16
196

40+ Puisi Lingkungan Tentang Alam & Sekolah Yang Menyentuh Hati

Puisi Lingkungan – Alam dan lingkungan ini ialah tempat bagi kita semua makhluk hidup di muka bumi baik itu manusia, hewan, tumbuhan, ataupun benda mati lainnya. Dan kita sebagai manusia ialah pemilik sebab terbesar di rantai makanan ekosistem kita.

Maka dari itu, kita sebagai salah satu penghuni penting yang terdapat di muka bumi wajib bisa menjaga dan melestarikan alam dan lingkungan dengan sebaik mungkin supaya tidak mudah rusak ataupun hilang serta keseimbangan hidup didunia ini tetap terjaga dalam jangka waktu yang lama.

Puisi Lingkungan Alam

Puisi Lingkungan

Puisi Lingkungan

Namaku Alam

Perkenalkan, namaku adalah alam
Aku adalah tempat tinggal bagi flora dan fauna
Dimana bagi hewan-hewan aku adalah rumah mereka
Tempat mereka bertumbuh
Berkembang biak, dan mencari makan
Melakukan semua aktivitas kehidupan alam

Bukan hanya hewan
Tumbuhan pun merasakan hal yang sama
Bagiku, tumbuhan adalah perhiasanku
Dan hewan, adalah peliharaanku

Aku juga slalu memberi kesejukan bagi penduduk bumi
Aku memberikan oksigen bagi manusia
Aku juga memberikan sumber daya bagi mereka
Memberikan mereka energi, kekuatan, perhiasan
Dan segalanya yang mereka butuhkan

Semua itu adalah pada saat bumi masih dalam keadaan normal
Ketika bumi tidak dipenuhi orang orang serakah
Menggunakan sumber dayaku sesuai kebuhannya saja

Tapi kini
Manusia hanya memikirkan kepentingannya sendiri
Mereka tak pernah memikirkan aku
Mereka slalu ingin lebih atas apa yg telah diberi oleh – Nya
Ketamakan, kerakusan, pemborosan
Telah membawaku kepada kerusakan

Lihat apa yang telah mereka perbuat padaku
Setelah apa yang aku berikan pada mereka
Mereka membalasnya dengan merusakku
Menebang pohon pohonku
Memberikan polusi padaku
Memburu hewan hewanku
Dan merusak ozonku
Dengan zat zat yang dulu tak pernah ada di bumi ini

Sungguh perih hati ini rasanya
Apakah tak ada kesadaran sedikit pun dihati mereka?
Apakah tak ada rasa bersalah mereka atas rusaknya diriku?
Sungguh, sungguh, dan sungguh sangat miris hati ini

 

Alam Desaku

Kulihat sawah membentang
warna hijau bagai permata alam
kucoba telusuri jalan
akankah tetap begitu

Kuingin tetap begini
terlihat apa adanya
kuingin tetap begitu
terlihat kenyataanya

Mentari mulai tenggelam
dan..akupun teteap disini
menikmati alam yang ada
anugerah dari yang kuasa

Oh..alam desaku
…aman dan damai
Oh…. alam desaku
….lestarikanlah

 

Derita Alam

Peradaban kian tak terkendali
Ledakan populasi sudah terjadi
Polusi kian bertambah tanpa henti
Penyakit baru datang tak terobati

Gunung-gunung berubah menjadi tempat sampah
Kemacetan hiasi hidup tanpa penuh berkah
Alam benar-benar menderita
Karena ulah manusia tak tau diri

Pabrik-pabrik dibangun racuni alam
Kepulan asap membumbung tinggi
Putihnya awan berubah menjadi hitam pekat
Berkah alam mulai sirna, kiamat sudah semakin dekat

Alam sudah memberikan banyak keuntungan bagi kita
Polusi yang dihasilkan tidak sebanding dengan apa yang didapat

Pelan tapi pasti alam semakin tergerus
Hanya kesadaranlah yang bisa selamatkan alam ini
Jangan biarkan alam murka
Karena hanya akan membawa derita

Tawa dan canda hiasi keuntungan usaha
Tidak peduli dengan alam, hanya kantong pribadi semata
Bencana datang melanda, diikuti tangis dari sang anak manusia

Apa yang kita tanam itulah yang akan kita dapat
Jagalah alam agar hidup aman dan tentram
Mulailah dari diri sendiri untuk perubahan bumi pertiwi

 

Berita Alam

Halilintar menggelegar, daun-daun berguguran
Langit biru menghilang
Burung terbang tinggalkan sarang
Rintik hujan berjatuhan, payung-payung dikenakan
Pohon tumbang tercabut dari akarnya
Awan hitam semakin mengembang
Kulangkahkan kakiku menuju cakrawala
Gapai harapan mimpi indah
Kupetik senar gitarku nyanyikan lagu tra la la
Merah putih sudah kusam warnanya
Burung garuda entah terbang kemana
Pancasila tak lagi bermakna
Indonesiaku tertutup wajahnya
Badai datanglah hentak kegersangan
Hujan air turunlah sirami kekeringan
Mentari terbitlah ubah kesuraman alam ini
Nergri ini….

 

Kerusakan Alam

Kau yang kini tertawa
Bermandikan harta
Berkawankan kemewahan
Dari mana kau dapatkan semuanya?

Dari pohon yang kau tebang
Dari hewan yang kau bunuh
Dari tanah yang kian tandus
Dari air yang kian kering
Dari sungai yang kian kerontang
Dari hutan yang kau jadikan kebakaran
Dari asap tebal pohon yang di bakar

Apakah kau tak ingat
Masih ada anak cucu kita
Yang mengharap udara segar
Mengharap kesejukan alam
Mengharap Keindahan dunia
Mengharap hijaunya daun
Mengharap rindanya pepohonan

Tidak kaah kau sadar,
Ada banyak nyawa yang kau ambil
Ada banyak harapan yang kau renggut
Wahai para perusak alam
Ingatlah pada hukum alam
Kita butuh alam yang indah
Kita butuh alam yang sejuk
Kita hidup dalam alam
Dan kita bergantung pada alam

Jagalah alam
seperti kau menjaga rumahmu sendiri
Karena alam kita
adalah
alam anak cucu kita

 

Alamku Berbicara

Pertiwi kini berduka,
Pertiwi kini berteriak,
Memangil, mencari,
Dimana manusia berada
Pertiwi berkata
Masih adakah manusia yang akan melayaniku
Kutumpahkan lahar di Jogja,
Kuberi air bah untuk Mentawai,
Kudatangkan banjir untuk Wasior,
Dab kubuat Jakarta tenggelam,
Hutanku, kekayaanku,
Telah kau rampas dengan paksa,
Kau curi seluruh isi perutku…
Aku hanya ingin kau lindungi agar ku bisa bertahan,
Dan dapat memberikan nafas kehidupan untuk mu manusia
Lindungi aku, dan jangan rampas hak milikku
Aku menangis karena kau sakiti,
Dan kau menangis setelah aku tumpahkan isi perutku

 

Menari Bersama Alam

Aku melihat sebuah mimpi
Keadaan tentram menusuk sanubari
Momen indah dalam hidupku
Membuatku diam terpaku

Tiba-tiba angin berhembus
Sejuk dengan aroma alami
Aku terhanyut pejamkan mata
Diiringi nyanyian alam getarkan jiwa

Hewa-hewan indah penuh rupa tawarkan pesona
Bunga bermacam warna dihinggapi serangga
Lebah madu menari-nari mengitari sangkarnya
Berjalan beriringan bersama-sama

Lautan luas terhampar luas
Karpet hijau terhampar lapang
Langit biru membumbung tinggi tanpa batas

Lalu aku membuka mataku dan terbangun
Mimpi indah yang membuatku tertegun
Secuil momen indah dalam memoriku
Akan selalu kuingat dalam hidupku

 

Suara Alam

Aku terbangun di pagi hari
Ditemani sinar mentari hiasi hati
Memulai hari dengan penuh suka cita
Menari bersama tunjukkan cinta

Kebun terhampar luas dihadapanku
Bunga-bunga bermekaran tumbuh
Untaian kasih tak tersentuh

Pepohonan hiasi kebun lenyapkan sang embun
Memberikan udara segar pagi hari
Penuhi janji sehidup-semati

Betapa indahnya lingkungan disekitarku
Terima kasih atas hadiah yang Kau berikan
Aku bersyukur dengan iklas tanpa paksaan

Setiap hari adalah berkah
Dipenuhi cinta tanpa lelah
Bersama alam aku selami hidup penuh arti
Relakan materi tanpa penyesalan diri

 

Renungan Alam

Manusia tidak juga sadar
Bahwa alam sudah mulai pudar
Karena ulah sang makhluk sempurna
Alam pun kena dampaknya

Pabrik melepaskan gas berbahaya
Manusia diam diatas kecerobohan
Apa yang terjadi saat ini
Hanyalah keserakahan otoritas

Kendaraan terus meningkat
Jumlah ruang semakin tersikat
Jutaan karbon terhirup tanpa sekat
Tingkat polusi pun meningkat pesat

Teknologi manjakan manusia
Tetapi turut hancurkan simfoni alam dunia
Semua terlibat dalam polusi ini
Alam rusak hidup tak nikmat

Mari sadar akan pentingnya alam
Kurangi berkendara agar selamat dari kemacetan
Konsumsi apa yang dihasilkan oleh alam
Bukan hasil-hasil bahan olahan

Selamatkan alam dan kurangi kerusakan
Alan sudah menderita sengsara
Para pemuda mengutuk para orang tua
Sampai kapan ini terus berlanjut

Mari kita berjanji untuk tidak merusak alam
Tanamlah pohon, agar harmonisasi terjaga
kurangi polusi agar alam kembali menjadi murni
Mulailah hari ini, untuk esok yang lebih baik lagi

 

Indahnya Alam Negeri Ini

Kicauan burung terdengar merdu
Menandakan adanya hari baru
Indahnya alam ini membuatku terpaku
Seperti dunia hanya untuk diriku

Kupejamkan mataku sejenak
Kurentangkan tanganku sejenak
Sejuk , tenang , senang kurasakan
Membuatku seperti melayang kegirangan

Wahai pencipta alam
Kekagumanku sulit untuk kupendam
Dari siang hingga malam
Pesonanya tak pernah padam

Desiran angin yang berirama di pegunungan
Tumbuhan yang menari-nari di pegunungan
Begitu indah rasanya
Bak indahnya taman di surga

Keindahan alam terasa sempurna
Membuat semua orang terpana
Membuat semua orang terkesima
Tetapi, kita harus menjaganya
Agar keindahannya takkan pernah sirna

 

Puisi Lingkungan 4 Bait

Puisi Lingkungan

Puisi Lingkungan

Paru-Paruku

Satu demi satu, dua demi dua, tiga demi tiga
Seratus sudah aku menanammu
Setiap hari aku merawatmu
Kami hidup
Kami sehat
Semua karnamu,
Paru-paruku

Tapi sekarang, mereka kejam denganmu
Kau hanya semacam kertas yang bisa dipotong-potong, diinjak-injak
Mereka tak pernah peduli dengan masa depannya
Tak pernah peduli dengan anak cucunya akan hidup bagaimana nanti
Rasa peduli mereka hanya untuk uang

Paru-paruku,
Buatlah mereka sadar akan penting adanya engkau

 

Sabda Bumi

Bulan tampak mendung merenung bumi
Seberkas haru larut terbalut kalut dan takut
Terpaku ratap menatap jiwa-jiwa penuh rindu
Hangatkan dahaga raga yang sendu merayu

Bulan tak ingin membawa tertawa manja
Kala waktu enggan berkawan pada hari
Saat bintang bersembunyi sunyi sendiri
Terhapus awan gelap melahap habis langit

Bulan memudar cantik menarik pada jiwa ini
Hitam memang menang menyerang terang
Tetapi mekar fajar bersama mentari akan menari
Bersama untaian senandung salam alam pagi

 

Maafkan Kami

Dulu engkau begitu indah
Setiap pagi ku menghirup udara segarmu
Setiap siang hari ku merasa hangat karna sinarmu
Tapi kini engkau berubah
Semua orang tak memperdulikan engkau lagi
Mereka hanya sibuk dengan dunianya saja

Oh Bumi, maafkan kami
Kami hanya segelintir bagian darimu

 

Jeritan Korban Bencana

Tak bisakah kau rasakan perih ini?
Tak cukupkah air mata ini untukmu?
Dengan serakah dan nafsumu kau hancurkan sahabat kami…

Kini ia telah marah…
Ia telah berontak dan bosan dengan semua ini…
Ia tak tahu siapa yang melakukan ini semua…

Hanya kamilah yang merasakan pahit ini…
Kau hanya memikirkan golonganmu, kaummu, dan keluargamu…
Namun kau tak pernah berpikir tentang kami,
Saudara sebangsa dan setanah air…

Kulihat banyak orang yang mengumpulkan dana untuk kami,
namun dimana?
Jutaan, milyaran, bahkan trilyunan !
Dimana itu semua?
Mungkinkah pesawat-pesawat yang membawa bantuan buat kami jatuh semua?
Sehingga keadaan kami sangat kekurangan di sini…
Atau mungkin uang itu ada di saku mereka, yang tidak bertanggung jawab…
Yang tidak pernah iba dengan kepedihan yang kami rasakan…

Kami hanya ingin dihargai sebagai manusia…
Sebagai saudara sebangsa dan setanah air…
Indonesia….

 

Mentari Selalu di Hatiku

Mentari, engkau bagai dewa pelindung kami
Sinarmu merasuk di hati bagai harmoni
Dirimu bagai cinta yang bersinar abadi
Takkan pernah lelah selimuti jiwa kami

Mentari engkaulah intan di langit biru
Hiasi awan yang kelabu
Engkau ceriakan hariku dipagi yang pilu
Dirimu angatkanku tanpa kenal ragu
Mentari, engkau beri kami impian
Dirimu wujudkan harapan dengan kemuliaan
Engkau bangkitkan diriu dengan sejuta iman
Agar bersiap di masa depan

 

Tak Puas

Tak Puas…Hutan sudah mulai menguning
Sungai sudah teracun limbah
Ikan-ikan mati tak bersisa
Makhluk binasa tiada pangan

Uang sudah melimpah
Tak terhitung berapa jumlahnya Mataku silau melihat harta
Namun tak tahu apa bunganya

 

Kekeringan

Kau sendiri yang merusak tanah surgamu
Jangan heran jika tanahmu tak lagi subur
Jangan heran jika lautmu tak lagi indah
Jangan heran jika musim pun tak tentu arah

Kaulah yang merusaknya
Dengan tangan keserakahanmu
Telah kau jadikan alam sebagai pemuas nafsu
Dan kau lupakan anak cucumu
Mereka, keturunan kita
Pun berhak mendapatkan alamnya
Seperti kita mendapatkan alam kita

 

Jagalah Diriku

ku berjalan tanpa henti
Menelusuri jejak langkah bumi pertiwi
Tak kenal putus asa, dan rasa nyeri
Dalam penderitaanku slama ini

Subur akan tanah dan kekayaannya
Air yang selalu mengalir disetiap waktu dan detiknya
Cintai lingkunganku dan cintai seluruh kekayaanku

WAHAI ANAK BANGSAKU

Puisi karya:sendi

 

Hewan

Kemana mereka?
Kemana mereka,
Para pengisi alam yang tak berakal
Mereka yang menyediakn daging
Mereka yang terkadang jinak
Seringkali liar
Berbulu indah
Kicau yang indah
Auman yang mengerikan
dan suara kerik jangkrik yang menengkur saat gelap

Kemana mereka?
Hewan yang Tuhan ciptakan untuk berdampingan
Dengan manusia sang khaalifah dunia
Kemana mereka wahai manusia
Kemanakah mereka yang seharusnya menjadi sahabat

Kemana mereka?
APakah telah kita bunuh dengan penebangan
Apakah telah kita bunug dengan sampah kita
Apakah kita bunuh karena kerakusan kita
Lalu berkedok
Ini kebutuhan hidup

Tidakkah kalian tahu?
Mereka juga makhluk tuhan
Amanah untuk kita lestarikan

 

Indahnya Potongan Surga

Indonesia, negeriku tercinta
Berjuta warna dalam satu negara
Di tanah air tumpah darah bangsa
Kita hidup di atas potongan surga

terhampar dari sabang hingga merauke
berjejer pulau pulau indah
dengan pantai dengan permadani hamparan pasir
Biru langitku, biru lautku

Gunung gunung megah tampak berdiri dengan gagah
Perkasa berhiaskan pohon – pohon hijau
Disana ada mutiara hidup para penghuninya
Tempat dimana mereka menikmati kedamaian

Indahnya negeriku
Menjelajah kepulauan yang luas
Dibawah langit tuhan
Dibawah selaksa awan yang beriringan

Indonesia, alam dari surga
Secuil keindah surgawi
yang hinggap di negeri kita

 

Puisi Lingkunganku

Puisi Lingkungan

Puisi Lingkungan

Nostalgia Negeri Sampah

aku tak lagi heran
nusantara ini dipenuhi lautan sampah
disana-sini sering aku memandanginya
kotoran-kotoran manusia yang sejak lama telah ada
untunglah,
masih masih ada mereka
mereka sudi memilih dan memilah kotoran-kotoran itu
biarkan saja…
isi perut mereka adalah hasil jerih payahnya
jepara, 27 november 2008

 

Kicau Burung

Kicau burung yang menyusup lewat
sela daun mangga bersama hangatnya mentari pagi
adalah sebuah misteri
pada siapa rindu kubagi

Kicau burung yang menggetarkan ibaku
daun terbang entah kemana
adalah sebuah duka
yang tertinggal dari kibasan
sayap lukanya

 

Persamaan

Alam adalah kuil dimana pilar-pilarnya berjiwa
Kadang-kadang menggaungkan gebalau kata-kata;
Insane lalu di sana lintas rimba lambing dan tanda,
Yang menyuguhinya pandangan bagai seorang saudara.

Bagai gema-gema panjang yang berhimpun di kejauhan
Dalam suatu pumpunan yang dalam dan gelita,
Luas seperti malam dan laksana siang megahnya,
Aneka wangi, warna dan bunyi lalu berjaawab-jawaban.

Ada bauan ssegar, bagai daging kanak-kanak menghawa.
Manis bagai seruling, hijau seperti padang-padang
-dan juga si kaya busuk dan serba megah,

Yang bagai hal-hal abadi, menyan dan cendana.
Bagai ambar dan kesturi di dalam kembang,
Yang menyanyikan gairah dari nafsu dan jiwa.

By: CHARLES BAUDELAIRE

 

Hujan

Hujan
Hujan turun deras menjelang bulan sebelas
Menyirami halaman depan yang selama ini gersang
Rerumputannya kembali tumbuh hijau
Yang dulu meranggas dimusim kemerau
Kali kecil naik sampai pinggang
Bau tanah basah menguap dari kebun belakang
Aroma pagi terasa hingga siang
Suasana hati sejuk riang
Lelah luluh tak tunggu larut
wajah – wajah pulas tak berkerut
seakan hilang semua kemelut
seakan hidup tanpa maut

 

Di Tepi Laut

Diujung musim yang bertiup angin
bagai denguas gurun pasir
cahaya melompat dalam lautan salju
diseretnya langkah dimalam itu
dalam putih waktu
kutawarkan pada-Mu
jenuh semesta ini kupenuhi isi
dihidupmu nasib dunia
bentangkan kedua tangan mu
pohon-pohon kering di tepi laut padang pasir
menyanyi dalam gaib malam
kepada seluruh dunia
yang menelankan dipucuk pantai
kuburlah hidup tanpa kesadaran

 

Hamparan Mutiara

Sepi hening dikeramaian
menatap hari tanpa dedaunan
tak satupun serpan daun menerawang
menutupi diri dalam ketenangan
berdiri sepi menatap rembulan
ditemani sang kekasih malam
hamparan mutiara bersinar terang
tanpa bunyi rembulan malam
diri runtuh benuh keikhlasan
menuntun diir mengharap penerangan
wujut nyata tanpa bayangan
mensyukuri indahnya angin
menitih air dari rembulan
melapas angan angan menunggu ke ikhlasan
agar datang ketenangan

 

Lembayung Jingga

Lembayung jingga masih setia
diatas bukit yang sama
beranjak perlahan melepas senja
menunggu sesaat sambut kejora

Sedikt engkau terlihat resah
saat pekat hendak menjelma
seakan kau terluka
saksikan kiprah para manusia

Raut wajahmu tak seindah dulu
selalu ceria dan tak pernah sendu
kini kau simpan dendam menggebu
pada kami yang merasa tak tahu

Kau tatap kami dengan sinarmu yang tajam
bagai ceria yang siap menghujam
tanpa merasa ada batas yang menghadang
karena kami yang selalu jauh pada Sang Khalam

 

Kemarau Diam

Kemarau diam di jiwaku. Serangkai
bayang-bayang randu tumbang, berisi adzan
dengan pilu. Pahamilah bagaimana mataku rabun,
jumpalitan, begitu cemburu. Aku susuri ketiakmu,
tapi rupanya jalanan makin malam,
meski aku telah tinggalkan dirimu. Sepanjang keriuhan kelu,
mayatku terpencil. Ingus para pejalan bergayutan
di jenggotku

Seluruh kesumat dan derita memacu
pengetahuanku. Arwahku memanggil namamu,
sementara panorama lebur, selangkah demi selangkah
memudar, menjelajahi batu. Di dasar pijaran kabut,
aku adalah jenazah bagi setiap hasrat dan kesintalanmu.
Kegembiraanku mengintip tato kupu-kupu di pusaramu.
Malam makin dingin, mendzikirkan diamku.

Penampakan-penampakan gaib, samun, mencair
hitam bersama salju.
Karena bunga-bunga gugur adalah sihir
yang menghidupkan bangkai-bangkai, juga sajak-sajakku.
Demikianlah dingin meledak bersama shalatku.
Pohon-pohon yang rabun dalam gerimis kabur
bersama gemuruh. Aku wudhlu matahari
meniupkan terompet seribu tahun
di hari-hari pagi talkin seratus gerhana menafasiku.
Dunia kelak hanya kelam yang mempasakkan
gaung-gaung. Halimun menghirup mayat-mayat
rumput. Aku kini pelangi. Peneguh riwayat
ketelanjangan
letusan-letusan peluru.

 

Laku Ombak

Pantai yang perkasa adalah kekasihku
Dan aku adalah kekasihnya
Akhirnya kami dipertautkan oleh cinta
Namun kemudian bulan menjarakkan aku darinya
Kupergi padanya dengan cepat lalu berpisah
dengan berat hati.

Membisikan selamat tinggal berulang kali.
Aku segera bergerak diam-diam
dari balik kebiruan cakrawala
untuk mengayunkan sinar keprakan buihku
kepangkuan keemasan pasir

Dan kami berpadu dalam adunan terindah
Aku lepaskan kehausannya
Dan nafasku memenuhi segenap relung hatinya
dia melembutkan suaraku dan
mereda gelora didadaku.

Kala fajar tiba, kuucapkan prinsip cinta di telinganya
dan dia memelukku penuh damba
diteriksiang kunyanyikan dia lagu harapan
Diiringi kucupan-kucupan kasih sayang
Gerakku pantas diwarnai kebimbangan
Sedangkan dia tetap sabar dan tenang.

Dadanya yang bidang meneduhkan kegelisahanku
Kala air pasang kami saling memeluk
Kala surut aku berlutut menjamah kakinya
Memanjatkan doa seribu sayang
Aku selalu berjaga sendiri

Menyusut kekuatanku
tetapi aku pemuja cinta
dan kebenaran cinta itu sendiri perkasa
mungkin kelelahan akan menimpaku
Namun tiada aku bakal binasa.

 

Taman

Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki
Bagi kita bukan halangan
Karena
dalam taman punya berdua
kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang
kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia

 

Puisi Lingkungan Sekolah

Puisi Lingkungan

Puisi Lingkungan

 

Senja Di Pelabuhan kecil

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
diantara gudang, rumah tua, ada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

 

Indahnya Pepohonan

Pesona alam berikan sejuta pesona
Keindahan alam beragam tanpa perseteruan
Saling menyatu dalam harmonisasi alam
Indahnya pepohonan dalam kilauan mentari
Menari ditiup angin,anggun yang bertepi

Akarnya kokoh menusuk kedalam bumi
Lewati setiap badai cuaca tanpa amarah
Kuat dan tak tergoyahkan
Diam namun berikan kesejukan

Ribuan pohon berdiri berbaris
Menolak tuk membungkuk
Seraya ingin mengatakan bahwa
Akulah sang keberagaman alam

Sebuah Momen

Luangkanlah diri sebentar
Letakkan segala ketakutan dibelakang
Untuk sementara waktu nikmatilah pemandangan
Keindahan disekitar berikan ketenangan pikiran

Kilauan emas cahaya mentari
Menyambut setiap hari hilangkan sepi
Kedamaian masuk kedalam hati
Fajar pagi sudah menanti hari
Belaian lembut sang angin menerpa tubuh
Bergerak halus dengan nada yang bagus
Goyangkan semangat perubahan
Gerakan setiap roda kehidupan

Langit berseri-seri
Kupu-kupu sibuk menari-nari
Bersamaan dengan burung awali pagi
Semangat harus terus termotivasi

Luangkan waktu sejenak dalam diam
Melihat indahnya pemandangan alam
Rasakan setiap nada-nada kehidupan
Indahnya kebersamaan dalam keberagaman

 

Tangan Kehidupan

Terhampar luas tenang didaratan
Bersinar terang dalam setiap pemandangan
Berdiri kokoh diatas kedamaian kehidupan
Itulah dia sang permadani alam

Bunga-bunga bermekaran tanpa tau mengapa
Sungai mengalir lembut tak merasa kalut
Konten indah ini bagian dari rencana Tuhan
Untuk memperindah setiap insan kehidupan

Pelukan cinta bersama senyuman ceria
Membuat hidup terasa lebih berharga
Jika semua orang mau mengulurkan tangan
Niscaya hidup ini terasa indah dan bermakna

 

Sentuhan Sang Angin 

Bergerak lembut jamah setiap sisi tubuh
Tidak ada yang tau darimana mereka berasal
Datang tiba-tiba, perginya pun suka-suka

Terbang kesana-kemari sesuka hati
Tak dapat dikejar walau sudah berlari
Tak terlihat namun dapat dirasa
Bangkitkan ketenangan dalam jiwa

Tanpa dirinya tidak akan ada kehidupan
Tidak akan ada alunan simfoni alam
Tidak akan ada pergerakan
Semuanya diam tak bermakna apa-apa

Tuhan ciptakan hembusan angin
Namun entah kemana dia akan pergi
Tak usah dicari karena dia pasti datang
Sambutlah dengan diam
Nikmati momen kebersamaan
Dalam sentuhan angin disetiap kehidupan

 

Bumi Pertiwi

Bumi ini….
Dialah yang memberikan tempat hidup
Dialah yang memberikan kenyamanan
Dialah yang mencukupkan segala kebutuhan

Manusia hidup berbaur didalamnya
Diliputi hati yang saling berselisih
Berjalan dengan angkuh diatas tanah pertiwi

Manusia tidak mencintai tanah ini
Tanah dengan air yang murni
Mereka tidak pernah berpikir dengan hati nurani

Merusak alam atas nama pembangunan
Menggusur alam atas nama pengembangan
Padahal manusia hanya menumpang
Tidak berhak mengotori dan menodai

Dia sudah memberikan udara, air, dan angin
Tapi manusia masih saja menjerit
Seakan-akan pemberian itu berarti

Mengambil semua dengan serakah
Kilauan tambang butakan mata
Harapan jahat terus dipahat

Udara kematian berkumpul pekat
Asap hitam pekat bergerak bebas tak terikat
Sesakkan dada matikan jiwa

Lautan berubah coklat kehitaman
Tercemar limbah kemanusiaan
Kematian pun datang dengan tergesa-gesa

Tanah ini murni sejak jaman dahulu kala
Dipenuhi dengan kehidupan dalam balutan mahkota
Sekarang menjadi gersang dan berkehidupan

Para merpati lari selamatkan diri
Tergerus oleh keserakahan
Terusir oleh keegoisan
Terbang bebas tak tentu arah

Bumi pertiwi memberikan segalanya
Manusia campakkan itu semua
Lingkungan perlahan mulai pudar
Terganti oleh nafsu egois tanpa sadar

 

Daun Yang Terjatuh

Lihatlah daun yang jatuh
Mereka tidak pernah mengutuk sang pohon
Tidak pernah mengeluh karena terjatuh

Terbawa oleh angin malam
Selalu berpindah-pindah tak tentu arah
Terombang-ambing tak kenal lelah

Lihatlah daun yang jatuh
Pasrah diatas alas hidup mereka
Tanpa belas kasihan penuh kesan

Manusia suka mengeluh
Keserakahan hiasi hari demi hari
Mengutuk setiap takdir yang diberikan
Tanpa mau bersimpuh luluh

Hidup di bumi ini hanya sekali
Sembuhkan alam ini dari penderitaan
Gantilah egois dengan kebersamaan
Tidak perlu banyak asal penuh makna

Jangan sampai hidup seperti daun yang jatuh
Lemah dan tak berdaya, pasrah pada angin yang menerjang
Lindungilah lingkungan, jangan hanya sebatas angan-angan

 

Apa Salah Lingkungan?

Apakah kalian tau?
Bahwa lingkungan sudah berubah

Apakah kalian sadar?
Bahwa lingkungan tak lagi nyaman

Apakah kalian mengerti?
Bahwa lingkungan tak lagi sama

Alam pun tau dan mengerti
Bahwa ini semua pasti akan terjadi
Jutaan hewan pergi sepanjang hari
Mencari air minum sulit didapat

Alam sudah memberikan yang terbaik
Semua diberikan secara gratis
Ekosistem hadir untuk memudahkan

Manusia telah merampok alam dengan paksa
Mencabut semuanya dengan penuh rekayasa
Menggusur hutan dan mengganti dengan tembok beton
Menyulap lautan menjadi karpet daratan

Semakin banyak yang diambil
Semakin banyak kerusakan dirasakan
Kesabaran alam ada batasnya
Jangan sampai semua binasa tak bersisa

 

Lautan Gelap

Burung-burung mengitari hitamnya lautan
Melihat para pengkhianat luapkan muatan
Penguin tak berdosa berusaha berjuang hidup
Mencari lautan biru tak kunjung ketemu

Para manusia asyik nikmati hidup
Sedangkan para ikan mencari lautan untuk dihirup
Teriakan rumput laut terdengar didasar laut
Merintih tak kuasa menahan rasa kalut

Sinar mentari tak dapat masuk
Lautan berubah menjadi gelap
Keselamatan tidak ada dalam agenda
Hanya keuntungan yang dicari semata

Surga bahari perlahan mulai sirna
Tergantikan oleh daratan buatan

Lautan biru tinggal menunggu ajal
Kelak nanti kita akan menyesal
Perubahan itu pasti dengan konsekuensi
Alam takkan sudi diperlakukan seperti ini

 

Damai Alam Pegunungan

Diam berdiri menjadi pancang bumi
Angkuh menantang siapa saja yang berani mendaki
Indah terlihat sejauh mata memandang
Tidak melihat status dan golongan
Tak peduli materi siapa saja bisa mendaki

Merasakan kesejukan pegunungan
Terkadang membuat diri mabuk kepayang
Selalu terngiang-ngiang akan sebuah ingatan
Pesona keindahan puncak dalam renungan

Banyak yang tidak mengerti indahnya pendakian
Baru ketagihan ketika sudah berada dalam perjalanan
Memori yang ingin terus terulang lagi
Tuk mengusir penatnya hidup mengais sebuah rezeki

Bersama alam kutemukan kedamaian
Pegunungan tawarkan kesejukan dan keindahan
Semuanya murni mengalir begitu saja
Belajar keikhlasan bersama alam pegunungan

 

Menaklukan Tantangan

Setiap orang kan terlihat siapa dia ketika mendaki
Tak peduli jabatan maupun pangkat semua bercampur jadi satu
Mencari sebuah arti tanpa harus mencari sensasi

Pegunungan terasa indah dari kejauhan
Namun dapat memabukkan
Bagi mereka yang rindu akan kedamaian

Tidak banyak orang suka dengan pendakian
Karena sulit, terjal dan berbahaya
Itu kata mereka yang belum pernah mencobanya

Menaklukan pegunungan itu sebuah tantangan
Ujian kesabaran serta kekompakan
Hadiahnya akan bisa kita rasakan
Ketika puncak sudah berhasil ditaklukan

 

Renungan Pendakian Hidup

Menapaki kehidupan seperti sebuah proses pendakian
Diawali dari bawah, mencari jalan ditengah-tengah
Hingga nanti sampai pada puncak tujuan
Ada banyak hal merintangi perjalanan

Sebagian ada yang berhasil, sebagian tidak
Sebagian ada yang memilih maju, sebagian lagi mundur
Puncak kenikmatan selalu berada di akhir perjalanan
Bukan ditengah proses perjalanan…

Alam Pegunungan wadah tuk kita terus berkembang
Mengasah kemampuan mendalami arti kehidupan
Ada sebuah arti dalam setiap pendakian
Sebagai bekal dalam menapaki setiap kehidupan…
—————-

Nah, itulah beberapa Puisi Lingkungan yang dapat Anda jadikan referensi. Puisi Lingkungan ini meliputi, Puisi Lingkungan Sekolah, Puisi Lingkunganku, Puisi Lingkungan 4 Bait, dan Puisi Lingkungan Alam. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan Anda dan bisa bermanfaat bagi kita semua.

Puisi Lingkungan

Show Comments

No Responses Yet

Leave a Reply