Ya Tuhan kapankah terselesaikan masalah ini, jangan panggil Aku dalam perantauanku sebab ada tanggung jawab manis yang sedang menunggu untuk membahagiakan orangtuaku” kembali terngiang do’a dalam hati kecilku.

Ingin kuceritakan kepada ibu hari-hariku yang kujalani tanpanya akan tetapi Aku takut, Aku takut dipanggil pulang kampung sebelum waktunya ketika mendengar semua yang kujalani di sini, apa lagi mendengar kejadian tadi siang yang Aku alami, Aku hampir mati karena hernia yang menyerangku, untungnya hari ini customer sepi tak satupun orang di toilet lantai tiga kecuali hanya hanya Aku yang sedang menyandarkan kaki di dinding dan kuletakkan kepalaku di lantai, hanya itu yang bisa kulakukan ketika hernia sedang menyakitiku, sekitar sejam aku di sana mengigil kesakitan sebelum semua kembali normal.

Sesungguhnya penyakit ini sebelumnya pernah terjadi di kosan temanku, mereka ingin membawaku ke rumah sakit tapi Aku melarang mereka sebab Aku tak ingin seorang pun yang mengetahui kejadian ini terutama sang ibu, bagaimana jika ia tahu pastinya Aku di panggil untuk pulang dan pastinya mereka dihantui dengan rasa khawatir.
Bukan hanya itu yang terjadi di sini tapi bagaimana jika ia mengetahui kalau yang menjadi santapanku setiap hari hanya semangkuk mie instan bahkan pernah menyantap nasi goreng dari nasi yang sudah basi.
Aku tak ingin ia mengetahui semua hal ini, biarkan Aku tanggung sendiri, sudah cukup Aku membebani mereka selama ini. Inilah cobaan untukku.

Kini hampir dua bulan telah Aku lewati hari-hariku diperantauan tanpa sang ibu di dekatku, hanya ada teman-teman sekolahku dulu yang sedang kuliah di sini yang setiap menemaniku.
Hampir satu bulan ibu tidak pernah menghubungiku pada hal kerinduan ini masih tetap bercokol dalam pikiranku, tapi tak perlu membutuhkan waktu yang panjang untuk memikirkan hal tersebut, hanya 10 menit memikirkan hal itu, iya sih memang naluri sang ibu dan anak sangat kuat “Halo” lisan yang aku rindukan terdengar di telingaku
“Iya bu” balasku, “kata temanmu kamu lagi sakit ya, kamu pulang dulu besok ya nak” ucap dari ibuku dengan nada yang sangat khawatir
“Aku belum bisa pulang bu’ nanti setelah Aku gajian, Aku baru pulang ya bu” ucapku dengan sedikit membujuk
“itu masih lama nak, masih ada 20 hari, kamu pulang dulu nak untuk berobat” ibuku dengan nasehatnya
“tidak bu’ aku tidak apa-apa nanti setelah gajian saja Aku janji pulang tapi satu syaratnya, Aku tidak mau ke dokter Aku mau dirawat di rumah saja” ucapku dengan tegas
“iya nak kamu janji harus pulang tanggal satu ya, kalau tidak pulang Aku bawa kamu ke dokter untuk dioperasi” ucapnya juga dengan tegas
“Iya, iya bu’ Aku janji, sudah dulu ya bu’ wassalamualaiakum” segera kututup telponku dan mencari tahu siapa yang memberitahu ibuku tentang kejadian ini.

kutemui satu/satu temanku di kamarnya, ya memang betul sudah kuduga ternyata temanku yang pernah melihat Aku sakit di kosanya, “Apa urusan kamu dengan hidupku bro, memberitahu ibuku kalau Aku sedang sakit di sini” kubentak dia
Aku sangat kecewa atas kejadian ini, tapi ia tidak mempedulikan lagi perkataanku, hanya menyodorkan selembar kertas “apa maksud kamu jar? lihat ini” Aku melihat kertas yang disodorkannya ternyata kertas yang Aku sembunyikan di kantong tasku, hasil chek upku, dengan sesaat aku sangat kaget dan mengatakan kepadanya “Aku mohon jangan beri tahu kepada siapa-siapa tentang apa yang dalam kertas ini” Aku berlutut di hadapannya dan memohon, ia hanya mengangguk dan meninggalkanku.

Sejujurnya 2 hari setelah Aku sakit parah waktu itu, Aku ke rumah sakit sendiri untuk chek up tidak ada yang mengetahui seorang pun dari mereka begitu juga dengan hasil chek upku tidak ada yang mengetahuinya, sebab Aku takut jika ibuku mengetahui hasil chek upanku, ia pasti akan syok atau bahkan sesuatu yang bakal terjadi dengan dirinya. Bagaimana tidak, Aku adalah anak semata wayangnya, setelah adikku meninggal 4 tahun yang lalu dan sekarang bukan hanya hernia yang bersarang di tubuhku tapi juga hepatitis yang berada di stadium akhir. Kini hanya aku, dokter, temanku serta tuhan yang mengetahui hal ini.

Sekarang bukan hanya utang dan rindu yang Aku tanggung dalam perantauanku tapi seluruh sakit yang menyerang tubuhku, sesungguhnya seandainya hanya ada Aku seorang dalam kehidupanku ini Aku tak mempermasalahkan beban sakitku tapi ada orang-orang yang ingin Aku bahagiakan terutama sang ibu.
Tapi Aku yakin Tuhan pasti punya rencana yang lebih baik. Kuserahkan semua kepada sang pencipta alam semesta.

Baca Juga : Cerpen Tentang Ibu Yang Paling Mengharukan & Mengesankan

Fitnah dan Jail

Cerpen Karangan: Benny Hakim Benardie
Kategori: Cerpen Kehidupan
Lolos moderasi pada: 13 September 2018

Dinginnya malam usai hujan rintik-rintik serasa menusuk tulang. Tak satu katapun yang dapat terucap, selain pasrah akan hukuman selama satu tahun tiga bulan di dalam jail.

Aku tak menyangka, selama itu hakim menjatuhkan hukuman. Padahal aku tidak mencuri sendal jepit yang ditudingkan. Saat itu aku hanya memakainnya untuk pergi mengambil wudhu ke Musholah di seberang jalan. Rupanya pemilik sendal yang merupakan anak dari seorang perwira polisi meneriaki aku sebagai pencuri.

Sontak saja masyarakat menangkap dan menyerahkanku ke kantor polisi, setelah beberapa pukulan menghampiri wajah dan pinggangku.

“Ampun Bang… Aku tidak maling… Ampun Bang…” teriaku memohon, Usahaku sia-sia, massa terus menghajarku hingga aku pingsan beberapa saat.
“Ah… Alasan maling! Pukul terus… pukul… pukul”, teriak seseorang sebelum aku hilang kesadaraan.

Perasaan kalut bercampur baur saat aku diinterogasi polisi. Aku tetap tidak mengaku kalau aku mencuri. Belum usai menjelaskan, aku tak sadarkan diri. Saat siuman, jeruji besi dan dinding ruangan pengap yang tampak di hadapanku. Kepalaku sakit sekali, seperti kena hantaman besi. Dadaku mulai terasa sesak.

“Nah… Sudah sadar kamu. Kamu Robi?” kata seorang polisi jaga.
Aku hanya bisa menganggukan kepala.
“Alamat di KTP kamu ini benar? Kamu tinggal sama orangtua atau Orang lain? Benar umur kamu 21 Tahun saat ini?”
“Benar… Sama paman dan bibi…”, jawabku terbata-bata. Polisi itu pun berlalu. Kebetulan didalam jail, cuma aku saja yang tinggal.

Keesokan harinya aku kembali diperiksa hingga akhirnya kasus tetap berlanjut ke jaksa dengan barang bukti satu sendal jepit. Akhirnya putusan pengadilan tanpa bandinglah yang menghantarkan aku ke jeruji besi, beruangan sempit dan pengap.

Berdebar kencang jantungku, ketika pintu jail ditutup banting oleh seorang sipir. Saat tiba didepan di ruangan, terlihat 13 orang berbadan kumal, bertato tanpa baju menantiku.

“Kamu masuk sini. Jangan ribut. Kalau ribut, kamar gelap tempat kamu nanti”, kata seorang sipir penjara sembari mendorongku masuk.

Di dalan kamar aku disambut seseorang pria bertubuh kerempeng, berbadam pendek. Rupanya dia adalah kepala kamar jail. Ketakutanku tak terbayangkang, saat rambutku dijambak pria tadi.

Siapa nama kamu? Apa kasus kamu?” bisiknya, membuat merinding bulu kudukku.

Gagap aku menjawab. Satu tamparan aku terima, sampai-sampai hingga badanku berputar. Aku menangis, dan minta tolong jangan dipukul. Rupanya permohonan aku itu membuat penghuni kamar tertawa.

“Badan saja yang besar…”, bentak salah seorang tahanan sembari menoyor jidatku. Aku hanya bisa tertunduk takut. Keringat dingin pun mengucur. Tak terasa aku pun pipis. Untung saja tidak ada di antar mereka tahu.
“Tolong aku Tuhan…” doaku dalam hati.

Sore menjelang ba’da Shalat Ashar tiba. Sembilan tahanan di kamarku dipersilahkan keluar kamar jail. Aku hanya bungkam tak berani bertanya, kenapa aku tidak. Ternyata mereka menuju arah masjid yang ada di penjara peninggalan Belanda ini, untuk shalat. Sementara empat tahanan lainnya tinggal di kamar, karena beragama non muslim.

Aku sempat binggng saat akan permisi ke WC, karena harus melangkahi seorang tahanan yang lagi tertidur. Maksudku diurungkan karena kagok bercampur takut. Tayamum langkah yang harus aku lakukan.

Meskipun harus shalat sembari duduk, terpaksa. Mengingat kecilnya kamar jail yang kutempati. Ditambah lagi ada senior tahanan yang lagi tidur mendengkur dan tiga orang lagi tampak sedang duduk saling pijat bahu.

“Aku numpang sholat sebentar… Maaf Bang!”

Tak ada sedikitpun jawaban dari mereka, seakan tak menghiraukan aku, atau mungkin karena melihat kondisiku yang lagi lemah, dengan beberapa lebam di wajah. Baru saja sholat akan dimulai, aku hampir kaget ketika mendengar deheman dari belakang

“E Eheemmm…”
Mereka yang melihatku kaget, malah tertawa terkekeh-kekeh.

Malam pertama aku di kamar jail sak wasangka mengerayangi pikiranku. Aku tak bisa membayakan apa yang terjadi bila gelap menjelang. Setiap nafas yang aku hempaskan doa selalu kupanjatkan, untuk minta pertolongan dan perlindungan Tuhan.
Sempat aku berfikir untuk bunuh diri. Untung saja situasi dan kondisi kamar tidak memungkinkan aku melakukan perbuatan fasik itu.

Malam sudah pukul 20.12 WIB, itu yang kudengar pembicaraan dari orang kamar jail sebelah tempatku. Rasa laparku amat sangat melilit perut. Mau menoleh apakah yang lain punya makanan, aku tak berani. Jangankan bicara, dengar dehemannya aja aku kaget bukan kepalang.

Dari sudut kirim kamar ada yang memanggil. “Hei cengcorang ke sini kamu”.

Aku tak mengubris. Aku tetap menundukan kepala. Karena aku kira suara itu memanggil orang lain. Ternyata itu sebutan baru aku yang diberikan oleh kepala kamar. Terakhir baru aku tahu kalau nama panggilannya, Bang Mamat.

Saat panggilan kedua, aku sempat mengintip. Ternyata arah panggilan itu untuk aku. Bergegas aku mendekat.
“Sa…aya Bang”.
“Duduk sini tolong pijat kaki ini”, kata Bang Mamat sambil menunjuk mengunakan rokoknya.

Tampa ba bi bu, aku segera memijat. Sementara tahanan lainnya mulai mengantuk, kecuali satu orang yang tidur di dekat kamar mandi tadi.

Bang Mamat menanyakan kenapa sampai aku dapat mendekap di jail ini. Setelah aku ceritakan, rupanya sangarnya tidak sesanggar yang disangka. Bang Mamat juga seorang perampok, tapi dulu. Terakhir dirinya dijebloskan lagi dalam jail, akibat fitnah. Padahal Bang Mamat sudah lama bertobat, tidak merampok lagi.

“Itulah kenyataannya. Fitnah itu lebih kejam dari pembunhan”, kata Bang Mamat.
“Iya Bang, mungkin aku kebetulan saja naas”.
“Ah kamu ini…” bentak Bang Mamat, sampai aku hampir melepaskan pijatan di bahunya. “Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua yang terjadi merupakan kehendak Tuhan. Kita di sini kehendak Tuhan. Tuhan lebih tahu apa yang baik kedepannya untuk kita”, suara Bang Mamat mulai tinggi membuat semua buluku merinding.

Tanganku terasa sudah pegal. Tapi aba-aba untuk selesai belum juga ada sinyalnya dari Bang Mamat. Pelan sedikit, dehemanpun keluar dari bibirnya yang banyak bekal luka, mungkin akibat pukulan.

“Ingat ini semua temuan hidup. Kita di sini senasib. Kamu sudah makan?”
“Belum Bang dari pagi”.
“Ambil nasi aku tu. Kenapa apa kamu tidak punya keluarga?”
“Ada paman sama bibi. Orangtuaku sudah nggak ada lagi Bang”.

Jawabanku tak direspon. Nasi jatah kepala kamar aku makan. Saat makan, tak ada suaara yang indah di sini, selain suara teriakan, dengkuran atapun keluhan di tiap sudut kamar jail.

Tidak sadar, aku pun sampai tidur di dekat piring makan, tanganpun masih penuh nasi. Baru saja senyap, satu tendangan mendarat di kepalaku.

“Pindah kamu diujung”, sambil menunjuk karah pintu jail. Bak tentara diperintah komandan, segera aku laksanakan, sebelum tendangan selanjutnya mendarat dipipi.

Malam itu seperti pesawat tentara sekutu ingin mengempur Indonesia, tak henti melintas di telinga. Nyamuk besar bukan kepalang bukan main banyaknya. Para tahanan, tampaknya sudah bersahabat dengan para nyamuk.

Satu ekor gigitan nyamuk, rasanya seperti satu kali kena suntikan perawat yang baru belajar nyuntik. Lah ini, nyamuk yang ada ribuan ekor!

Semuanya sudah terjadi dan harus diterima. Disaat dingin mulai menusuk tanpa selimut dan bantal dalam keheningan malam, deraian air mata membasahi pipiku. Tetap tidak sedikitpun suara yang mampu aku keluarkan. Terngiang aku akan nasehat ayahku, saat dirinya masih hidup dan masih bertugas di Bengkulu City.

Dengan mengelus kepalaku. Ayah menasehatiku, supaya tidak cengeng sebagai anak lelaki, dan aku jua anak tunggal pula. Pesan Ayah, anak lelaki tempat mengadu, anak perempuan tempat kembali.

Pilu rasanya saat teringat nasehat ayah. Air mataku mengalir mengikuti jeruji besi yang kokon menghalang. Terakhir sebelum ayah meninggal, aku juga terkenang pesannnya dengan mengunakan Bahasa Bengkulu, tidak memakai bahasa Melayu tinggi. Sudah cukup lama juga keluargaku bergaul dengan penduduk setempat.

Tangisanku sekuat tenaga kutahan agar tak bersuara saat mengenang pesan ayah, yang berharap aku mejadi seorang polisi. Itu disampaikannya setelah dua bulan ibuku meninggal karena terkena peluru nyasar yang tidak tau dari mana.

“Robi… Ingat pesan ayah untuk kamu sebagai lelaki. Batu Bulek idak besending. Kemano Lurah Ngguling. Kebilah Sehelai Daun, Burung Pipit Idak Besarang (Batu bulat tidak ada sisinya. Ke mana jurang akan berguling terus. Sehelai daun jatuh di bilah bambu. Burung pipit tidak bersarang)”.

Tak sadar suara tangisanku memecah tidur para tahanan.

“Hoi… Diaaam… brisiiik monyet”, teriak beberapa tahanan. Kali ini tak aku gubris. Raunganku terus kulepas, hingga akhirnya sipir penjara menyambangi dan memboyongku ke ruangan khusus dan pengap tanpa penghuni.

Kini aku adalah aku. Tak seorangpun tahu siapa aku, tidak juga aku. aku adalah aku.

Baca Juga : Cerpen Tentang Persahabatan Yang Paling Mengesankan [Rekomended]

Pertama dan Terakhir

Cerpen Karangan: M. Krisna Panjaitan
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 8 September 2018

Namaku Susi, umurku memang baru 15 tahun. Tetapi, beban pikiranku melebihi umurku. Tanggung jawabku sama seperti orangtuaku, semuanya demi kebahagiaanku dan keluargaku.

Hari ini adalah hari yang sangat aku tunggu-tunggu, hari dimana saat semua orang bekerja ditempat ini, termasuk juga aku untuk menerima gaji yang mungkin tidak besar, tetapi harus aku syukuri. Karena masih banyak yang harus aku pikirkan.

Ketika aku melangkah pulang, langkah kakiku terhenti didepan toko baju yang sangat bagus. Bukan baju yang bagus itu yang membuatku terhenti, namun mukena yang tergantung di depan toko tersebut yang membuat aku teringat pada ibuku. Aku memandangi mukena itu sangat lama, dan harga mukena itu melekat pada kainnya. Harga yang sangat jauh untuk aku capai, dengan gaji yang besarnya hanya sekali makan saja. Kakiku pun mulai menghampiri toko baju itu.

Akhirnya aku pun sampai di rumahku, aku mengetuk pintu rumahku yang penuh dengan lubang. Ku melangkah masuk ke rumahku yang sangat kumuh dan tidak layak untuk ditempati lagi, ku mendengar adikku menangis sangat keras namanya Leni. Dia satu-satunya adikku. Aku mendekatinya dan bertanya kepadanya mengapa ia menangis. Ternyata ia lapar karena dari pagi ia belum makan. Hatiku terasa teriris mendengar jawaban adikku, aku pun berlari keluar dan membeli beberapa telur dan setengah Kilogram beras. Aku pun memasaknya untuk adik dan ibuku. Melihat adikku makan dengan lahap, membuatku ingin menangis, tetapi aku menahannya karena aku harus tegar di depan adikku. Ibuku tidak bisa bekerja karena sakit yang dideritanya.

Tak sadar, Adzan Maghrib sudah berkumandang. Aku pun pergi berwudhu dan langsung menjalankan Shalat Maghrib. Dalam do’aku aku berharap akan datang sebuah kebahagiaan untuk keluarga kecilku nanti.
Ketika semuanya sudah tertidur, aku teringat akan mukena yang aku lihat tadi. Mengingat uangku sudah habis untuk membeli makanan. Aku tidak tahu bagaimaa cara mendapatkan uang itu lagi, aku hanya bisa pasrah dengan kondisi yang aku alami. Semoga esok ada secercah harapan yang datang dalam hidupku.

Bulan pergi meninggalkan langit yang gelap, Matahari mulai tampak di ufuk timur. Aku sudah bangun dan bersiap-siap untuk pergi ke Sekolah. Setelah aku sampai di Sekolah, aku langsung masuk ke Kelas. beberapa menit kemudian bel masuk pun berbunyi, tanda pelajaran akan dimulai. Setelah beberapa jam aku belajar, bel istirahat pun berbunyi, semua siswa berlari ke kantin. Tidak dengan diriku, aku membawa kue bukan untuk ku makan, melainkan kue ini untuk dijual.

Disaat aku melangkah pulang, aku melihat Seorang Kakek, ia terjatuh dan aku menolongnya. Sampai di rumahnya, ternyata ia adalah orang yang sangat kaya. Tiba-tiba ia memberikan uangnya kepadaku. Aku pun menolaknya, tetapi beliau memaksa. Akhirnya aku pun menerima uang itu, lalu mengucapkan terima kasih dan langsung pergi.

Aku teringat, jika aku memiliki uang yang banyak, aku akan membelikan mukena untuk ibuku. Akhirnya aku menuju ke toko itu, namun sayang mukena itu baru saja dibeli oleh seorang Ibu yang baru saja keluar dari toko itu. Aku mengejar ibu itu dan mencoba membujuknya supaya enggan menjual mukena itu padaku. Beribu kata aku jelaskan padanya dan akhirnya hatinya terbuka dan memberikan mukena itu padaku tanpa menerima uang yang kumiliki. Karena kebahagiaan yang sangat meluap-luap sampai aku tidak sadar bahwa lampu merah telah usai. Sebuah mobil tidak sengaja menyenggolku hingga aku terjatuh. Aku tidak peduli dengan lukaku, aku tetap berlari menuju rumahku.

Ketika aku tiba di rumah, aku melihat ibuku tergeletak diatas tempat tidurnya. Aku pun mendekatinya “Ibu… aku ingin memberikan sesuatu. Mungkin hadiah ini tidak terlalu bagus, tetapi aku berharap Ibu menyukainya”. “Ibu sangat menyukainya nak…” jawab ibu sambil meneteskan air mata. Aku pun memasangkan mukena itu di tubuh ibuku sampai akhirnya, aku menaydari bahwa ibuku tak kuat untuk menahan sakitnya.

“Susi, ibu titipkan adikmu, semoga kamu dapat mengahadapinya” ucap ibu. Aku cuma terdiam, namun air mata ini tidak berhenti mengalir. Sampai dari akhir nafas ibuku terhembuskan “ibu, aku belum sempat mengucapkan selamat hari ibu” ucapku.

Tanggungjawabku terhadap adikku tidak menjadi bebanku, tetapi aku berpikir hadiah ini adalah yang pertama dan ada yang selanjutnya yang akan aku berikan kepada ibuku. Tetapi takdir mengatakan sebaliknya, ternyata ini adalah…
Pertama Dan terakhirnya.

Merantau

Cerpen Karangan: Alif Rafi Muhaimin
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 3 August 2018

Sang surya terbit dari arah timur dihiasi dengan embun-embun pagi yang membuat hijaunya pedesaan semakin asri. Rasa kantuk dan lelah semalaman suntuk mempersiapkan stok dagangan bisa terobati dengan suasana ini. Mulai hari besok aku akan bekerja untuk menjual dagangan di ruko yang berada di kota yang aku sewa dengan harga yang cukup miring, akan tetapi jarak antara ruko dan rumah sangatlah jauh. Itu yang menyebabkanku akan tinggal di ruko tersebut, karena masalah biaya. Tapi aku yakin inilah jalan yang tepat untukku. Karena rintangan kehidupan ini, akan membentukku menjadi sosok yang luar biasa kelak nanti. Aku yakin itu.

Hari ini aku akan pergi ke kota. Perjalanan dari desa ke kota kurang lebih tiga jam lamanya. Dengan bermodal kreativitas walaupun seadanya, aku berangkat dengan mobil kol dengan kecepatan 50 km/jam. Selama perjalanan aku dirundung rasa takut atas resiko-resiko yang mungkin akan terjadi padaku. Namun, di hati kecilku aku memantapkan tekat yang mendobrak seluruh hasratku untuk bekerja keras di tanah rantau ini. Namaku Rusli, aku akan taklukan rasa takut ini dan berjaya di tanah ini. Itulah pedomanku.

Waktu terus berdetik memainkan perannya untuk memainkan kegelisahan para pedagang, khususnya aku yang masih baru memulai perjuangan. Semua cara yang halal aku lakukan untuk menarik pembeli. Seperti halnya mewarnai dinding toko dengan gambar-gambar yang klasik yang memberikan kesan elegan dan tentunya dengan baju dagangan yang menarik yang aku pasang di depan toko. Jam menunjukkan pukul sembilan malam hanya beberapa orang saja yang mampir, itu saja hanya melihat lihat saja. Toko pun saya tutup dan berharap esok akan ada orang yang memborong semua.

Pagi sudah keluar dengan eloknya, menampilkan kesan yang hangat. Hari kedua, aku buka dengan semangat yang baru. Aku siapkan anyaman kreasi yang kubuat dari rumah dan aku tempelkan di dinding toko. Semoga saja orang tertarik dan ingin membeli produk baju yang kujual. Dan wow ini sungguh membuat banyak orang tertarik. Hari ini toko mulai ramai dan pembeli pun membeli produk ku dan mengapresiasi dekorasi yang kubuat. Ini sungguh membuatku bahagia.

Hari terus berganti uang yang aku kumpulkan semakin banyak. Sebagian dari uang kubelikan baju untuk aku jual kembali dan sebagiannya untuk keperluanku dan kukirimkan untuk orangtua di kampung.

Bulan yang menyenangkan sudah usai dimana pembeli datang dan membeli barangku. Sekarang toko mulai sepi. Aku berfikir apa yang dapat aku lakukan untuk menarik pembeli lagi. Selama beberapa hari ini aku hanya mendapatkan beberapa pembeli saja, tak banyak. Aku harus mencari cara. Hari terus berjalan di samping itu aku juga memikirkan cara agar produk bisa terjual dengan banyak. Aku pun memutar otak dan menemukan cara yaitu dengan cara berjualan di online shop. Aku pun memjual baju dengan online juga.

Beberapa bulan telah berlalu sekarang bulan telah menjadi tahun, pasang surut telah aku lalui dengan banyak hal yang dapat aku pelajari. Ada hal yang membuat mata yang dulunya tegar menjadi basah, rasa dimana pasti dirasakan seorang anak yang ada di tanah rantau, rasa yang tak asing yang dirasakan anak yang rindu kepada orangtuanya. Meskipun aku masih berhubungan dengan orang tuaku melalui telepon suara tapi rasa rindu masih melandaku. Tetapi bulan-bulan ini masih sangat sibuk. Aku pun telepon kepada abah bahwa aku baru bisa pulang 1 bulan mendatang

“Assalamualaikum abah”
“Waalaikum salam nak, uhhukk uhuukk kapan pulang?” katanya sambil menahan batuk
“Abah maaf sekali bulan ini aku gak bisa pulang, bisa pulangnya bulan depan. Abah baik baik saja kan? Kok batuk?” Aku menahan tangis
“O begitu yo nak, indak popo selesaikan dulu aja pekerjaan nya. Uuhuuk uhhukk ini sedikit batuk nak tapi indak popo kok nak.”
“Abah in..in..indak popo? A..a..ku pu..lang kalo begitu abah” aku pun menangis
“indak usah kalok udah selesai aja nanti abah tunggu kok, abah ini udah minum obat kok. Udah baikan ini nak. Ya udah kalo begitu abah mandi dulu ya nak” Kata abah menenangkanku
“A..a..abah aku kangen.”
“Anak abah jangan gitu dong. Jangan jadi anak manja.”
“Ya a..a..abah.” Suara telepon abah terputus Tut Tutt Tuttt.

Aku pun lebih berkonsentrasi agar urusan dagangan bisa lebih cepat selesai dan aku pun bisa pulang cepat.
Seminggu sudah berlalu aku masih sibuk dengan semua kontrak supaya kondisi pemasaran dagangankun aman.

“Took.. tokkk..tokk. Assalamualaikum, permisi…ada surat untuk anda pak” kata pak pos.
“Oh ya.”
“Tanda tangan pak!” Aku pun menandatangani surat terima dan langsung membaca surat tersebut.

Kepada anak abah yang amat abah cintai
Dulu kakekmu pernah menasehati abah “Nak kalok kamu nantinya kalo sudah memiliki anak, tanamilah dia tanaman yang baik dan taburilah dia pupuk yang baik juga, lalu ketika dia telah menunjukkan pertumbuhannya maka berilah dia pujian, agar dia tumbuh dengan baik maka engkau nantinya akan mendapatkan anak yang berbakti kepadamu.” Abah telah melakukannya dan hasilnya memang betul abah mendapatkan anak yang berbakti dan hormat kepada abah dan bundanya, itu kamu nak. Abah bangga dengan kamu. Seperti yang kamu ketahui nak, abah ini sudah renta dan lemah. Abah tidak bisa banyak membantumu dalam kerjamu ini. Jadi tolonglah maafkan abahmu ini ya nak. Maaf kan abah dan bunda… Baik baik sajalah kau disana jaga akhlakmu dan selalu doakan abah dan bunda ya..

Abahmu yang banyak dosa

Seketika itu rasa di hati ini tidak ada dayanya, semua mati rasa. Aku pun langsung menancapkan gas pulang kekampung halaman dengan rasa yang cemas. Apa yang terjadi? Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri.

Kedatanganku di kampung disambut dengan hangat oleh bunda di rumah dan aku pun sangat merasakan kehangatan yang kurindukan itu. Aku pun menayakan pada bunda dimana abah, tapi bunda mengatakan abah masih di luar kota menemui temannya. bunda langsung merangkulku tanpa berkata sepatahpun.

“bunda sehat? Kok kelihatannya kurang sehat” tanyaku.
“bunda sehat kok nak, seharusnya ibu yang tanya kamu sehat apa enggak? air matanya meleleh pelan tapi pasti.
“Lo ibu kok nangis? Kenapa?”
“Ibu cuman kangen sama kau nak. Sampai sampai airmata bunda jadi keluar.”
“Kan aku udah di sini buk. Jangan menangis kalo ibuk menangis aku juga ikut sedih.” Aku pun juga ikut menangis.
“Bunda tak bisa menahan lagi, nak A..a..abahmu dua hari yang lalu meninggal.” Kata bunda dengan nada terbatah batah.
“A..aa..aapa? bunda tidak bohong?” Aku terkejut atas perkataan bunda.
“Iyo nak abah meninggal.”
“Lo ka..kaa..ta bunda abah menemui temanya?” Aku pun bertanya tersedu sedu menahan air mata.
“Maaf bunda tadi bohong. Abah sudah meninggal nak.” Aku pun pingsan.

Beberapa jam kemudian aku pun siuman. Dan aku melihat bunda yang duduk di sebelahku melihatku dengan wajah yang pucat memegang tanganku.
“Nak ini minum dulu.” Diberikanlah aku air
“Bunda, abah mana?” Tanyaku tak percaya bahwa abah sudah meninggal.
“Kata abah, abah akan selalu ada di hatimu nak. Jangan bersedih.”
“Tapi?” bunda langsung menyelah
“Abah tak mau menyusahkanmu, abah ingin kamu jadi anak yang mandiri dan pemberani. Jangan menangis dan tegarlah menjalani hidup ini.”
“I.. iya bunda.. aku sayang abah dan bunda. Aku menyesal tidak pulang sebelum abah meninggal”
“Sudahlah nak. Abah pasti memaafkanmu.”

Beberapa bulan setelah kematian abah. Aku mengajak bunda untuk pergi tinggal di kota bersamaku. Aku tidak mau mengulangi kesalahan itu lagi.

Kami Tidak Sehina Yang Kalian Kira

Cerpen Karangan: Anggitha Dwi Rahayu
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Remaja, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 16 June 2018

Kalian semua pasti tau apa itu cinta di SMA? Ya, tentu saja, bahkan sebagian orang telah merasakannya. Itu yang aku rasakan sekarang, berawal dari sebuah cinta di SMA yang katanya sihsemanis brownies. Oh ya, namaku Reina kamila putri, aku bersekolah di sekolah yang cukup terkenal di jakarta ya sekitar tahun 2006.

Kisah ini aku mulai dari sebuah sekolah di SMA, cinta pertama yang aku dapatkan. Ia bernama rendi, dia begitu baik padaku, aku ingat sekali saat dia membantuku membersihkan kelas, menemaniku membaca buku, membantuku mengerjakan PR, dan hari itu, dia berkata “rei? Lo mau gak jadi pacar gua?” Semenjak saat itu kami resmi berpacaran.

Aku begitu bahagia bersamanya, dia menemaniku disaat suka maupun duka, dia selalu menemaniku berjalan jalan di taman, menghabiskan waktu senja bersamanya, membelikanku es krim, menemaniku membaca buku. Dia sosok pria yang sangat baik, aku begitu nyaman bersamanya. Sampai akhirnya dia berubah dan aku tidak tau apa alasannya.

Rendi sudah tidak menghubungiku selama dua bulan, aku selalu mengirim pesan kepadanya tapi tak ada balasan apapun, aku juga sudah meneleponnya tapi tak ada jawaban apapun, aku sangat merindukannya jadi kuputuskan menemuinya di kost tempat ia tinggal.

Sesampainya di sana, aku melihat dia sedang mabuk, aku pun menghampirinnya. “kamu ngapain sih ren?” ujarku kepadanya, “eh kamu rei” katanya dengan sedikit bingung, “kamu ngapain sih minum minum kayak gini?” kataku dengan kesal. Tiba-tiba dia menarikku ke kamar, dan melucuti seragam SMA ku, “ren kamu mau apain aku!” kataku sedikit cemas, “udah, kamu diem aja ya cantik” ujarnya dengan keadaan mabuk. Dia melakukan hal yang tidak senonoh kepadaku, dan hari itu juga aku kehilangan keperawananku.

Aku pulang dengan berlinang airmata, aku tak menyangkanya orang yang aku percaya akan menjagaku ternyata telah merenggut kehormatanku, merampas mahkotaku, aku sangat bingung apa yang harus aku lakukan, aku tidak mungkin pulang dalam keadaan begini. Jadi kuputuskan untuk tinggal bersama temanku, pasti kalian tau? Jika wanita yang sudah kehilangan keperawannya akan dianggap jelek, bahkan dikucilkan.

“jika wanita yang kehilangan keperawannya dianggap hina, lantas bagaimana dengan yang terpaksa kehilangan kehormatan? Yang bahkan mereka tidak menyangka akan mengalami hal seperti ini? Dan jika memang benar, KAMI wanita yang kalian anggap hina ini telah kehilangan sebuah mahkota kebaggaan. Lantas bagaimana jika jari dan kemaluan laki-laki dirantai saja?”

“Cerita ini untuk para wanita… Yang terpaksa kehilangan keperawanannya”

Baca Juga : Cerpen Tentang Cinta Yang Paling Bagus Diungkapkan [REKOMENDED]

Nah, itulah beberapa Contoh Cerpen Tentang Kehidupan yang bisa kalian jadikan referensi atau tugas kalian. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan Anda dan juga bisa bermanfaat bagi kita semua.

Cerpen Tentang Kehidupan

Leave a Comment