15
2246

30+ Kumpulan Puisi Pendidikan Pendek & Singkat Dengan Tema Terbaik

Puisi Pendidikan – Seperti yang anda ketahui, puisi pendidikan ditulis untuk memberikan gambaran kepada anda bahwa aspek ini sangatlah berpengaruh besar pada kehidupan. Pendidikan yang bermutu tentu menjadi mata polemik untuk perkembangan dan masa depan bangsa. Betapa pentingnya nilai sebuah pendidikan, akan tetapi masih seringkali sebagai polemik di negara kita.

Pada masing-masing puisi pendidikan di bawah ini ditulis oleh pribadi-pribadi yang mencintai syair dan mempunyai kreativitas pada menyusun kata puitis penuh makna, meramu intuisi, imajinasi, ide, dan gagasan mereka pada bentuk karya sastra berupa rangkaian puisi.

Puisi Pendidikan Singkat

Puisi Pendidikan

Puisi Pendidikan

Buku

Susiska Arum

Kau tempatku menabur ilmu…
kau jendela di hidupku…
kau tempatku goreskan jutaan pena…
namun, terkadang orang mengabaikannya…
kau tertumpuk deraian debu…

Buku…
kau tempatku berbagi rasa….
meski engkau hanya diam membisu…
lembaran demi lembaran yang terisi…

Tertancap keindahan ilmu menawan…
terselip kata demi kata…
yang mengisi hari-harimu…

Buku…
kau tempatku goreskan pena…
goresan pena kini tertancap di badanmu…
jutaan kata kini terlukis di badanmu…

Kau tempatku lukiskan keindahan…
kau tempatku berbagi kesakitan….

Buku…
kau yang mengajariku arti kehidupan…
tiada pantas hidup ini kulewati…
tanpa engkau di sisiku…

Kau guru yang hanya bisa diam membisu…
namun, engkau memberikan jutaan ilmu yang tersimpan disetiap lembaran…

 

Apa Kabar Pendidikan Negeriku

Dian Hartati

Sampai kini saya tidak tahu
Apakah titel sarjana nan dibangga-banggakan ayahku dulu
Dapat menyambung lambungku, istriku dan anak-anakku
Tujuh Belas tahun sudah segudang uang di lumbung keringat ayah-ibuku
Kuhabiskan di meja pendidikan
Namun saya tetap tidak mampu memberi anak-anakku sesuap makan

Tujuh belas tahun telah kuhabiskan waktuku di ruang gerah sekolah dan kuliah
Namun tidak memberiku otak brilian dan keterampilan nan sepadan
Aku hanya terampil menyontek garapan temanku
Aku hanya terampil membajak dan mencontoh karya negeri orang

Aku terampil mencuri ide-ide bukannya mencipta
Apa kabar pendidikan negeriku
Adakah kini kau sudah berbenah
Sehingga anak cucuku akan dapat merasakan sekolah yang indah
Dan masa depan nan cerah?

 

Pesan Dari Guru

Dengan tertatih-tatih
ku kayuh sepeda tua itu
dengan nafas terengah-engah
ku sandarkan di pagar tua

Anakku, aku datang
tak bawa mobil mewah
tak bawa rupiah

Tapi aku punya cinta
cintaku begitu besar
lebih dari sepeda tua itu
tahukah kau
aku sangat menyayangimu

Ini daerah terpencil
tapi jangan kau berpikiran kerdil

Bangkitlah …
Berjuanglah …

Kau harus bisa taklukkan
gedung-gedung pencakar langit itu
hancurkan kebodohanmu

Bangkit dari tidurmu
raih mimpi
gapai prestasi

Aku hanya orang tua
yang tak berarti apa-apa
tapi aku punya cinta

Cinta untukmu begitu besar
lebih dari sepeda tua itu

 

Tak Mau Jadi Orang Bodoh

Seorang anak kecil
Berjalan dengan kaki telanjang
Menapaki jalan berbatu
Terasa sakit menusuk kaki

Aku ini juga manusia
Yang punya nyawa
Sama sepertimu
Yang punya rasa
Sama sepertimu

Tapi kau tak punya hati
Kau punya mata
Tapi tak melihat
Kau punya telinga
Tapi tak mendengar
Kau punya segalanya
Tapi tak merasa

Lihat dirimu
Uang kau hambur-hamburkan
Lari dari gudang ilmu
Tak kau ingat begitu banyak tetesan peluh
Dan air mata yang membasahi tubuh itu

Aku beda dengan kau
Aku tak punya sepertimu
Tapi aku tak mau jadi orang bodoh sepertimu
Aku ingin punya banyak ilmu

Aku adalah aku
Bukan kau

 

Harapan Yang Kandas

Aku berjalan menyusuri jalan setapak,
pada sebuah pemukiman
tempat sejumlah anak bangsa
berteduh dari rintikan air hujan
mencoba menghindar dari terik panasnya matahari
tempat yang sering mereka sebut ‘Rumah’

Saat aku berjalan,
ku lihat anak bangsa
dengan seragam kumuh yang dikena
tanpa alas kaki yang melindungi
membuat kakinya tak jarang terkotori cipratan lumpur dipinggir jalan
tapi semangatnya menuntut ilmu,
seperti api yang menyala-nyala
dan takkan pernah padam

Aku kembali berjalan,
sesaat ku dengar rintihan anak bangsa
“Ibu, Bapa, Aku ingin sekolah seperti mereka. Aku juga punya impian, harapan dan masa depan,” rintihnya.
tapi apa daya, kedua orangtuanya hanya mampu diam seribu bahasa

Pemimpinku, Pemerintahku,
apa kalian tak melihat?
kesusahan menyelimuti anak bangsa
apa kalian juga tak mendengar?
rintihan anak bangsa yang haus akan pendidikan
apa mungkin kalian terlalu sibuk?
terlalu sibuk memanjakan harta
dan terlalu sibuk bermain dengan uang-uang kalian

Atau mungkin kalian lupa?
tiap kali janji manis kau ucapkan
di depan ribuan pasang mata yang menyaksikan

Tak ingatkah kalian, wahai para petinggi negara?
anak bangsa bagian dari rakyat
karena rakyat kalian memimpin
karena rakyat kalian jadi pemimpin
walau hanya satu suara dan satu kepercayaan dari tiap rakyat
tak sadarkah kalian, ‘satu’ pun bermakna
karena takkan ada ‘seribu’ tanpa ‘satu’

Pemimpinku, Pemerintahku,
tak sadarkah?
rakyat telah pertaruhkan segalanya
dari impian, harapan, hingga masa depan
tapi apa balasan dari tiap ‘satu’ suara dan ‘satu’ kepercayaan yang rakyat pertaruhkan?
hanya sebatas tipuan dan angan-angan yang nampak ‘mustahil, jadi kenyataan

Aku hanya berharap
suatu saat, negeri ini
negeri yang kini padam
kan kembali terang benderang

 

Jangan Malas Membaca

Sesobek kertas sudah diberikan
seuntai tulisan pula berada di dalamnya
duhai anak yang malang
mengapa engkau diam saja?

Mengapa kertas itu cuma kau simpan?
sungguh tidak sedikit angan-angan terpendam
ilmu maha luas sudah tertuliskan
tapi sayang kau enggan membaca

Dunia demikian luas ilmu pula demikian terbentang
sungguh dunia sudah bicara,
kau mau tahu isiku?
kau mau mengerti apa menyangkut dunia ini?

Malang beribu malang kau enggan membaca
duhai anak yang malang
bangkitlah kini
pengetahuan luas sudah menantimu
lawanlah jiwa kotormu itu
tuk mencapai impianmu

 

Puisi Pendidikan Pendek

Puisi Pendidikan

Puisi Pendidikan

Guruku Pahlawanku

Cindy Agustin

Sinar pagi yang cerah..
membuat aku bergegas untuk berangkat sekolah
sungguh senang hari ini
demi mendapat ilmu
aku rela berjalan kaki
untuk meraih suksesku

Gurulah yang memberiku ilmu
Gurulah yang menyemangatiku
Gurulah yang membimbingku

Tanpa ilmu aku takkan sukses
tidak ada guru tidak ada pula ilmu

Terima kasih guru
kaulah guru terhebat bagiku
kaulah pahlawanku
pahlawan tanpa tanda jasa

Jika suatu saat nanti aku sudah menjadi sepertimu
aku akan memberikan ilmu yang kau berikan kepada ku
untuk mereka yang membutuhkanku

Guru jasamu akan selalu kukenang

 

Ibu Guruku Tersayang

Ibu Guru
kau yang telah mendidikku
kau yang telah menasehati ku
dalam keadaan bingung

Ibu Guru
engkau adalah pahlawanku
engkau bagaikan penyelamatku
engkau tulus mengajariku

Ibu Guru
terima kasih atas semua jasamu
aku sayang padamu
seperti kau menyayangiku

 

Pahlawan Pendidikan

Jika dunia kami yang dulu kosong
tak pernah kau isi
mungkin hanya ada warna hampa, gelap
tak bisa apa-apa, tak bisa kemana-mana
tapi kini dunia kami penuh warna

Dengan goresan garis-garis, juga kata
yang dulu hanya jadi mimpi
kini mulai terlihat bukan lagi mimpi
itu karena kau yang mengajarkan
tentang mana warna yang indah
tentang garis yang harus dilukis
juga tentang kata yang harus dibaca

Terimakasih guruku dari hatiku
untuk semua pejuang pendidikan
dengan pendidikanlah kita bisa memperbaiki bangsa
dengan pendidikanlah nasib kita bisa dirubah

Apa yang tak mungkin kau jadikan mungkin
hanya ucapan terakhir dari mulutku
di hari pendidikan nasional ini
gempitakanlah selalu jiwamu wahai pejuang pendidikan Indonesia

 

Taman Ilmu

Karya Nur Wachid

Musim kemarau panas berkepanjangan
Musim penghujan hujan berdatangan
Itulah hebatnya dirimu

Panas hujan tetap untuk kau berdiri
Kau hanya tumpukan bata merah

Tulang mu hanya dari besi

Seindah dirimu namamu sama
Seburuk bentukmu tidak kurangi gunamu
Kaulah taman kehidupan
Tempat tertanam berjuta ilmu

Bunga merekah terlahir darimu
Hiruk pikuk pendidikan tertelan olehmu
Tanpamu semua tampak bodoh

Alangkah indahnya¡­.
Jika dirimu berdiri dimana-mana
Tanpa ada beda di desa dan kota

Sayangnya kau bukan manusia
Kakimu tertanam di bumi
Tak bisa jalan kemana-mana

 

Waktu Yang Kusesali

Oleh Robiatul Adawiyah

Begitu cepat waktu berlalu
Tak terasa perjumpaan ku sudah berlalu
Sangat cepat ,Sangat menyesal ,Sangat kecewa

Teringat dalam Memori yang lalu
Menangis mengingat masa-masa yang lalu
Melukiskan canda tawa & kebahagiaan bersamamu

Sepanjang waktu berlalu
Kenapa kami baru menaruh perhatian pada Guru
Saat Guru tetah tiada
Karena di panggil oleh Sang Maha Kuasa

Begitu kejamnya kami melupakan jasa mu
Maafkan kami guru
Yang telah menggoreskan tinta hitam,di dalam hidupmu
Andaikan waktu dapat terulang
Kami berjanji akan memberikan yang terbaik bagimu

Tangisan kami hanya untukmu
Saat kami tak mengerti,
Guru yang akan menjelaskannya
Saat kami membuat kesalahan,
Guru yang menasihatinya
Saat kami mengingatmu,
Kau telah tiada

Jasamu kan abadi bersemayam di hati kami
Begitu besar perhatianmu pada kami
Yang selama ini menyusahkanmu
Hanya kata TERIMA KASIH & MAAF untuk Mu

 

Ayo Membaca

Karya Abdul Jalil

Sesobek kertas telah diberikan
Seuntai tulisan juga berada di dalamnya

Duhai nak nan malang
Kenapa engkau diam saja?
Kenapa kertas itu hanya kau simpan?

Sungguh banyak asa terpendam
Ilmu maha luas telah tertuliskan
Namun sayang kau malas membaca

Dunia begitu luas ilmu pun begitu terbentang
Sungguh global telah berkata,
Kau ingin tahu isiku?
Kau ingin mengeri apa tentang global ini?

Malang beribu malang kau malas membaca
Duhai anak nan malang

Bangkitlah sekarang
Wawasan luas telah menantimu
Lawanlah jiawa kotormu itu

Tuk mencapai impianmu

 

Puisi Pendidikan Nasional

Puisi Pendidikan

Puisi Pendidikan

Pahlawan Kehidupan

Karya: Nur Wachid

Ku lihat kau berbuat
Ku dengar kau berbicara
Ku rasakan kau merasakan
Mata binar tak khayal menjadi panutan
Sejuk terasa haluan kata ¨C katamu
Menjadi sugesti pada diri kami
Hingga jiwa ini tak sanggup berlari
Menjauhi jalan hakiki
Lelah dirimu tak kau risaukan
Hiruk pikuk kehidupan mengharu biru
Itu jasa tentang pengabdian
Bukan jasa tentang perekonomian
Semangatmu menjadi penghidupan
Untuk kami menjalani kehidupan
Jangan pernah kau bosan
Jadi haluan panutan
Meski pertiwi dalam kesengsaraan
Kaulah pelita cahaya kehidupan
Terima kasih untukmu
Sang pahlawan kehidupan

 

Penolong Dalam Kegelapan (Guru)

Oleh Muhammad Hafiz Nur

Sosok yang tanpa mengenal lelah .
Sosok yang menindas perlakuan kasar yang ditujukan siswa-siswi kepadanya .
Sosok yang berlangkah tegap dan tegas meskipun kening dan pipi mereka sudah mulai
memancarkan kekusutan dari raut wajahnya .

Wahai guruku ..
Kau telah memberi warna pelangi didalam kehidupan kami.
7 warna yang telah berkumpul menjadi satu paduan .
7 kesempurnaan yang sudah kau berikan untuk bekal kami kelak dimasa yang akan datang

Kau mengajarkan yang Awal mulanya kami tidak mengenal huruf abjad sampai kami bisa menjadi orang-orang yang kalian harapkan , orang-orang yang sukses dan orang-orang yang telah menyandang gelar terhormat seperti kalian bahkan akan lebih dari pada itu .

Guru ..
Maafkan kami yang telah berbuat kesalahan kepada kalian .
Dari hal yang sekecil debu yang tak terlihat bahkan sampai kesalahan yang besar yang bisa terlihat dengan mata kasar .

Tak banyak serumpun do¡¯a yang kami panjatkan .
Semoga kalian guru-guru kami tetap sabar dalam membina dan mendidik kami dan menjadi lah PAHLAWAN tanpa tanda jasa dan mengajar tanpa mengenal kata LELAH .

Kami sayang kalian bapak dan ibu guru kami yang tercinta .

 

Buku

Oleh Erni Ristyanti

Buku
Kau adalah sumber ilmu
Dimana aku belajar dan membaca
Dari aku tak tahu sampai tahu

Buku
Kau adalah jendela ilmu
Jendela menuju kehidupan yang lebih sukses
Menuju kehidupan yang lebih indah

Halaman demi halaman
Lembar demi lembar
Kubaca dengan serius
Hingga aku lupa waktu

Terimakasih buku
Engkau temaniku
Dari kecil hingga besar
Tuk menggapai cita-citaku

 

Puisi Cahaya Pendidikan

By. Rozat Rifai

Dalam Keningku aku termangu
Sebuah cahaya penentu masa depan
menjadi sebuah motivator pergerakan
Dalam menjunjung tinggi pendidikan

Di saat mataku tertutup kebodohan
Engkau hadir dengan sejuta harapan
pembongkar sandi kegelapan
pendidikan,,, pengubah zaman

2 mei selalu kami rayakan
mengharap selalu ada kemajuan
menjadikan kami selalu terdepan
dalam segala aspek kehidupan

 

Puisi Hari Pendidikan Nasional

Karya Ismail Ahbar

Jika kau lihat bendera merah putih berkibar dihalaman sekolah
Belum tentu disana ada orang Indonesia
Jika kau dengar Pancasila dibacakan berulang-ulang,
Belum tentu semua yang mendengarnya punya Tuhan Yang Maha Esa

Jika kau lihat Pak Guru pakai sepeda Kumbang,
itu pasti kau sedang mimpi bertemu Oemar Bakri
Jika kau lihat anak sekolah memakai seragam,
pastikan udel dan BH nya tidak terlihat oleh umum

Jika kau lihat guru memukul muridnya, itu biasa
Jika kau lihat sekolah ¨C sekolah negeri dan swasta jauh berbeda,
itu karena sekarang pendidikan pun menjadi ladang bisnis
Jika kau lihat Politisi berjanji mengenai pendidikan murah dan cerdas,
lihatlah, pendidikan pun didramatisir

Jika kau lihat dosen-dosen mu tak ada dimeja,
yakinlah, mereka sedang sangat sibuk, urusan ini, dan urusan itu
Jika kau lihat pelajar tawuran,
terbiasalah, pendidikan kita ¡®kan tentang otot dan tulang,
bukan tentang otak dan sosial emosional

Jika kau lihat aku mengkritik saja,
percayalah, lebih baik begini,
daripada diam dan dibodohi sampai tertidur dibangku mu,

Semangat,,Sebab hidup tak boleh mati karena liur-liur politik.

 

Ujung Meja Reot

Tersudut, aku hitam kelam tak dapat sayu pandangan

Memikirkan duniaku, terganti oleh kehadiran kalian
Berusaha jaya tapi merasa tidak pernah dianggap ada

Terpojok, kau yakinkan aku tak pernah berfikir
Betapa membosankan kehidupanku sejak tiupan lilin yang kelima
Mak bapak tak pernah ingatkan apapun selain tentang bangunan tua ini
Kertas-kertas lecek bergambar merah
Nyalanya menyulut amarah bapak
Kata sayang berubah makian
Sentuhan lembut secepat kilat bermetamorfosa
Meja reot ia bertiang piala dan medali

Dia lemah, tak semegah kesombongan kilau emas dan perakny
Aku ingin kembali sebelum angka lima
Empat tiga atau dua
Bolehkan aku tetap kecil mak?
Kecil untuk besar, dan bodoh untuk pintar, kata makku
Ahh..
Emak tak pernah salah
Gedung tua aku akan disini lama
Gambar jam dengan semua jarum diangka dua belas
Tekun kubuat mereka diatas meja & sampul buku-buku berat

 

Puisi Pendidikan Pendek & Singkat

Puisi Pendidikan

Puisi Pendidikan

Bu Guru, Maaf

Sengaja aku tidak masuk
Menahan lara  kau sayat kejam
Jika harga diriku sebatas angka-angka
Nominal tinggi kau tak mampu membeli
Lupakan saja dan jangan anggap aku ada
Sebuah isyarat damai akan aku terima
Mata dibalik dua mata
Kenapa harus memandang aku
Jika baris terakhir menjadi penutup
Usaikan saja kelasku hari itu
Aku tidak ingin lagi datang
Aku senang tidak akan kembali
Taman bermain tak seindah mimpi-mimpi
Bidadari menjadi bertaring dengan kuku panjang
Kasih? ku pikir itu berlebihan
Ku benci banyak mata mengawasi

 

PR Kemarin Sore

Menari-nari semua meninggalkanku
Sekuat tenaga kutangkap kujadikan menjadi satu
Menata merek menjadi rapi agar kau tak marah besok pagi
Berputar-putar mereka mengubah fantasi indah
Sekuat aku jaga tulisan itu berhamburan melempariku
Sudahlah aku  menyerah
Kubawa penuh kasih ke peristirahatan
Ijinkan malam ini aku damai
Meski matahari esok awal petaka berulang
Langkah kakimu membangunkan kemarahan
Berdiri bagai benteng pertahanan tandakan kelemahan
Aku tak bisa dengan batas minimu
Begitupun kau takkan mampu menembus tentaraku
Saat aku hitam haruskah berpura-pura menjadi putih
Kurikulum menjadi petisi pengakuan kekalahanku

 

Mana Gaji Kami?

Dalam hati yang terbayang adalah anak-anak dirumah menangis lapar
Gaduh menjadi sunyi penuh duka
Kami berdiri tegar tegak di baris paling depan
Menjadi kami benaung dalam bangunan megah tinggi
Kata mereka betapa beruntungnya ..
Sedang atap kami tak mampu menahan gerimis
Lantai berlubang tua perjuangan
Dan rumah-rumah tanpa ventilasi
Mimpi tetap terajut benang terlepas
Doa mereka kami amini
Berat beban di pundak keropos
Berdiri kokoh dalam jiwa yang doyong terhuyung lemah
Rasa lapar cambuk kesakitan
Tersenyum kami penuh ketabahan

 

Sudah Lupakan

Janji mari kita buang sama-sama
Suara menggelegar ditengah pesta demokrasi
Katanya kami pengabdi, kelebihan membuat kami menjadi tuan meski tak lama
Pesta yang berakhir, kenangan menjadi hilang
Aku melupakan dan lupakan pula
Kesakitan bukan hanya milik kami, ku tahu
Ribuan kami, beberapa dari anda
Kami pelajari banyak hal untuk kembali mengajarkan
Memahami banyak masalah untuk membuat mereka mengerti
Mengukir pondasi tidak selalu akan terlihat
Seberapapun kami mengerti,sedikitpun tak ada yang dipahami
Tentang sebuah janji, lebih baik kami tuli

 

Dimana Ekor Dimana Kepala

Lempeng besi
Terpanaskan menerima banyak pukulan
Samurai ku harap akhir pedih ini
Tajam, berkilau terangi Negeri
Babat kebodohan mati tebasan samurai
Percikan api terimalah
Peluh bercucuran air mata tak lagi bisa keluar
Tak ada patokan waktu ku mohon bersabarlah
Kayu bakar sedang dikumpulkan
Perih mari kita bagi rata
Aku tiga kau ambillah tiga
Pengertian aku harap, harapan kosong
Pukulan keras tak hanya di lempeng besi
Memukul satu sisi untuk melukai yang lain
Pertikaian dalam hening bersahut-sahutan
Mana kepala mana ekor
Ekor membelit kepala menggigit

 

Rantai, Kapan Kau Putus

Satu lingkar
Utuh bersambung
Kuat dan hebat terlihat bersatu
Satu lingkar kuat bersambung
Mari kita lihat ditail penyusun lingkar indah dalam dunia pendidikan kita
Rantai kokoh banyak warna berbeda
Beda warna tak sama nada
Mereka berkoloni menyuarakan nada terdengar sumbang
Bergandengan kuat, ya mereka satu warna
Beradu saing batas tegas diantara berbeda
Dalam dekat tak lagi mereka kuat
Pecah perang putus lah rantai
Pemakaman mari kita siapkan
Lebar liang kuburkan saja dalam kerukunan
Hidup berseteru, mati damai itu mungkin
Jasat hidup berpura-pura solid
Putuslah rantai bubarlah saja
Menunggu waktu liang siaga

 

Anak Kami

Aku satu ku harap kau tumbuh menjadi seribu
Tanah kering tak dosa memohon subur
Rentetan doa berjajar kuat dan tinggi
Siang malam Tuhan mendengarkan
Lantunan doa merambat menuju langit
Berdaun hijau berakar kuat
Pengharapan indah melihat kau berguna
Siang malam kami memanjatkan
Ribuan kata diawali oleh namamu
Menjadi besarlah keturunan dari kami yang kerdil
Menjadi luas kau yang berasal dari jiwa sempit kami
Mulia tak harus kau berasal dari benih yang terpilih
Hina kami orang tua penuh mimpi
Besok pagi bergegaslah
Tumbuh subur diatas tanah pekuburan orang tuamu

 

Aku Titipkan

Untuk kalian yang berpendidikan
Pemilik tugas mulia penumbuh tunas-tunas muda
Aku tulang pendek perkulit tua
Berakal kerdil,
Utara dan selatan tak tau aku akan beda
Berjalan merangkak kubawa harapanku
Tubuh besar aku semakin kurus
Tetap kuseret langkah meski kau semakin menjauh
Berat beban mereka anak-anakku
Aku yang bersuara lirih
Ajarkan lagu-lagu kebahagian kumohon
Buatlah mereka menyanyi ceria
Ku ingin mendengar mereka bersenandung meski di batas waktu
Lusuh, aku tidak berseragam
Telanjang kaki, aku bahkan tak miliki sepasang sepatu
Kepada kalian yang berpendidikan
Harta ini aku titipkan
Sebatas mimpi milikku aku percayakan

 

Anakku, ABCD

Memejamkan mata tak mampu aku tanpa diantar manismu
Mengakhiri hari lelah aku rangkai mimpi kemabali
Aku pastikan kau aktor utamaku nak
Gagah besar kau anak kecilku
Arungi indah bumi tinggalkan aku sendiri
Tak akan aku ikut langkah cepatmu
Aku yang tua tak akan mampu mengimbangi langka kakimu kuat muda
Jelajahilah tiap jengkal pertiwi
Selalu memelukmu akan menutup aliran telaga ilmu
Berjalanlah jauh nak
Akan kurayu Tuhan dengan memohon memberikan penjagaan
ABCD hanya itu yang dapat kuwariskan
Susunlah cerita indah dari abjad yang mampu aku hafalkan
ABCD jangan hanya kau paham itu seperti diriku

 

Puisi Pendidikan 4 Bait

Puisi Pendidikan

Puisi Pendidikan

Pahlawan Tanpa Lencana

Pagi yang indah deruan angin menerpa wajah
Dingin menyelimuti cara penuh keikhlasan
Renungan cuma untuk sebuah kejayaan
Berfikir cuma untuk sebuah keberhasilan

Tiada lafaz seindah tutur katamu
Tiada penawar seindah senyuman mu
Tiada hari tanpa sebuah bakti
Menabur benih kasih tanpa rasa lelah

Hari demi hari begitu cepat berlalu
Tiada rasa jenuh terpancar di muka mu
Semangat mu tetap berkobar
Memberikan kasih sayang tak ada rasa jemu

Jika engkau bakal melangkah pergi
Ku tau langkahmu penuh pengorbanan
Jika dirimu udah tak ada dirimu kan selamanya di kenang
Kau adalah pahlawan tanpa lencana

 

Guruku

Suci dan iklas bantuan mu
Dari kita buta menjadi tau
Suci dan ikhlas pengorbanan mu
tiada ternilai jasa baik mu

Engkau laksana lampu di dalam kegelapan
Yang menerangi alam kalbuku
Engkau bagaikan angin
Yang selamanya berbisik tentang kebaikan

Namamu selamanya bergelora
Dalam hatiku
Jasa dan benih yang engkau tanam
Kini udah tumbuh bersemi
Terpujilah engkau wahai guruku pahlawan hidupku

 

Guruku Pahlawanku

Andai kata matahari tiada
Dunia bakal beku dan bisu
pelangi tak ada bakal dulu terpancar
kehidupan tak ada bakal dulu terlaksana
Disaat titik ketakutan menghampiri
Terlihat setitik sinar yang kita cari
Yang keluar dari sudut-sudut bibirmu
Dan gerak-gerik tubuhmu
Engkau sinari jalan-jalan kita yang buntu
Yang hampir menjerumuskan jaman sepan kami
Engkau terangi kita bersama lentera ilmu mu
Yang tak ada bakal dulu sirna di terpa angin usia

Guru……..
Engkau pahlawan yang tak dulu mengharapkan balasan
Disaat kita tak mendengarkan mu
Engkau tak dulu mengeluh dan menyerah
Untuk edukatif kami
Darimu kita mengenal banyak hal
Tentang mana warna yang indah
Tentang garis yang harus di lukis
Juga tentang kata yang harus dibaca
Engkau mengakibatkan hidup kita berarti

Guru……
Tiada kata yang pantas kita ucapkan
Selain terimakasih atas seluruh jasa-jasa mu
Maafkan kita seandainya udah membuatmu kecewa
Jasa-jasa mu bakal kita semat abadi sepanjang hidup kami
Terimakasih guruku, engkau pahlawan ku

 

Majulah Terus Siswa Indonesia

Dengar, dengar, dengarlah isi tulisan ini
Hanya kepadamu harapan ku sandangkan
Hanya kepadamu cita- cita dipertaruhkan
Tak tersedia sesuatu yang tak barangkali bagimu

Bangkitlah melawan arus yang tetap mendera
Kuasailah dirimu bersama sikap optimis
Paculah laju kudamu sekencang-kencangnya
Lawanlah bebatuan terjal yang mengusik di jalanan

Ingat, Engkau adalah harapan, engkau adalah jaman depan
Masa depan tersedia di tanganmu
Harapan terpendam tersedia di pundakmu
Nasib bangsa engkau yang menentukan

 

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Pahlawan tanpa tanda jasa
Ialah Guru
Yang edukatif ku
Yang membekali ku ilmu
Dengan tulus dan sabar

Senyummu mengimbuhkan dorongan untuk kami
Menyongsong jaman depan yang lebih baik
Setitik peluhmu

Menandakan sebuah perjuangan yang amat besar
Untuk murid-muridnya
Terima kasih Guru

Perjuanganmu amat artinya bagiku
Tanpamu ku tak bakal mengerti tentang dunia ini
Akan selamanya ku panjatkan doa untukmu
Terimakasih Guruku

 

Pahlawan Pendidikan

Jika dunia kita yang dulu kosong
tak dulu kau isi
Mungkin cuma tersedia warna hampa, gelap
tak sanggup apa-apa, tak sanggup kemana-mana
Tapi kini dunia kita penuh warna
Dengan goresan garis-garis, juga kata
Yang dulu cuma menjadi mimpi
Kini menjadi keluar bukan kembali mimpi

Itu sebab kau yang mengajarkan
Tentang mana warna yang indah
Tentang garis yang harus dilukis
Juga tentang kata yang harus dibaca
Terimakasih guruku dari hatiku
Untuk seluruh pejuang pendidikan

Dengan pendidikanlah kita sanggup memperbaiki bangsa
Dengan pendidikanlah nasib kita sanggup dirubah
Apa yang tak barangkali kau jadikan mungkin
Hanya ucapan terakhir dari mulutku
Di hari pendidikan nasional ini
Gempitakanlah selamanya jiwamu
wahai pejuang pendidikan Indonesia

Nah, itulah beberapa Contoh Puisi Pendidikan yang dapat Anda jadikan sebagai referensi dan juga tugas kalian. Puisi Peniddikan ini meliputi, Puisi Pendidikan Singkat, Puisi Pendidikan Pendek, Puisi Pendidikan Nasional, Puisi Pendidikan Pendek & Singkat. Semoga artikel ini dapat menambah wawasan Anda da juga bisa bermanfaat bagi kita semua.

Puisi Pendidikan

 

Show Comments

No Responses Yet

Leave a Reply