Cerpen Tentang Pendidikan Yang Paling Mengesankan [REKOMENDED]

Cerpen Tentang Pendidikan Yang Paling Mengesankan [REKOMENDED]

Cerpen Tentang Pendidikan – Kali ini kita akan memberikan beberapa Contoh Cerpen Tentang Pendidikan yang mengesankan dan juga bisa untuk referensi kalian. Dan juga bisa kalian untuk memenuhi tugas kalian. Mari simak dibawah ini dengan seksama!

Kumpulan Cerpen Tentang Pendidikan

Cerpen Tentang Pendidikan
Cerpen Tentang Pendidikan

Sepenggal Asa di Timur Indonesia

Cerpen Karangan: Nazri Tsani Sarassanti
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Nasionalisme, Cerpen Pendidikan
Lolos moderasi pada: 20 June 2019

Merdekaa !! Merdekaa !! Merdekaa !!
Gemuruh lantang kata itu terucap dari setiap bibir bangsa Indonesia. Berabad-abad lamanya Indonesia terbelenggu dalam haru, tertindas dengan keras dan terjajah oleh para penjajah. Segalanya telah dikorbankan, harta, benda, jiwa dan raga. Pun tak sedikit pejuang yang harus gugur di medan pertempuran demi membela Negeri Indonesia tercinta.

Namun kini, Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan. Dengan disaksikan ribuan pasang mata dan telinga. Sang Saka Merah Putih telah berkibar gagah di ujung tiang tertinggi dan tak ada satu orang pun yang berhak menurunkannya lagi. Indonesia Raya, Indonesia Pusaka, Indonesia Merdeka!

Mereka sudah pergi
Meninggalkan bumi pertiwi
Kami bebas! Ya kami telah bebas
Tak ada lagi tangisan
Tak ada lagi ratapan
Tak ada lagi kesengsaraan
Kemarilah, wahai kebahagiaan
Mendekatlah, duhai ketenanga

“Apa kau yakin kita sudah merdeka?” tanyanya kepadaku. Kutatap wajahnya lekat, wajah yang mulai nampak lelah dan kian menua. Sesaat, ia pun mendaratkan tatapannya ke arahku. “Dengan terbebasnya Negeri ini dari penjajah, kurasa kita memang sudah merdeka.” Jawabku. Lalu kami kembali terdiam untuk beberapa saat.
“Kita semua memang sudah terbebas dari para penjajah. Namun, kemerdekaan yang sesungguhnya masih enggan menyapa penduduk di desa ini.” Ujarnya kala itu memecah keheningan yang tercipta diantara kami.
“Maksudmu?” tanyaku sedikit bingung dengan pernyataannya barusan.
“Kau akan segera mengerti maksudku.” Dengan menyimpulkan senyum, Ia pun bangkit dari duduknya dan menggandeng lenganku.
“Sudah hampir magrib, kita harus pulang.” Aku pun mengangguk dan berjalan mengekor di belakangnya.

Pagi telah kembali, kala satu mimpi terbangun lagi, dan satu malam terlewati lagi. Sejuk, tenang dan damai. Itulah suasana pagi yang selalu tercipta di desa ini. Berbeda 180 derajat dengan tempat tinggalku di Ibu Kota. Desa ini memang terpojok dan berada di pelosok, namun bagiku tempat ini lebih menjanjikan kehidupan yang menenangkan untuk para penduduknya. Tak kudengar suara bising klakson kendaraan, hanya terdengar suara nyaring burung-burung camar yang mulai berterbangan meninggalkan sarang untuk mencari makan.

Pagi ini aku sudah berpakaian rapi, dengan mengenakan atasan dan bawahan yang senada aku sudah siap untuk mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik di desa ini, desa kecil di Timur Indonesia.

“Imah, mari cepat!” Bu Mira datang dengan sepeda tua yang dipinjamkan oleh sesepuh adat desa ini. Sepeda ini memang sengaja dipinjamkan kepada kami sebagai sarana transportasi untuk dapat menjangkau sekolah di ujung desa yang jaraknya puluhan kilometer dari rumah singgah kami berdua.
“Kau sudah siap?” tanya bu Mira dengan senyuman khasnya. Aku pun mengangguk dan segera membonceng di belakang.

Perjalanan kami untuk sampai di sekolah kira-kira memakan waktu sekitar 1-2 jam. Dengan melewati berbagai rintangan yang tak mulus, akhirnya kami pun tiba di sebuah sekolah yang berada di ujung desa tersebut. Batinku seketika berkecamuk melihat sekolah yang fisiknya terlihat seperti kandang binatang tak terurus. Aku melangkah lunglai di belakang bu Mira, menyoroti tajam setiap sudut bangunan yang hampir tidak ada dinding. Semua terbuat dari kayu yang mulai rapuh oleh rayap. Hingga akhirnya kudapati sesosok anak laki-laki di suatu kelas.

“Kamu sendirian?” kududuki bangku tua berdebu yang berada tepat di sampingnya. Ia hanya mengangguk.
“Teman-temanmu dimana?” tanyaku lagi, mencoba sedikit lebih mendekatkan posisi duduk ke arahnya. Namun Ia justru menjauhkan posisi duduknya dariku. Ia hanya menggeleng dan belum mau mengeluarkan sepatah kata pun.
“Siapa namamu?” Aku pun mengulurkan tangan kepadanya. “Bertus.” Jawabnya tanpa meraih tanganku. Aku pun mengela napas, “Kenalkan nama saya Fatimah. Kamu boleh panggil saya ibu guru Imah.”
Ia kemudian memutar bola matanya, kala tatapannya tepat mendarat di wajahku. Kusimpulkan senyum kepadanya dan dengan sedikit keraguan ia pun menyimpulkan senyum sekedarnya.

Baru beberapa menit aku tiba di sekolah ini. Aku sudah menemukan banyak hal yang tak mungkin kutemukan di Ibu Kota, tempatku berasal. Betapa jauhnya jarak untuk sampai ke sekolah dan betapa sulitnya medan yang harus ditempuh. Jalanan berdebu dan berbatu sampai harus menyebrangi sungai dengan perahu kayu.
“Wahai Indonesia, Tanah Air tercinta. Saksikanlah perjuangan anak bangsa pelosok Timur Negeri ini.” Air mata mulai memenuhi pelupuk mataku, hingga tak dapat lagi terbendung dan akhirnya menetes sampai perlahan menganak sungai di pipi.

“Ibu guru Imah kenapa?”
“Tidak, tidak apa Bertus.” Segera kuusap air mata itu, dan tersenyum haru menatapnya.
“Sebentar lagi beta punya teman-teman datang.” Aku mengangguk dan mengelus kepalanya dengan lembut.

Beberapa menit kemudian, beberapa anak mulai berdatangan. Kutatap mereka lekat-lekat. Mereka datang dengan pakaian lusuh yang basah oleh keringat dan tanpa alas kaki.
“Mereka belum merdeka.” Desahku kala itu.

Setelah semuanya datang, aku pun mulai melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Semua anak terlihat sangat bersemangat dan antusias. Tak sedikit pun terlukis rasa lelah di wajah manis mereka, hanya tergambar jutaan asa yang mereka gantungkan di langit Timur Negeri Indonesia.

Malam kembali hinggap bersama suasana yang senyap. Gelap berjalan menyelinap. Kupandangi langit malam yang cerah mengandung rembulan.
“Bu, miris sekali ya menyaksikan perjuangan anak-anak untuk dapat sampai ke sekolah..” Ujarku memecah keheningan malam itu.
“Ya begitulah. Itu yang setiap hari saya saksikan selama setahun terakhir ini.”
“Tadi, di kelas saya bertemu dengan seorang anak, namanya Bertus. Dia bercerita banyak tentang dirinya, teman-temannya dan juga keluarganya.”
“Anak-anak di desa ini memiliki impian dan semangat belajar yang sangat tinggi. Namun karena kurangnya perhatian untuk desa terpencil dan pelosok seperti inilah yang terkadang perlahan meruntuhkan impian mereka.” Bu Mira bangkit dari duduknya dan mendekati perapian yang ada di hadapan kami.
“Selain itu juga, tidak sedikit orangtua mereka yang melarang anaknya untuk pergi ke sekolah dengan alasan tidak ada gunanya dan hanya membuang-buang waktu saja. Mereka berpikir lebih baik anak-anaknya pergi untuk mencari air bersih atau membantu orangtuanya bekerja.” Lanjutnya yang membuatku terdiam tanpa kata. Ku resapi setiap kalimat yang terucap dari bibir bu Mira.
“Lalu apa yang harus kita lakukan, Bu?” aku pun bangkit dan mendekati bu Mira.
“Jadilah pengajar yang baik, dan bantu mereka wujudkan jutaan asa itu. Karena mereka pun ingin merdeka.” Bu Mira menepuk pundakku dan kemudian berlalu meninggalkanku sendiri di depan perapian.

Aku masih terjaga malam itu, bola mataku masih enggan terpejam. Tidak ada posisi tidur yang terasa nyaman. Duduk, tidur lagi, duduk, tidur lagi. Begitu hingga berjam-jam lamanya. Pikiranku kalut, carut marut mendengar ucapan terakhir bu Mira tadi. “karena mereka pun ingin merdeka.”
“Apa mereka belum merdeka?”
“Belum, mereke belum merdeka!”
“Mereka masih terbelenggu oleh kebodohan dan terjajah oleh ketidakadilan. Mereka pun harus mendapatkan pendidikan yang sesuai sebagaimana pendidikan yang ada di Ibu Kota.” Aku terus bermonolog sepanjang malam. Kulirik jam tangan yang melingkar di lengan kiriku. Ternyata waktu telah menunjukkan pukul satu dini hari. Kucoba pejamkan mata sekali lagi, menepis setiap hal yang membuat pikiran ini semakin kusut.

Ternyata, sisi lain Bumi pertiwi masih berkabut
Gelap dan carut marut
Merdeka belum menapaki sudut Timur bumi
Jutaan anak masih bermimpi
Dan Asa belum terpenuhi

Mentari mulai mendaratkan sinarnya di ufuk timur. Hangat sinarnya perlahan menyapa tanah berbatu di setiap sudut desa. Membiaskan cahaya yang sedikit menyilaukan setiap pasang mata. Masih ku dengar suara riuh burung-burung camar yang berlomba mencari makanan.

Masih di tempat yang sama, namun dengan semangat yang semakin membara. Perjuangan ini masih panjang, masih banyak mimpi-mimpi yang tertidur dan tidak sedikit harapan yang gersang. Aku harus berjuang bersama dengan anak-anak bangsa di Timur Indonesia. Memperjuangkan mimpi dan harapan. Meraih asa untuk kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.

Di sekolah, aku tak hanya dianggap sebagai guru, melainkan juga sebagai kakak untuk mereka semua. Banyak hal baru yang aku dapatkan dari mereka, begitupun sebaliknya. Aku bangga dan terharu dengan semangat mereka. Mereka semua adalah anak-anak yang cerdas dan pantang menyerah.

“Hari ini ibu ingin mengajak kalian membuat sesuatu yang InsyaAllah akan bermanfaat untuk penduduk desa.”
“Wah, apa sesuatu itu bu?” Lusi terlihat antusias.
“Ada lah, pokoknya sekarang kalian ikut ibu saja.” Kami pun pergi ke sebuah tanah lapang.
“Kita semua mau apa di sini? Panas sekali bu di sini.” Bertus mengusap peluh di dahinya.
“Sini! kalian semua mendekat dan dengarkan ibu baik-baik ya!” mereka pun saling mendekatkan wajahnya satu sama lain

Beberapa bulan kemudian…
“Anak-anak, kemari cepaat!! Ibu ada kabar gembira untuk kalian.”
“Ada apa ibu? Kenapa ibu terlihat senang sekali?” tanya Bertus.
“Ibu ada kabar gembira untuk kalian.”
“Kabar apa itu ibu? Ibu bikin beta orang penasaran saja.” tanya salah seorang murid yang terlihat sangat penasaran.
“Inovasi terbaru kita telah diterima dengan baik oleh bapak Presiden Republik Indonesia. Dan beliau akan datang ke desa ini, sekolah kita akan direnovasi dan bapak Presiden akan kirimkan lebih banyak guru dan buku-buku untuk sekolah kita.” Ujarku sambil menunjukkan berita yang ada di smartphone milikku.
“Terangi Bumi dengan Tenaga Ramah Lingkungan. Wah ibu, pekerjaan kita orang sudah ada di berita, alat yang kita buat bisa terkenal sudah.” Lusi membacakan berita tersebut hingga semua anak-anak bersorak gembira. Kudekatkan wajahku ke arah mereka, “Kita berhasil, ibu bangga dengan kalian semua.” Mereka pun memelukku dengan erat.
“Terimakasih juga ibu sudah bantu kami orang semua. Kami juga senang sekali, tanpa ibu di sini kami orang juga tidak mungkin bisa buat alat seperti itu.”
“Sama-sama Bertus.” Ku simpulkan senyuman terhangat untuk mereka, untuk para anak-anak bangsa yang gigih berusaha dan pantang menyerah.

Dan akhirnya, semua harapan perlahan dapat terealisasi. Berkat inovasi yang kami berikan untuk Negeri, kini sekolah yang dahulu fisiknya seperti kandang binatang sudah mulai nampak seperti sekolah pada umumnya. Pun sudah mulai banyak tenaga pendidik muda yang ditugaskan di desa ini. Pendidikan di desa ini sudah terselamatkan dari belenggu kegelapan dan lilitan kebodohan. Kuharap tak ada lagi bagian dari Indonesia yang masih haus akan pendidikan dan kesejahteraan.

“Selamat Imah berkat inovasi darimu sekarang anak-anak dapat bersekolah dengan lebih layak. Terus berjuang untuk wujudkan asa anak-anak Indonesia ya.” Kupeluk bu Mira dengan eratnya. Hingga tak kusadari kristal bening mulai membanjiri pipiku. Bukan, ini bukan tangis kesedihan. Ini adalah tangis haru kebahagiaan, kebahagiaan karena dapat melihat senyum kebahagiaan yang terpancar dari wajah anak-anak di Timur Indonesia.

Sejatinya kemerdekaan adalah milik semua manusia, terutama mereka yang senantiasa terus berusaha untuk meraih asa. Kemerdekaan bukan melulu soal terbebas dari para penjajah, melainkan soal kehidupan yang layak sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia. Semua berhak merdeka termasuk mereka, anak-anak di Timur Indonesia.

Malam tenggelam bersama rembulan yang pualam
Pancaran surya membangunkan impian yang kelam
Selalu ada harapan, untuk sejengkal pengorbanan
Diriku bukan Tuhan, yang dengan cepat dapat memutar keadaan
Namun Tuhan beriku kekuatan untuk berjalan dan keluar dari kegelapan
Mencari penerangan dan kembali gantungkan mimpi
Di langit nan tinggi,
Ya, itulah baktiku untuk Bumi Pertiwi.

Skuad Para Pemimpi

Cerpen Karangan: Saunichi Agus Sauchi
Kategori: Cerpen Pendidikan, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 17 February 2019

Setiap kejadian hidup akan tersimpan secara sistematis di dalam memori otak dan hal-hal kecil bisa memicu kenangan itu. Kenangan adalah sesuatu yang menyenangkan, bagian-bagian kecil dari masa lalu. Kadang ia meninggalkan mozaik yang aneh dan indah. Fragmen tanpa pesan hanya menimbulkan sebuah kesan.

Kenangan juga seperti sebuah coklat, sekali kau gigit dan memakannya kau tak akan berhenti melahapnya. Ia akan membawamu berlayar ke samudera penuh rahasia. Memberimu banyak kejutan, apalagi tentang cinta. Simpanlah apa yang seharusnya tersimpan dan buanglah apa yang tak ingin kau ingat, tapi jangan hilangkan kenangan yang bermakna.

Bengkulu, 5 tahun yang lalu
BADS singkatan dari inisial nama empat cowok terhits di sekolah. Skuad tersohor karena prestasi individuanya. Siswa pemegang juaran umum dan siswa berprestasi di non akademiknya. Siapa yang tak mengenal Dian, Suryadi, Bayu serta diriku? Semua siswa di sekolah tahu dan mengenal kami. Mungkin agak berlebihan harus menjelaskannya, tapi karena ini memori penting jadi akan kuceritakan.

B untuk Bayu yang paling muda dan ganteng. Seorang lelaki spesial di skuad kami. Ia adalah Arjuna, lelaki berkarisma dan mengoda. Fisiknya sedang, putih, mata sipit dan gayanya elegan. Seorang yang juga humble dan memiliki selera humor yang tinggi. Semua cewek di sekolah kami selalu perhatian dengannya, dia pandai membuat cewek jatuh cinta kepadanya.

A untuk diriku sendiri. Kata orang aku jaim, cuek, sebagian lain mengatakan aku ramah. Entahlah, terlalu banyak komentator dalam hidupku. Tak ada yang spesial dariku, kecuali kepribadian yang sistematis dan perfeksionis yang kubawa dari gen keluarga. Aku tak ingin mengatakan aku ganteng, karena sejatinya orang lainlah yang menilai bagaimana diriku tapi rata-rata mengatakan aku tidak jelek.

D untuk Dian yang jenius. Manusia tercerdas di skuad kami. Seseorang yang multitalenta. Dia adalah bintang dan leader kelompok. Secara fisik dia pendek sama sepertiku, beda dengan Bayu atau Suryadi yang lebih tinggi. Warna kulitnya kuning langsat sama sepertiku, hanya bedanya di hidung aku mancung dan dia bangir. Untuk segi ketampanan kami memiliki nilai yang sama.

S untuk Suryadi yang puitis. Langkah-langkahnya seperti syair, berirama. Dia satu-satunya anggota skuad kami yang antik. Kalian tak akan melihatnya terbata dalam berbagai hal. Dia sangat rajin dan gigih dalam keinginannya. Ciri khas di wajahnya ia memiliki tahi lalat di bawah hidung sebelahan kanan dan itu yang membuatnya tampak manis.

Kami adalah kegilaan. Pemilik rencana futuristis dari setiap petualangan. Suatu hari kami pernah mendaki bukit kaba secara spontan, tanpa persiapan apa-apa hanya badan yang kami bawa. Demi rasa bahagia serta kepuasan diri, kami berempat bisa menjadi manusia bebas dan penuh keinginan. Banyak hal-hal konyol sering kami lakukan. Melakukan hal baru untuk mendapatkan pengalaman. Kami adalah lelaki biasa, tapi bukan lelaki standar. Kami adalah kompleksitas dari sebuah persahabatan yang canggih.

Empat lelaki biasa dengan mimpi luar biasa. Kami tak ingin bermimpi ala kadarnya. Mimpi kami luas seperti cakrawala, hebat dan tinggi. Kami juga tak ingin dibodohi mimpi, tanpa ada keinginan kuat serta kemampuan. Kami nyakin, Tuhan pasti akan memeluk setiap keinginan suci manusia. Keinginan kami hanya berkeliling dunia seperti Marcopolo atau Ibnu Batutah. Kami selalu menghayal hal itu. Kadang menuliskan impian itu pada botol lalu membuangnya ke laut, atau menuliskannya dibibir pantai sambil menyaksikan ombak menghapusnya. Pantai panjang benar-benar menjadi saksi mimpi kami. Kuharap ia juga akan menjadi saksi keberhasilan kami, sebab disanalah kami akan berkumpul dalam kondisi sukses nantinya.

Waktu terus melaju, menyeretkan harapan dan cita-cita. Mimpi yang pernah diikrarkan sekarang berada pada ujungnya, dimana hari itu pengumuman UN SMA. Kami berkeliling dengan memengang amplop berwarna putih. Perasaan kami tak karuan saat ingin membuka amplop kelulusan. Semua jadi tanpak misteri. Banyak kemungkinan bisa terjadi. Teryata, untuk melihat hasil kerja keras selama ujian begitu mendebarkan jantung. Lewat hitungan, kami membuka amplop berisi nilai serta kelulusan. Hasilnya jelas, kami lulus. Sang jenius Dian mendapat nilai sempurna, Suryadi mendekati sempurna. Bayu dan aku sedikit di bawah mereka. Kami saling tersenyum dan mengucapkan syukur yang dalam.

Ritual kelulusan mencoret baju dengan spidol atau cat semprot tak kami lakukan saat itu. Kami tahu bagaimana merayakannya dengan fantastis, hal yang bermanfaat dan berguna. Kami melakukan pengalangan dana, mengumpulkan baju layak pakai untuk anak panti asuhan. Selesai acara di panti saat itu, sorenya kami berkumpul di pantai panjang. Mendiskusikan banyak hal serta rencana ke depan.

“Kita semua harus ikut tes bea siswa, sesuai dengan keinginan kita studi ke Eropa” kata Dian, disela diam kami.
“Iya benar. Kita harus lulus dan kuliah ke Eropa bareng” kata Suryadi menambahkan.
“Yah, setuju bro” jawab Bayu.
“Oke” jawabku simple.

Beberapa minggu setelah tes beasiswa. Kami melihat hasil tesnya secara online dan kami semua lulus. Mimpi kami terasa hangat, Tuhan mendengar do’a kami. Aku terharu, beryukur dengan dalam. Tapi hal diluar kendali terjadi. Aku dan Bayu tak bisa mengambil bea siswa itu. Mendadak meninggalnya bapak mengubah rencana untuk studi. Aku harus menjadi tulang punggung keluarga dan bekerja banting tulang untuk membiayai adik-adikku sekolah. Sama dengan dengan Bayu, kondisi ayahnya yang tak sehat membuat ia harus mengantikan ayahnya mengurus usaha keluarganya.

Perpisahan memang meninggalkan kesedihan tapi aku nyakin karena perpisahan juga seseorang nanti akan menjadi kuat. Kini hanya Dian dan suryadi yang melanjutkan studinya di Universitas Oxford Inggris. Aku dan Bayu mencari peruntungan lain. Mungkin kami akan kuliah, tapi hanya sebatas di Indonesia.

Langkah pertama dian dan suryadi untuk keliling dunia sudah tergenggam bersama studinya. Setidaknya mereka sudah memiliki kunci untuk menjelajah Eropa. Aku dan bayu mengumpulkan mozaik lain kehidupan, berharap tuhan masih baik hati untuk memberi jalan pada mimpi kami. Pikiran kami selalu optimis, sebab aku tahu bahwa kita adalah apa yang kita pikirkan.

Setelah kepergian bapak, aku ke Yogyakarta mencari peruntungan hidup. Membantu kakak sepupu Andre Kualan, mengelolah bisnis pernak-perniknya. Sudah 10 tahun kak Andre menjalani bisnis itu dan ia sukses menjadi pengusaha muda yang terkenal di Yogyakarta. Aku belajar dengan kak Andre berharap mendapat ilmu dan pengalaman. Setelah lima tahun belajar aku sekarang bisa mandiri dan mengelolah bisnis sendiri. Alhamdulillah rezeki terus mengalir dan aku mampu membiayai adik-adikku sekolah.

Seperti angin, bayu cepat berkembang. Ia berhasil membangun kembali bisnis keluarganya. Minuman yang sering kita minum Oke Water adalah contoh produk perusahaannya. Sekarang, tak ada lagi yang bisa menghalang kami untuk keliling dunia.

Yogyakarta, Januari 2015
Senja di Yogyakarta menginggatkan aku senja di pantai Panjang Bengkulu. Dimana skuad BADS sering berkumpul untuk menikmati indahnya senja dan surya yang tenggelam, sambil membicarakan hal apapun dengan bebas tanpa batas. Sebuah persahabatan yang penuh kehangatan, dimana suka dan duka kami bagikan.

Sekarang sudah 5 tahun sejak kelulusan SMA. Aku menikmati menjadi pemilik usaha kerajinan tangan di Yogyakarta. Jatuh bangun merintis, belajar dengan banyak orang sampai menekuninya sendiri hingga aku mampu membiayai kehidupan keluarga serta sekolah adik-adikku. Mimpi-mimpi yang dulu sempat tertunda kini mulai menarikku kembali. Bayu sekarang menjadi penguasaha minuman. Impian ingin studi ke Eropa dia tunda juga, karena kondisi kami dulu sama. Aku tahu bahwa suatu saat nanti aku dan Bayu akan menyusul Dian dan Suryadi. Rasanya tak akan lama, aku mulai mencium bau Eropa yang begitu hangat.
“Aku selalu menunggumu brother” kata Bayu. Dia selalu seperti itu. Sahabat yang luar biasa.

Keadaan yang membuat kami untuk menunda studi bukan berarti memadamkan bara panas mimpi di dada. Bahkan semangat itu semakin hari semakin menyala dan mengebu. Sekarang, aku dan Bayu menjadi mitra bisnis. Kami membuka usaha travel dan guide untuk turis di Yogyakarta. Meskipun impian kami ke Eropa belum terlaksana, tapi kami bahagia dengan pencapaian kami saat ini yaitu menjadi pengusaha muda. Mimpi yang dulu sempat tertutup kini pintunya harus kami dobrak lagi. Tak ada lagi masalah biaya. Aku sudah bisa membiayai kuliah ke Eropa dengan usaha pernak-pernik yang aku rintis.

Surya tenggelam bersama setiap kenangan, warna orangenya yang begitu menawan membuatku larut dalam setiap bayang. Kulihat handphoneku, ada pesan whatsapp masuk. Group BADS di whatshapp. Rupanya dua berandal gila, Dian dan Suryadi akan pulang. Kami janjian akan bertemu sebulan lagi, dan pantai panjang akan menjadi saksi kembalinya BADS. Aku sudah sms Bayu dan kami akan mengila kembali.

Bengkulu, Febuari 2015
“Yeah… Kita kumpul lagi brother”
Seperti sebuah susunan zat yang terpisah, kini materinya kembali bersatu. Kami mengulang momen. Kembali bercerita tentang BADS. Tentang impian dan tentang masa depan. Dian, dan Suryadi kini telah berhasil mendapat gelar S1 nya di Universitas Oxford Inggris. sedangkan aku dan Bayu sibuk dalam usaha kami.
“Selamat brother” kataku pada Dian dan Suryadi.
“Kami bangga pada kalian” kata Bayu menambahkan.
“Thanks brother” Senyum Dian dan Suryadi yang terpancar membawa kebahagiaan. Lama kami membicarakan rindu. Senja pantai panjang membawa suasana kehangatan. Sama seperti lima tahun dulu waktu masih SMA.
“Bro, saat ini kita akan ke Eropa berempat kan?” Pertanyaan Dian dan Suryadi kembali menguatkan mimpiku. Menjelajah Paris seperti yang aku inginkan. Pergi ke Inggris menyaksikan pertandingan Liga Inggris. Pergi ke Jerman dan Spanyol. Ah, rasanya mimpi itu dekat sekali. Senyum terpancar Bayu mengodaku. Aku tahu isi pikirannya. Kali ini kami berempat yang akan berkeliling dunia untuk mewujudkan mimpi kami dulu.

Paris, Agustus 2015
Seperti perasaan cinta, perasaan bahagia itu tak bisa diungkapkan hanya dengan kata-kata. Apabila belum merasakan jatuh cinta, maka jangan mengatakan bahwa cinta adalah A atau B. Sebab akan terlihat seperti bualan belaka, jika kau bukan pakarnya.

Mimpi keliling dunia bukan suatu yang mustahil. Tuhan mendengar dan mewujudkan harapan makhluknya yang mau kuat untuk bisa maju. Sejak kelulusan sampai saat ini banyak usaha yang telah aku lakukan untuk bisa membuatku mandiri. Semua itu aku lakukan untuk satu tujuan, yaitu keliling dunia. Berdo’alah, berusahalah, Tuhan pasti akan memberi jalan.

Entah bagaimana skenario-NYA, skuad BADS bisa berada di Paris dalam Festival La Tomatina, Ajaib! Dian dan suryadi yang seharusnya berada di Inggris mengambil studi S2 nya tiba-tiba ada di festival itu. Sialnya bayu juga, dia dikelilingi oleh dua gadis paris pula. Ahhh berandal!

Aku jelas, kenapa bisa berada di Paris. Sejak mendapatkan beasiswa bulan april lalu dari Erasmus Mundus Action 2 Project yaitu kerjasama (konsorsium) antara universitas-universitas di Eropa dengan universitas-universitas di negara dunia ketiga, salah satunya Indonesia. Aku sekarang kuliah di Universitas De Girona, Paris.

Sekarang kami berada di Brunol, daerah timur Paris. Tempat Festival La Tomatina berlangsung. Tak menyangka kami bisa bertemu dan berkumpul lagi seperti ini. Seperti mimpi, seolah telah direncana. Kebetulan yang unik, dimana Dian dan Suryadi sedang studi banding ke Paris dan mereka tak menyiakan Festival La Tomatina ini. Bayu, dengan kebetulan anehnya. Ia diajak mitra bisnisnya untuk berlibur di Paris. Kemudian, tiba-tiba seperti sebuah takdir kami bertemu dengan kejaibannya, boom. Skuad BADS di Paris dalam Festival La Tomatina.

Seperti saus, jalan-jalan menjadi merah oleh tomat yang hancur. Badan basah, dan bau tomat begitu memanjakan hidung. Selama kurang lebih dua jam festival berlangsung, lalu kami bergegas membersihkan diri untuk petualangan berikutnya. Entah apa lagi?

Meskipun kami belum bisa keliling dunia. Tapi studi ke Eropa adalah cita-cita luhur kami. tak menyangka celotehan kami ketika masih SMP dan SMA dulu tentang mimpi studi ke Eropa bisa terwujud. Kami berpegang pada janji Tuhan, bahwa “Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum/individu, kalau kaum/individu itu sendiri tidak ingin mengubahnya” dalam jiwa, kami sangat percaya itu. Itulah sumber kekuatan mengapa kami selalu optimis.

Petualangan kami berlanjut ke Museum Louvre, dulunya itu adalah istana kerajaan Perancis. Museum Louvre termasuk salah satu museum yang paling besar di dunia dan pastinya menjadi yang paling populer di Perancis. Kami berbaur diantara ratusan turis lain, menikmati suasana Paris yang esotis. Saat disanakami bertemu dengan menemukan orang indonesia dan kami berfoto ria. Paris meninggalkan kesan tersendiri sekaligus tempat awal dimana aku akan berjuang menembus mimpi.

Paris, Mei 2017
BADS adalah fragmen memori yang berharga. Ketika menyelesaikan tulisan ini aku berada di Cafe De Flore, kafe paling tua di negara Paris. Suasana klasiknya menginggatkan ku pada BADS. Untuk mereka yang sekarang berada di habitatnya sendiri. Suryadi sang puitis, puisimu memainkan peran kehidupan yang anggun. Dian yang jenius membuat kami selalu mudah dalam berbagai hal karena kepintaranmu. Bayu, Arjuna kelompok yang selalu membuat kami mendapatkan kenalan dari kaum hawa, dan aku yang menuliskan catatan ini agar kenangan itu abadi.

Aku bahagia memiliki sahabat seperti mereka yang selalu membantuku bangkit ketika terpuruk dan membangunkan jiwaku saat lemah. Itulah indahnya persahabatan. BADS! itulah nama kami dan biasanya kami dipanggil.

Sepotong coklat kecil kumakan dari brownies yang baru kupesan, menginggatkan aku kembali pada masa lalu yang indah, tentang persahabatn empat anak manusia yang berbeda karakter. Terima kasih untuk kalian, Suryadi yang sedang membuat buku kumpulan puisinya yang ketiga. Dian yang sekarang sedang jatuh cinta dengan kihara, cewek jepang temannya sewaktu ia menghadiri perlombaan bahasa Inggris di Kyoto Jepang. Terakhir untuk Bayu, sahabat dan patner kerja yang luarbiasa. Aku iri dengan kegantenganmu dan aku suka solidaritasmu. Kalian semua terbaik, kalian saudaraku, terima kasih. Kita adalah BADS, melakukan yang terbaik dimanapun kita berada.

Baca Juga : Cerpen Tentang Persahabatan Yang Paling Mengesankan [Rekomended]

Perjuangan

Cerpen Karangan: M. Ridwan Panjaitan
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Pendidikan
Lolos moderasi pada: 8 September 2018

Saat ini kakiku sudah memiliki tujuan, melangkah menuju sekolah hijau yang berada di Puncak Bukit. Sekarang langkah kakiku sangat ringan karena aku dapat melihat senyuman anak-anak yang memiliki impian yang besar. Senyuman yang mengobati semua rasa sakit yang kurasakan.

Aku masih ingat, semua penolakkan yang diberikan oleh orangtua yang kurang mengerti pentingnya pendidikan dan indahnya menghargai perbedaan. Aku seorang Wanita, yang awalnya tidak dikenal siapapun memiliki nama ‘Andini’. Saat itu, aku sedang mengerjakan skripsi. Aku duduk di bawah pohon rindang yang berada di Puncak Bukit. Tiba-tiba saja, Seorang anak mendekatiku, aku mengira dia ingin melihat apa yang sedang aku tulis. Ternyata aku salah, dia cuma ingin bertanya, mengapa aku memakai hijab yang sangat panjang.
Aku menjawab “Memang, kita seorang Wanita harus menjaga auratnya supaya hidupnya merasa tenang”. Mendengar jawabanku, iapun merasa kebingungan dan pergi meninggalkanku.

Karena penasaran dengan anak itu, aku pun mengikutinya sampai ke rumahnya. Aku melihatnya bekerja membantu orangtuanya, yang mana hal itu tidak pantas untuk anak seusia dia yang masih muda. Aku mendekatinya dan bertanya “Apakah kamu tidak sekolah, Dek?” sambil mengusap kepalanya.
“Aku ingin sekolah, tetapi aku tidak tahu akan sekolah di mana. Orangtuaku tidak pernah menyuruhku untuk sekolah” jawab anak itu.
“Apa kakak boleh tahu siapa namamu?” tanyaku kembali.
“Namaku Sisi” jawabnya.

Aku pun memberanikan diri untuk berbicara dengan orangtuanya. “Permisi… Bu, kenapa Sisi tidak sekolah?, dia itu masih muda” tanyaku kepada Ibunya Sisi.
“Untuk apa Sisi sekolah?, lebih baik Sisi membantu orangtuanya di rumah” jawab Ibunya Sisi dengan tegas. Aku terus menasehati ibunya Sisi supaya mau menyekolahkan anaknya, akan tetapi beliau masih tetap menolaknya.

Aku juga mengajak teman-teman Sisi supaya mau ikut belajar dengan Sisi di Puncak Bukit. Aku bangga dengan anak-anak disini. Walaupun orangtua mereka tidak setuju, mereka tetap pergi ke Puncak Bukit untuk belajar.

Lalu, suatu hari salah satu orangtua murid dari murid yang kudidik, tidak sengaja melewati tempat kami belajar. Berawal dari satu orangtua hingga akhirnya seluruh orangtua yang ada di desa berkumpul dan membangun sekolah hijau untuk anak-anak.

Waktupun berlalu, aku masih mengajar di tempat ini karena aku telah terpaku oleh senyuman mereka. Tiba-tiba Sisi menghampiriku “Kak Andini… Aku ingin menjadi seperti kakak, seorang Muslimah yang kuat dan dapat membimbing kami semua menjadi seorang anak yang hebat” ujarnya.
Akupun menjawab “Jangan pernah menjadi orang lain, jadilah dirimu sendiri dan percayalah… bahwa Allah sudah merencanakan yang terbaik untuk hambanya”. Kami pun berdua tersenyum dan kembali melanjutkan pelajaran.

Filosofi Sebatang Pensil

Cerpen Karangan: Rizki Pratama
Kategori: Cerpen Inspiratif, Cerpen Pendidikan
Lolos moderasi pada: 26 February 2018

Hampir tiap pagi satpam depan gerbang sekolah itu selalu menegur bila aku datang lebih awal dari guru lainnya.
Seperti biasanya, setelah kuparkirkan motor, aku pun bergegas menuju mejaku di ruang guru. Menyiapkan segala materi yang nantinya akan kuajarkan pada murid-muridku. Di tengah sunyi jajaran meja di ruang ini, sesekali terdengar gerakan sapu lidi dari petugas kebersihan yang selalu berkeliling koridor.

Mataku tak hentinya menerawang tiap sudut ruangan. Semuanya tampak tak asing lagi, walau aku baru seminggu jadi tenaga pengajar di sini. Jelas saja, tiga tahun aku berseragam putih abu-abu dan menampung segala ilmu yang bermanfaat dari para guru terdahulu di sekolah ini. Mungkin bila melihat jauh ke belakang, banyak orang ikut andil membuatku sampai sejauh ini. Dari yang benar-benar mendorong sampai yang hanya kebetulan ngoceh.

Kala itu tahun ajaran baru segera dimulai. Seluruh sekolah membuka jalur pendaftaran bagi siswa yang akan melanjut. Termasuk kedua sekolah kejuruan yang letaknya bersebelahan ini- yang salah satunya kini tempatku mengajar.
Aku yang saat itu masih bimbang akan ke mana, mencoba mendaftar di keduanya. Namun, begitu hari dimana nama-nama siswa yang diterima terpampang, aku tak melihat namaku terselip di antara ratusan nama calon siswa lainnya. Di kedua sekolah itu.
Terpaksa aku harus mengikuti ujian tes yang jadwalnya benbenturan. Aku bukan seperti siswa berada lainnya yang orangtuanya rela membayar berjuta-juta agar anaknya dapat masuk di sekolah yang katanya favorit ini. Aku harus memilih. Hingga pagi pada hari H dimana ujian itu sebantar lagi dimulai, aku masih belum yakin dengan pilihanku.

Malah ada seorang dari orang tua murid yang anaknya juga mengikuti ujian tes – menegurku.
“Milih jurusan apa, dek?”
“Otomotif, pak.” jawabku canggung
“Baguslah, bisa jadi mekanik kalo ada modal dah bisa buka sendiri. Anak bapak Listrik.” celetuknya.

“Memang milih sendiri apa disuruh orangtua?” tanya bapak tadi.
“Sendiri, pak.” mencoba menghemat kata.

“Itu pak El itu teman bapak itu.” dengan menyasarkan telunjuk kanannya ke arah orang berbadan besar dengan asap yang mengaung dari ujung cerutunya yang berdiri membelakangi kami di pojok sana.
“Yang besar itu?” tanyaku.
“Iya, dulu dia alumni STM sininya itu. Pandai dia jadi guru, ngajar di sini”

Seolah mata letihku terbelalak mendengar pernyataan bapak tadi. Tak menutup kemungkinan aku dapat meraih cita-cita masa keciku itu. Apalagi kebahagian terbesar dari seorang guru ialah dapat mengajar di tempat ia dulu belajar.
Mendengar kata itu -ngajar- seolah menjawab kegelisahanku. Iya, aku juga bisa meraih cita-citaku dari sini. Dengan langkah pasti, aku pun berjalan menuju ruangan tempat ujian tes.

Karena do’a dan tekad besarku, alhamdulillah aku lolos ujian tes itu dan mengawali takdirku sebagai seorang pelajar tingkat menengah atas kejuruan.
Mungkin aku aku harus berterima kasih juga kepada bapak itu karena telah membuatku yakin, atau kepada seorang guru agama yang menceritakan filosofi sebatang pensil ketika aku berada di kelas sebelas waktu itu.

“Sebatang pensil bisa menjadi tambang emas untuk mereka yang berfikir layaknya emas. Coretan pensil itu akan menjadi sebuah karya bila digunakan oleh orang yang tepat, pada dasarnya semua orang tepat. Tetapi hidup bukanlah bagaimana kita menemukan diri kita, namun bagaimana kita menciptakan diri kita”
“Pensil mempunyai penghapus di salah satu ujungnya, artinya setiap orang wajib salah pada salah satu perbuatan. Namun bagaimana ia dapat menghapus lalu memperbaikinya, hingga sempurnalah karya itu.”
“Pensil itu takkan bertahan lama bila terus digunakan. Pensil itu akan habis. Tetapi ia sudah punya karya yang ia tinggalkan, yang dapat diingat bila ia berkesan.”
Dari ceritanya seolah mulai menciptakan alasanku memiliki sebuah cita-cita itu, ia punya karya yang dapat ia wariskan.

Bel masuk kelas berbunyi. Para siswa yang sejak tadi bertebaran di lapangan satu demi satu masuk ke dalam kelas.
Aku baru ingat, pagi ini aku punya janji untuk menceritakan sebuah kisah pada murid-muridku, kisah yang dahulu juga pernah diceritakan oleh seorang guru pada kami di kelas dua belas. Pesan moral yang kini juga akan kutanamkan pada anak didikku, ukhuwah.

Lekas ku beranjak dari ruang guru menuju kelas tempatku mengajar pagi ini. Membawa beberapa buku bahan materi, Langkahku perlahan melambat seolah menatap sekat demi sekat ruang kelas dari koridor dimana dulu aku ada di dalamnya.
Meraba sisa jejak yang tergerus oleh waktu. Sekararang aku bukan lagi murid Introvert yang duduk di meja paling belakang.
Kini, aku duduk di meja paling depan ruang kelas. Dengan gelar istimewa yang melekat padaku, guru.

Dahulu, seorang guru pernah menyampaikan keresahan hati pada murid-muridnya di depan kelas. Karena melihat muridnya seolah tak acuh dengan apa yang dirinya ajarkan.
“Gimana ya.. Sepuluh dua puluh tahun lagi, saat ibu udah banyak lupa, siapalah yang masih ingat ilmu yang ibu ajarkan sekarang?”
Pernyataan itu telah membuatku terpacu mewariskan semangatnya, semangat para guru, semangat dalam mengasah para tunas penerus bangsa.

Generasi Kartini

Cerpen Karangan: Syafira Rengganis
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Inspiratif, Cerpen Pendidikan
Lolos moderasi pada: 24 January 2018

Di sebuah desa kecil, di bawah kaki bukit, hiduplah 1 keluarga yang kurang mampu. Sang ayah bekerja sebagai Petani, sang ibu hanya penjual makanan di pasar yang terletak jauh dari desa. Mereka memiliki 3 anak. Si sulung bernama Bella, dia putus sekolah karena ingin membantu ibu menjaga kedua adiknya. Yang ditengah bernama Kayla, dia bersekolah jauh dari desa. Dan si bungsu bernama Sania, Sania masih belum sekolah.

Suara ayam membangunkan si sulung. Dia segera mandi lalu shalat subuh. Dia membantu ibu memasak makanan untuk kedua adiknya dan ayah yang akan berdegas pergi ke sawah.

“ibu, ada yang bisa aku bantu?” tanya Bella
“tidak usah sayang… kamu bangunkan adikmu dan menyuruh Kayla mandi saja” balas ibu
“baik bu” jawab Bella singkat

Bella berlari ke kamar Kayla, dia membangunkan Kayla.
“kay! Bangun! Ayo dong, sekarang hari pertama kamu sekolah” kata Bella mengoyang tubuh Kayla
“uhmmm… apa sih kak? Masih jam segini kali” bantah Kayla
“Kayla, jarak rumah ke sekolah itu jauh, sudahlah nanti kakak antar kamu mengunakan sepeda saja. Cepat mandi!” suruh Bella

Setelah membangunkan Kayla. Bella pun  pun membantu ibu untuk menyiapkan sarapan dan bekal untuk Kayla dan ayah. Setelah sarapan pagi, ayah dan ibu berangkat bekerja, ayah mengantar ibu ke pasar mengunakan motor, lalu ayah berdegas ke ladang. bella pun langsung segera mengambil sepeda dan membonceng adiknya ke sekolah, di desa seberang. Di tengah perjalanan, Bella bercerita mengenai R.A Kartini, pahlawan wanita yang telah memperjuangkan nasib wanita, sampai bisa bersekolah seperti adiknya sekarang ini.

“Kay! Harusnya kamu bersyukur bisa sekolah dengan mudah. Biaya ditangung pemerintah, tiada perang perang. Jadi… kamu harus rajin ya di sekolah” ucap Bella
“memangnya? Saat zaman peperangan tidak ada sekolah kak?” tanya Kayla
“bukannya tidak ada, tapi wanita seperti kita tidak diperbolehkan bersekolah. Bersekolah yah Cuma sampai kelas 6 SD, setelah kelas 6 para wanita dipingit. Akhirnya Kartini bertanya kepada ayahnya, namun sang ayah hanya diam. Dan Kartini pun membuatkan sekolah dengan Cuma-Cuma atau  gratis untung rakyat Indonesia. Kartini pun sering membuat buku buku novel yang bertentangan dengan  cara memotivitas rakyat Indonesia” cerita Bella panjang lebar

“lalu apa hubungannya sama Kayla?” tanya Kayla
“harusnya kamu bersyukur bisa bersekolah. Kartini bersekolah SD saja membayar dengan biaya mahal, kamu sekolah sekarang kan ditangung pemerintah. Sedangkan kakak yang ingin bersekolah malah tidak bisa. Ya sudah, sudah sampai di sekolahmu, belajar yang rajin ya Kay! Nanti kakak jemput jam 12 siang ya!” teriak Bella melambaikan tangan ke adiknya
“byee kak!” teriak Kayla balik

Setelah sampai di rumah, Bella mengelar tikar di depan rumahnya. Bella pun mengajar anak anak yang tak mampu bersekolah, dia membuat sekolah kecil kecilan, sedangkan Sania dititipkan ke tetangga Bella

“kak Bella, mari belajar. Sudah tak sabar nih” teriak salah satu anak laki laki
“iya iya, semua duduk dengan tertib ya! Kakak akan mengajari kalian menghitung” teriak Bella menenangkan anak anak yang berlari sana sini
“asikkk!!!” teriak semua anak

“Aldo, coba kamu hitung. Misalnya, kak Bella ngasih kekamu 20 permen, kemudian adikmu memintanya 5, lalu kakak memberimu 10 permen lagi, jadinya?” tanya Bella kepada Aldo
“saya menjawabnya… terima kasih kak Bella, hehehe” canda Aldo. Semua murid pun tertawa, Bella hanya bisa tersenyum ke Aldo, “okey okey, tadi kan ada 20 – 5 + 10 jadinya 25 kak Bel” jawab Aldo dengan tersenyum malu. Bella bangga akan anak anak itu. Mereka yang kurang mampu saja mau belajar, sedangkan adiknya sendiri yang cukup mampu malas malasan sekolah. Sekolah ini dipulangkan pukul 10.

Jam menunjukan pukul 11.00. Saatnya Bella menjemput Kayla dari sekolahnya, dan mengantarkan bekal untuk kedua orangtuanya yang bekerja. Bella pun mengambil 2 rantang makanan yang telah disiapkannya tadi. Bella mengambil sepedanya dan segera mengayuh sepedanya ke ladang ayah, lalu ke pasar ibu, setelah itu, barulah Bella menjemput adiknya.

“kak Bella, sekolahku tadi asik lo kak! Aku perkenalan ke depan, lalu aku diceritain kehidupan Kartini dimasa lalu. Ceritanya mirip banget sama cerita kakak! Kak, aku meminjam buku ‘Kehidupan Kartini’ di perpustakaan sekolah, aku janji, aku bakal rajin sekolah” kata Kayla bersemangat. Bella hanya menangapi dengan senyuman manisnya.

Jadi… Kartini adalah pahlawan yang memperjuangkan pendidikan wanita. Dahulu memang Belanda melarang wanita bersekolah. Setelah melewati pendidikan SD, Kartini dipingit, dia cuma terdiam di kamar sambil membaca buku pendidikan. Akhirnya dia membuat sekolah kecil kecilan, untuk membantu Rakyat indonesia menjadi maju dan pandai.
Jasa Kartini masih dikenang sampai sekarang, dan novel novelnya yang telah dia buat  pun masih ada. Dia juga sering dijadikan nama untuk jalan, dan setiap hari kelahirannya, dirayakan sebagai hari Kartini.

Kau Sudah Sukes Nak

Cerpen Karangan: Avril Wong
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Pendidikan
Lolos moderasi pada: 3 June 2017

Sudah lebih dari setengah jam aku menunggu seseorang yang sangat penting bagi perusahaanku di sini. Dialah Pak Ardianto, seseorang yang akan mengivestasikan uangnya ke perusahaanku. Aku dan dia sudah berjanji untuk berjumpa disini, di kafe Olimo, Jalan Betawi.

Aku menghela nafas panjang karena ternyata orang penting seperti ini juga bisa ngaret. Sebenarnya ia sudah SMS, menyuruhku untuk menunggu di dalam saja dan memesan minuman. Namun kuputuskan untuk menunggunya di luar karena aku ingin menikmati pemandangan di luar kafe sehabis gerimis seperti ini.

Aku melirik ke pakaianku yang sudah rapi. Setelan jas hitam dan celana bahan kain yang dipesan langsung dari butik mahal. Aku cuma membawa sebuah ipad dan dua buah ponsel. Agenda hari ini untuk bertemu dengan Pak Ardianto hanyalah makan siang biasa. Sehingga aku tidak memerlukan laptop dan semacamnya. Itu bisa dilakukan oleh bawahanku.

Aku melirik suasana di depanku. Suasana inilah yang ada di bayanganku sehari sebelumnya, ketika aku menyetujui Pak Ardianto untuk bertemu di sini. Jalan Betawi. Jalan yang sangat memberikan banyak kenangan-kenangan indah dan manis bagiku.
Banyak sekali mobil-mobil mewah yang berlalu lalang. Dan jumlah sepeda motor juga tidak kalah banyaknya. Toko-toko yang menjual alat-alat tulis bertebaran di mana-mana. Maklum, karena di seberang kafe Olimo ini, berdiri sebuah sekolah yang besar. Siapapun yang melihatnya, pasti mengambil kesimpulan, inilah sekolah paling tua di Jalan Betawi ini.
Miris, sungguh miris. Karena itulah sekolahku dulu. Dua puluh tahun yang lalu, sekolah itulah adalah sekolah yang isinya adalah murid-murid nakal dan bandel.  Yang dimana pada zaman itu naik becak dan jatuh terbalik terlempar ke jalanan sejauh sepuluh meter dari becaknya sudah biasa dilakukan oleh anak-anak angkatanku.
Banyak orangtua yang tidak tahu harus bagaimana mendidik anaknya lagi, sehingga mereka pun menyekolahkan anaknya di situ. Karena sekolah itulah yang menerima murid-murid semacam itu.

Akan tetapi saat ini,  kabarnya sekolah itu telah menjadi sekolah terfavorit se-Jakarta. Sekolah yang memiliki murid-murid pintar dan langganan olimpiade tingkat nasional. Sekolah paling gagah dengan fasilitas yang memadai. Bahkan bangunannya yang sudah tua, tidak mengurangi kesan kalau sekolah ini adalah sekolah yang hebat. Sekolah yang berhasil mendidik murid-muridnya untuk menjadi orang-orang sukses di kemudian hari.

Tanpa sadar kakiku membawaku melangkah masuk ke dalam sekolah itu. Aku tertegun melihat semua perabotan-perabotannya masih sama sejak kutinggalkan sekolah ini dua puluh tahun yang lalu. Semuanya masih sama. Hanya saja dindingnya yang dicat ulang.
Aku berjalan terus, menyusuri lorong panjang gelap yang membawaku ke sebuah ruangan kelas. Ruangan kelas inilah yang paling besar. Dan dia juga adalah kelasku dulu dengan wali kelas yang paling kubenci. Beliau adalah guru yang paling galak dan tegas di sekolah ini dulu.

Aku membencinya karena dulu dia selalu saja menegur tingkah lakuku. Tidak boleh ini, tidak boleh itu. Memangnya dia siapa? Dia hanya guru yang digaji di sekolah ini untuk mengajar. Kenapa kepo sekali?
Aku jengkel ketika telinganya selalu saja tajam ketika mendengar obrolanku dengan teman-temanku. Seperti tidak ada kerjaan saja.
Aku selalu sebal saat dia memberikan hukuman yang paling tidak kusukai. Membersihkan WC!
Aku kesal saat dia selalu menyuruhku datang ke ruang guru lalu menceramahiku selama satu jam jika aku melakukan kesalahan yang menurutku tidaklah fatal. Heran, hampir semua yang kulakukan pasti salah di matanya.
Aku benci melihat dia memamerkan kebolehannya dalam pelajaran matematika. Selalu saja sok bisa mengajar di depan kelas. Dan selalu menyuruhku mengerjakan soal-soal yang diberikannya di papan tulis padahal ia tahu kalau aku paling membenci pelajaran matematika.
Aku sebal ketika dia berbicara dengan ibuku tentang kelakuan jelekku di sekolah. Aku tidak suka melihat dia mencampur urusan pribadiku.

Akan tetapi, semua kekesalanku itu sirna saat mataku menangkap sosok tua yang sedang mengajar di depan kelas. Menerangkan semua ilmu yang dimilikinya ke siswa-siswi didikannya. Cara mengajarnya masih sama seperti dua puluh tahun yang lalu. Menggunakan stik berwarna krem. Dan stik itu pun masih sama. Dengan stik itulah aku sering kena pukul. Sudah tidak tahu berapa kali dia memukul punggungku dengan stik itu.
Tangannya yang dulu kekar, sekarang berubah menjadi lemas.
Matanya yang dulu sangat tajam, sekarang sudah dihiasi dengan kacamata tua.
Wajah yang dulu terlihat tampan, sekarang sudah berubah menjadi keriput.
Tubuh yang dulunya gagah, sudah berubah menjadi loyo.
Itu semua menandakan bahwa usianya sudah tidak muda lagi.
Bahkan gerak-gerik yang dulu lincah, sekarang berubah menjadi sangat lamban.
Walau aku tidak dapat mendengar suaranya, karena ruangan kelas yang tetutup oleh pintu yang kekar besar, aku yakin, suaranya juga sudah berubah. Tidak suka berteriak-teriak seperti dulu lagi.
Air mataku tiba-tiba jatuh tanpa kuketahui.

Bel pulang sekolah berdering keras. Aku melihat semua murid berhamburan keluar dari kelas. Tinggalah dia sendiri. Duduk di atas kursi guru sambil merapikan buku-buku tugas milik murid-muridnya. Aku memerhatikan seluruh gerak-geriknya dengan hati teriris-iris. Sudah sangat tuakah beliau? Berapa usianya dua puluh tahun lalu? Empat puluh? Lima puluh?
Suara ponsel yang memekik keras berasal dari kantongku. Aku melirik siapa yang memanggil. Ternyata Pak Ardianto.
Entah kenapa rasanya tidak penting lagi. Aku tidak peduli lagi dengan investor itu. Yang ingin kuhampiri hanyalah dia. Seseorang yang sungguh berjasa dalam hidupku. Orang itulah yang telah membantuku melewati masa-masa sulit, walaupun aku sama sekali tidak menghargainya.
Orang itu juga yang membimbingku, hingga bisa seperti ini. Beliau tidak hanya mengajarkanku matematika. Namun juga mengajarkanku banyak sekali hal-hal yang baru tanpa kusadari. Tidak secara langsung memang, tetapi beliaulah yang juga berperan penting dalam hidupku.

Seperti tersadar sedang diperhatikan, beliau menoleh. Dan aku terkejut dengan tatapannya yang tajam mengarah kepadaku. Aku tidak tahu harus berpura-pura lupa kepadanya atau justru datang kepadanya. Keringat dingin mulai mengalir keluar melewati pori-poriku.
Beberapa saat beliau memandangku seperti itu. Aku yang diluar kelas dan dirinya berada di dalam kelas. Aku menunduk, dan menatap lantai. Siap menerima semua komentar ataupun balas dendam atas perbuatanku masa lalu.

Bunyi langkah sepatu tua yang pelan namun teratur terdengar. Aku mengangkat kepala dan mataku yang bertemu dengan mata tua itu. Raut wajahnya datar. Kini posisi kami berhadapan. Aku lebih tinggi beberapa centi.
Tangannya terangkat. Dan menepuk-nepuk bahuku. Air mataku mengalir deras seketika. Dan aku pun memberanikan diri untuk memeluknya.
“Ronald.” panggilnya pelan, hampir tak bersuara.
“Ya, Pak.” Jawabku dengan ketakutan, sama persis dua puluh tahun yang lalu.
“Sekian lama Bapak menunggu kau datang. Bapak senang karena keinginan Bapak terkabul karena kau sudah sukses, Nak.”

Pantang Menyerah Kejar Masa Depan

Cerpen Karangan: Istiya Eka Pratiwi
Kategori: Cerpen Pendidikan, Cerpen Perjuangan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 3 February 2017

Ibrahim adalah siswa STM BUDI JAYA yang berasal dari keluarga yang sederhana. Ayah ibrahim sudah meninggal dunia sejak ia duduk di bangku smp, sejak saat itu ibunya yang menjadi tulang punggung keluarga sebagai penjual kue. Ketika Ibrahim akan berangkat sekolah dia tak takut untuk membawa kue buatan ibunya untuk dititipkan di kantin sekolahnya dan saat pulang sekolah Ibrahim menyempatkan diri untuk bekerja di bengkel dekat rumahnya untuk meringankan beban ibunya, dengan ilmu yang didapatnya di sekolah Ibrahim gunakan untuk bekerja. Beruntung pemilik bengkel tersebut sudah mengenal baik Ibrahim dan keluarganya.

Uang yang ia dapatkan sebagian ia tabung dan sebagian ia berikan kepada ibunya untuk keperluan sehari-hari. Tujuan Ibrahim menyisihkan uangnya sedikit demi sedikit karena ia ingin kuliah, ia punya keinginan untuk merubah ekonomi keluarganya menjadi lebih baik, ia ingin menjadi orang sukses agar ia dapat memanjakan ibunya dan adik-adiknya, ia tak mau lagi melihat ibunya kepanasan jualan sana-sini tapi hasil tak seberapa.

Ibrahim bertekad dapat masuk ke salah satu universitas melalui jalur prestasi karena Ibrahim memang dikenal sebagai siswa berprestasi di sekolahnya. Ibrahim pernah dikasih saran oleh Kepala Sekolahnya bila nilai ujiannya dengan rata-rata 9.0 atau lebih, ia dijanjikan akan mendapat beasiswa di Universitas terfavorit, sejak saat itu Ibrahim terus belajar dengan giat agar bisa mendapat prestasi tersebut.

Kini usahanya tak sia-sia. Nilai Ujian Nasionalnya cukup bagus, yaitu: BI (9.2), Mat (9.0), IPA (9.4). Ibrahim masuk ke Universitas favorit tersebut dengan beasiswa. Sungguh bahagia tidak terhingga saat kabar itu terdengar oleh ibu Ibrahim. Walaupun Ibrahim akan meninggalkan ibu dan adik-adiknya untuk beberapa tahun, akan tetapiitu  tak masalah bagi ibu Ibrahim, Ibu ibrahim mendukung penuh keinginan putra sulungnya itu.

Kini akhirnya Ibrahim dapat malanjutkan pendidikannya. Berkat kerja keras dan doa kini ia dapat mengejar cita-citanya.

TAMAT

Mimpi Kami Anak Bangsa

Cerpen Karangan: Feny Sahara
Kategori: Cerpen Kehidupan, Cerpen Pendidikan
Lolos moderasi pada: 16 November 2016

Berjalan menyusuri jalanan saat dimana orang lain melakukan aktivitas mereka dan juga anak seusiaku tentunya mereka bergegas ke sekolah. Tidak sepertiku hanya melihat megahnya gedung sekolah tanpa pernah merasakan nyamannya duduk di bangku sekolah menerima pelajaran untuk mengenal dunia. Atau memang telah menjadi takdir untuk kami orang pinggiran selalu tersisih terutama anak-anak bangsa seperti kami yang tidak layak unutk mengikuti pendidikan. Yang aku lakukan hanya mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk aku bawa pulang. mungkin mengapa aku tak pernah lelah menanyakan mengapa ibu tak menyekolahkanku seperti anak-anak yang lain walau jawaban yang ibu berikan tetap saja tak pernah berubah.

“Bu, apa sebenarnya anak-anak sepertiku tidak berhak bersekolah?” Tanyaku.

“Kita itu tak butuh sekolah yang penting anda itu bisa cari uang.” Jawab Ibu.

 

Aku pernah mendengar di radio “Bahwa anak-anak bangsa wajib menerima pendidikan yang layak karena kelak merekalah yang membangun bangsa ini.” Tapi anak-anak seusiaku banyak yang tak menerima pendidikan yang layak bagi mereka bisa makan sehari-hari saja telah cukup.

“Ayo ngapain ngelamun aja.” ujar temanku.

“Mau kemana?” jawabku.

“Ya mulunglah emang apabila melamun bisa bisa uang.” sahutnya.

“Iya.”

Dion adalah temanku sama sepertiku tak pernah megenal bangku sekolah di pikirannya hanya uang. Baginya tidak perlu pendidikan tinggi atau keahlian khusus untuk memulung hanya butuh karung besar untuk menampung barang-barang bekas.

“Dion apa kamu pernah berpikir kalau kita dapat bersekolah.” kataku
“Apa sekolah, mimpi kamu.” jawab Dion.

Meski dia berkata seperti itu sebenarnya Dion memiliki mimpi yang sangat besar untuk bersekolah akan tetapi, karena keadaan dia harus mengubur mimpinya. Dan dia pernah berkata kalau sekolah itu hanya untuk orang-orang kaya saja.

Jalanan begitu ramai seorang laki-laki terlihat begitu terburu-buru dengan penampilan sangat rapi dia berusaha menerobos keramaian namun tanpa sengaja dompetnya terjatuh dari saku celana, dan aku tepat berada di belakangnya tanpa pikir panjang aku langsung mengambil dompet itu dan langsung mengembalikannya.

“Pak ini dompetnya jatuh.” ujarku.
“Oh ya.” jawabnya yang langsung pergi dengan terburu-buru.
“Siapa itu Ben?” tanya Dion.
“Tadi dompet bapak itu terjatuh.” jawabku.
“Kenapa gak kamu ambil aja kan lumayan.” sahut Doni.
“Hmmm dasar.”

Tak lama berselang ketika aku dan Dion melepas dahaga di pedagang kaki lima aku kembali melihat bapak yang tadi dompetnya terjatuh, dari kejauhan dia seakan menuju ke arah tempat aku dan Dion.

“Kamu tadi yang mengembalikan dompet saya kan?” tanya bapak itu.
“Iya pak.” jawabku.
“Maaf ya tadi saya belum mengucapkan terima kasih karena terburu-buru.” ujarnya.
“Iya pak tidak apa-apa.” sahutku.

Cukup lama kami berbincang namun ada satu pertanyaan yang membuatku sedikit merasa sedih dan sejenak aku terdiam. Yang sebelumnya pertanyaan itu tidak pernah ditanyakan oleh seorang yang berpenampilan rapi dengan tutur bahasa yang santun.

“Apa kalian berdua ingin bersekolah seperti anak lainnya.” tanya Bapak itu.
“Mungkin tidak ada anak yang tak ingin bersekolah Pak termasuk kami berdua dan teman-teman kami lainnya tapi bagi kami duduk di bangku sekolah dan menerima pendidikan yang layak itu hanya sebatas mimpi.” jawabku.
“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini” kata yang diucapkan Bapak itu dan kata-kata yang membuatku sedikit tidak percaya bahwa dia menerima kami anak-anak di perumahan kumuh untuk bersekolah dengan layak yang tidak harus memikirkan biaya apapun di sebuah yayasan yang didirikannya.
Aku dan Dion seakan terdiam merasa tidak percaya, yang dulu bersekolah adalah mimpi sekarang menjadi kenyataan.

Nah, itulah beberapa contoh Cerpen Tentang Pendidikan yang paling mengesankan. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan Anda dan juga bisa bermanfaat bagi kita semua.

Cerpen Tentang Pendidikan

Leave a Comment