40
388

PETA LAMPUNG : Sejarah, Iklim & Geografi (LENGKAP)

Peta Lampung – Pada pembahasan kali ini kita akan membahas seputar Provinsi Lampung yang dimana sebelumnya kita telah membahas Peta Bengkulu dari Gambar Peta sampai Sejarahnya. Okee dibawah ini akan dikupas habis mengenai Provinsi Lampung yang perlu kalian ketahui. Selamat Membaca.

Gambar Peta Lampung

Peta Lampung

Peta Lampung

Peta Lampung Lengkap

Peta Lampung Lengkap

Peta Lampung Lengkap

Peta Buta Lampung 

Peta Buta Lampung

Peta Buta Lampung

Peta Administrasi Lampung

Peta Administrasi Lampung

Peta Administrasi Lampung

Peta Lampung

Peta Lampung

Peta Lampung

Lampung (Aksara Lampung: ) merupakan sebuah provinsi paling selatan di Pulau Sumatera, Indonesia, dengan ibu kota Bandar Lampung. Provinsi ini mempunyai 2 kota yakni Kota Bandar Lampung dan Kota Metro serta 13 kabupaten. Provinsi Lampung mempunyai pelabuhan penting bernama Pelabuhan Panjang dan Pelabuhan Bakauheni serta Bandar udara penting yaitu “Radin Inten II” terletak 28 km dari ibu kota provinsi.

Geografi Lampung

Peta Lampung

Peta Lampung

Secara Geografis Provinsi Lampung terletak antara : 103º 40′ – 105º 50′ Bujur Timur Utara – dan 6º 45′ – 3º 45′ Lintang Selatan. Lapangan terbang penting Lampung merupakan Radin Inten II, dan lapangan terbang AURI yang berada di Menggala dengan nama Astra Ksetra.

Batas – Batas Provinsi Lampung

Peta Lampung

Peta Lampung

  • Bagian Barat : Berbatasan dengan Samudera Hindia
  • Bagian Timur : Berbatasan dengan Laut Jawa
  • Bagian Utara : Berbatasan dengan provinsi Sumatera Selatan
  • Bagian Selatan : Berbatasan dengan Selat Sunda.

Sejarah Lampung

Sejarah Lampung

Sejarah Lampung

Provinsi Lampung sendiri mempunyai Pelabuhan utama yang bernama Pelabuhan Panjang dan Pelabuhan Bakauheni serta pelabuhan nelayan seperti Pasar Ikan (Teluk betung), Tarahan, dan Kalianda di Teluk Lampung.

Bandar udara penting merupakan “Radin Inten II”, yakni nama modern dari “Branti”, 28 Km dari Ibukota menggunakan jalan negara menuju Kotabumi, dan tiga Bandar udara perintis yakni : Bandar udara Mohammad Taufik Kiemas di Krui, Pesisir Barat, Bandar udara Gatot Soebroto di Kabupaten Way Kanan dan lapangan terbang AURI ditemukan di Menggala yang bernama Astra Ksetra.

Di samping itu, Kota Menggala juga bisa dikunjungi kapal-kapal nelayan dengan menyusuri sungai Way Tulang Bawang, mengenai di perairan Indonesia ditemukan Pelabuhan Krui.

Provinsi Lampung berdiri pada tanggal 18 Maret 1964 dengan ditetapkannya Peraturan Pemerintah Nomor 3/1964 yang terus menjadi Undang-undang Nomor 14 tahun 1964. Sebelum itu Provinsi Lampung ialah Karesidenan yang tergabung dengan Provinsi Sumatera Selatan.

Kendatipun Provinsi Lampung sebelum tanggal 18 Maret 1964 tersebut secara manajerial masih ialah bagian dari Provinsi Sumatera Selatan, akan tetapi daerah ini jauh sebelum Indonesia merdeka sebenarnya telah menunjukkan potensi yang paling besar serta corak warna kebudayaan tersendiri yang bisa menambah khasanah norma budaya di Nusantara yang tercinta ini. Oleh karena itu pada masa VOC daerah Lampung tidak terlepas dari incaran penjajahan Belanda.

Lampung pernah menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Tarumanagara dan Kerajaan Sunda sampai zaman ke-16. masa Kesultanan Banten menghancurkan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda maka Hasanuddin, sultan Banten yang pertama, mewarisi wilayah tersebut dari Kerajaan Sunda.

Hal ini dipaparkan pada buku The Sultanate of Banten tulisan Claude Guillot pada halaman 19 sebagai berikut: “From the beginning it was abviously Hasanuddin’s intention to revive the fortunes of the ancient kingdom of Pajajaran for his own benefit. One of his earliest decisions was to travel to southern Sumatra, which in all likelihood already belonged to Pajajaran, and from which came bulk of the pepper sold in the Sundanese region”.

Tatkala Banten di bawah pimpinan Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1651–1683 Banten berhasil menjadi pusat perdagangan yang bisa menyaingi VOC di perairan Jawa, Sumatra dan Maluku. Sultan Ageng ini pada usaha meluaskan wilayah kekuasaan Banten mendapat hambatan karena dihalang-halangi VOC yang bercokol di Batavia. Putra Sultan Ageng Tirtayasa yang bernama Sultan Haji diserahi tugas untuk menggantikan kedudukan mahkota kesultanan Banten.

Dengan kejayaan Sultan Banten pada saat itu pasti saja tidak menyenangkan VOC, oleh karenanya VOC selalu berusaha untuk menguasai kesultanan Banten. Usaha VOC ini berhasil dengan cara membujuk Sultan Haji sehingga berselisih paham dengan ayahnya Sultan Agung Tirtayasa.

Pada perlawanan menghadapi ayahnya sendiri, Sultan Haji meminta bantuankepada VOC dan sebagai imbalannya Sultan Haji akan menyerahkan penguasaan pada daerah Lampung kepada VOC. kesimpulannya pada tanggal 7 April 1682 Sultan Ageng Tirtayasa disingkirkan dan Sultan Haji dinobatkan sebagai Sultan Banten.

Dari perundingan-perundingan antara VOC dengan Sultan Haji menimbulkan sebuah piagam dari Sultan Haji tertanggal 27 Agustus 1682 yang isinya antara lain menyebutkan bahwa sejak saat itu pengawasan perdagangan rempah-rempah pada daerah Lampung diberikan oleh Sultan Banten kepada VOC dan sekaligus memperoleh monopoli perdagangan didaerah Provinsi Lampung.

Pada tanggal 29 Agustus 1682 iring-iringan skuadron VOC dan Banten membuang sauh di Tanjung Tiram. skuadron ini dipimpin oleh Vander Schuur dengan membawa surat mandat dari Sultan Haji dan ia mewakili Sultan Banten. Ekspedisi Vander Schuur yang awal ini ternyata tidak berhasil dan ia tidak memperoleh lada yang dicari-carinya.

Agaknya perdagangan langsung antara VOC dengan Lampung yang dirintisnya mengalami kegagalan, karena ternyata tidak semua penguasa di Lampung langsung tunduk seperti itu saja kepada kekuasaan Sultan Haji yang bersekutu dengan kompeni, tetapi banyak yang masih mengakui Sultan Ageng Tirtayasa sebagai Sultan Banten dan menganggap kompeni tetap sebagai musuh.

Sementara itu keluarlah keragu-raguan dari VOC apakah benar Provinsi Lampung ini berada di bawah Kekuasaan Sultan Banten, terus perkembangan diketahui bahwa penguasaan Banten pada Lampung tidak mutlak begitu saja.

Penempatan wakil-wakil Sultan Banten di Lampung yang dikatakan “Jenang” ataupun kadang-kadang dikatakan Gubernur hanyalah mengurus kepentingan dari perdagangan hasil bumi yaitu lada.

Sedangkan penguasa-penguasa Lampung orisinil yang terpencar-pencar pada tiap-tiap desa ataupun kota yang dikatakan “Adipati” secara hierarkis tidak berada di bawah koordinasi penguasaan Jenang/ Gubernur.

Jadi penguasaan Sultan Banten pada Lampung merupakan pada hal garis pantai saja pada rangka menguasai monopoli arus keluarnya hasil-hasil bumi terutama lada, dengan begitu jelas hubungan Banten-Lampung merupakan pada hubungan saling membutuhkan satu dengan lainnya.

Selanjutnya pada masa Raffles berkuasa pada tahun 1811 ia menduduki daerah Semangka dan tidak mau melepaskan daerah Lampung kepada Belanda karena Raffles beranggapan bahwa Lampung bukanlah jajahan Belanda. akan tetapi sesudah Raffles meninggalkan Lampung modern terus tahun 1829 ditunjuk Residen Belanda untuk Lampung.

Mulai sejak tahun 1817 posisi Radin Inten semakin kuat, dan oleh karena itu juga Belanda  sudah merasa khawatir dan mengirimkan ekspedisi kecil dipimpin oleh Assisten Residen Krusemen yang menimbulkan persetujuan bahwa :

  1. Radin Inten memperoleh bantuan keuangan dari Belanda sebesar f. 1.200 setahun.
  2. Kedua saudara Radin Inten masing-masing tentu memperoleh bantuan pula sebesar f. 600 tiap tahun.
  3. Radin Inten tidak boleh meluaskan lagi wilayah selain dari desa-desa yang sampai saat itu masih berada di bawah pengaruhnya.

Tetapi persetujuan itu tidak pernah dipatuhi oleh Radin Inten dan ia  tetap membuat perlawanan-perlawanan kepada Belanda.

Oleh karena itu pada tahun 1825 Belanda langsung memberikan tugas Leliever untuk menangkap Radin Inten, akan tetapi dengan cerdik Radin Inten bisa menyerbu benteng Belanda dan membunuh Liliever dan anak buahnya.

Akan tetapi karena pada saat itu Belanda sedang menghadapi perang Diponegoro pada tahun 1825–1830, maka Belanda tidak bisa berbuat apa-apa kepada peristiwa itu. Tahun 1825 Radin Inten telah menghembuskan nafas terakkhirnnya dan langsung digantikan oleh putranya Radin Imba Kusuma.

Setelah Perang Diponegoro selesai pada tahun 1830 Belanda menyerbu Radin Imba Kusuma di daerah Semangka, terus pada tahun 1833 Belanda menyerbu benteng Radin Imba Kusuma, tetapi tidak berhasil mendudukinya.

modern pada tahun 1834 sesudah asisten Residen diganti oleh perwira militer Belanda dan dengan kekuasaan penuh, maka Benteng Radin Imba Kusuma berhasil dikuasai.

Radin Imba Kusuma menyingkir ke daerah Lingga, akan tetapi penduduk daerah Lingga ini menangkapnya dan menyerahkan kepada Belanda. Radin Imba Kusuma terus di buang ke Pulau Timor.

Dalam dalam itu rakyat dipedalaman tetap membuat perlawanan, “Jalan Halus” dari Belanda dengan memberikan hadiah-hadiah kepada pemimpin-pemimpin perlawanan rakyat Lampung ternyata tidak membawa hasil.

Belanda tetap merasa tidak aman, sehingga Belanda membentuk tentara sewaan yang terdiri dari orang-orang Lampung sendiri untuk melindungi kepentingan-kepentingan Belanda di daerah Telukbetung dan sekitarnya.

Perlawanan rakyat yang langsung dioerintah oleh putra Radin Imba Kusuma sendiri yang bernama Radin Inten II tetap berlangsung terus, sampai akhirnya Radin Inten II ini diterima dan dibunuh oleh tentara-tentara Belanda yang khusus didatangkan dari Batavia.

Dan mulai sejak itu Belanda mulai leluasa menancapkan kakinya di daerah Lampung. Perkebunan mulai dikembangkan yakni penanaman kaitsyuk, tembakau, kopi, karet dan kelapa sawit. Untuk kepentingan-kepentingan pengangkutan hasil perkebunan itu maka pada tahun 1913 dibangunlah  jalan kereta api dari Telukbetung sampai Kota Palembang.

Hingga menjelang detik-detik Indonesia merdeka tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945 dan periode perjuangan fisik sesudah itu, putra Lampung tidak ketinggalan ikut terlibat dan merasakan betapa pahitnya perjuangan melawan penindasan penjajah yang terus berganti.

Sehingga pada akhirnya sebagai mana dikemukakan pada dahulu uraian ini pada tahun 1964 Keresidenan Lampung ditingkatkan menjadi Daerah Tingkat I Provinsi Lampung.

Dan  pada masa kejayaan Lampung sebagai sumber lada hitam pun mengilhami para senimannya sehingga tercipta lagu Tanoh Lada. Bahkan, saat Lampung diresmikan menjadi provinsi pada 18 Maret 1964, lada hitam menjadi salah satu bagian lambang daerah itu. Namun, sayang saat ini kejayaan tersebut telah pudar.

Nama Pulau di Provinsi Lampung

Peta Lampung

Peta Lampung

Luas Provinsi Lampung kurang lebih 35.376,50 km². Sebelah barat Lampung berbatasan dengan Selat Sunda, sedangkan di sebelah timur berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Pulau-pulau kecil yang termasuk pada wilayah provinsi ini antara :

  • Pulau Darot
  • Pulau Legundi
  • Pulau Tegal
  • Pulau Sebuku
  • Pulau Ketagian
  • Pulau Sebesi
  • Pulau Poahawang
  • Pulau Krakatau
  • Pulau Putus
  • Pulau Tabuan
  • Pulau Tampang
  • Pulau Pisang

Bagian barat di sepanjang pantai Provinsi Lampung ialah daerah berbukit yang ialah rangkaian Bukit Barisan. Di wilayah tengah dataran rendah, dan di sebelah timur ialah perairan yang luas Laut Jawa.

Nama Gunung di Provinsi Lampung

Peta Lampung

Peta Lampung

Tak berlainan dengan provinsi lain di Sumatera, Lampung juga mempunyai banyak gunung, antara lain sebagai berikut:

  • Gunung Pesagi di Liwa, Lampung Barat
  • Gunung Seminung di Sukau, Lampung Barat
  • Gunung Tebak di Sumberjaya, Lampung Barat
  • Gunung Rindingan di Pulau Panggung, Tanggamus
  • Gunung Pesawaran di Kedondong, Pesawaran
  • Gunung Betung di Teluk Betung, cukong Lampung
  • Gunung Rajabasa di Kalianda, Lampung Selatan
  • Gunung Tanggamus di Kotaagung, Tanggamus
  • Gunung Krakatau di Selat Sunda, Lampung Selatan
  • Gunung Sekincau Liwa, Lampung barat
  • Gunung Ratai di Padang Cermin, Pesawaran

Terdapat pula sungai-sungai, antara lain sebagai berikut :

  • Way Sekampung, sepanjang 265 km
  • Way Semaka, sepanjang 90 km
  • Way Seputih, sepanjang 190 km
  • Way Jepara, sepanjang 50 km
  • Way Tulang bawang, sepanjang 136 km
  • Way Mesuji, sepanjang 220 km

Kota/Kabupaten Provinsi Lampung

Peta Lampung

Peta Lampung

Nama Kabupaten dan Kota di Lampung:

  1. Lampung Tengah
  2. Lampung Utara
  3. Lampung Selatan
  4. Lampung Barat
  5. Lampung Timur
  6. Mesuji
  7. Pesawaran
  8. Pesisir Barat
  9. Pringsewu
  10. Tulang Bawang
  11. Tulang Bawang Barat
  12. Tanggamus
  13. Way Kanan
  14. Kota Bandar Lampung
  15. Kota Metro

Nahh, itulah penjelasan seputar Provinsi Lampung yang meliputi Gambar Peta Lampung, Peta Administrasi Lampung, Peta Buta Lampung, Nama Gunung & Pulau di Lampung serta Sejarah Lampung yang bisa Anda jadikan sebagai referensi ataupun tugas Anda. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan Anda dan juga bisa bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Show Comments

No Responses Yet

Leave a Reply